Browse By

Aliansi Unud Darurat Kekerasan Seksual Kritisi Rektor Unud atas Kosongnya Sistem Perlindungan Kekerasan Seksual di Unud

49534

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bali bersama Seruni Bali, BEM PM Unud, KAMU dan KEMAS mendatangi Rektorat Unud pada Rabu (29/12) untuk beraudiensi terkait kasus pelecehan seksual di lingkungan Universitas Udayana. Berdasarkan data yang dihimpun Seruni Bali, BEM PM Unud, dan BEM FH Unud terdapat 73 kasus pelaporan kekerasan seksual yang terduga pelakunya adalah dosen, karyawan/staff, mahasiswa atau masyarakat umum. Oleh karena itu, organ-organ yang tergabung dalam Aliansi Unud Darurat Kekerasan Seksual meminta Rektorat Unud untuk menindaklanjuti laopran ini guna terciptanya sistem pendidikan di Unud yang aman dan bersih dari predator seksual.

Kekerasan seksual di Unud bukan hal tabu lagi di kalangan para sivitas melainkan sudah menjadi hal lumrah dan menjadi rahasia umum. Bahkan hampir di seluruh 13 fakultas terdapat laporan kekerasan seksual dengan pola kekerasan yang beragam. Sayangnya, hingga saat ini, sistem perlindungan kekerasan seksual di Unud masih belum ada. Dan tentunya, para Predator akan lebih leluasa menjaring korban lebih banyak lagi.

“Kami menerima laporan kekerasan seksual dari penyintas dengan pemetaan asal 10 fakultas di Unud. Setelah kami rekapitulasi data laporan, rata-rata korban mengalami pelecehan seksual, perkosaan, intimidasi bernuansa seksual, dan KBGO,” kata Amirah selaku perwakilan Seruni Bali di Rektorat Unud, Rabu (29/12).

Salah satu kasus yang menjadi sorotan adalah kasus yang menimpa CA (Penyintas) oleh terduga pelaku dosen Unud (NW), dimana CA dilecehkan ketika sedang melakukan bimbingan skripsi dirumah terduga pelaku. Berdasarkan pengaduan ke LBH Bali No 0147/DK/LBH-DPR/12/2020, CA mengaku mengalami pelecean seksual pada tahun 2017. Pada waktu itu, terduga pelaku melontarkan pertanyaan seksis seperti “apakah kamu masih perawan?” hingga kemudian melakukan pelecehan secara fisik.

Akibat kejadian itu, CA mengalami trauma psikis yang berat hingga dia tidak berani ke kampus dan belum menyelesaikan skripsinya karena takut bertemu dengan terduga pelaku. CA sudah sempat melaporkan kejadian ini ke pihak dekanat FIB, namun sampai hari ini belum ada tindak lanjut dan tidak ada sanksi kepada terduga pelaku dosen terkait.

“CA adalah mahasiswi Sejarah Fakultas Ilmu Budaya angkatan 2012, dia mengalami kekerasan seksual pada tahun 2016 saat melakukan bimbingan skripsi di rumah terduga pelaku,” ujar Direktur LBH Bali, Ni Kadek Vany Primaliraning saat ditemui di Rektorat Unud, Rabu (29/12).

Menanggapi laporan tersebut, Wakil Rektor IV Bidang Perencanaan, Kerja Sama dan Informasi Universitas Udayana, Prof. IB Wyasa Putra mengatakan akan meneruskan masalah ini dan membahasnya segera bersama jajaran rektor. Wakil Rektor IV bersepakat bahwa masalah ini perlu ditindak lanjuti guna menjaga martabat Universitas Udayana agar tercipta iklim pendidikan yang bebas dan aman dari kekerasan seksual.

“Kami menyampaikan apresiasi kepada LBH Bali karena telah memberikan perhatian kepada martabat Universitas Udayana yang selayaknya kita jaga bersama,” tuturnya. (RD/FH)

Reporter: Riski Dimastio, Mahasiswa FH Unud

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *