Browse By

ALUR BIROKRASI SUSAH, MAHASISWA BERPRESTASI KECEWA

Mahasiswa FISIP yang juga seorang atlet ini, tengah melewati alur birokrasi untuk meminta ijin dispensasi melalui Tata Usaha, Rabu 7 Maret 2018. (Ilustrasi:Laras/Linimassa)

Mahasiswa FISIP yang juga seorang atlet ini, tengah melewati alur birokrasi untuk meminta izin dispensasi melalui Tata Usaha, Rabu 7 Maret 2018. (Ilustrasi:Laras/Linimassa)

PERSLINIMASSA, Denpasar – Prestasi baik dalam bidang akademik maupun non akademik merupakan softskill yang patut untuk dikembangkan dan diapresiasi. Sebagai mahasiswa yang berada dibawah naungan lembaga yaitu fakultas tentu ingin mendapatkan support dan apresiasi yang sepadan. Namun, bagaimana bila mahasiswa berprestasi justru merasa “dipersulit” meminta izin dispensasi untuk mengikuti perlombaan? Hal inilah yang dirasakan oleh sebagian banyak atlet di lingkungan FISIP Universitas Udayana.

Pasalnya, atlet-atlet ini merasa bahwa fakultas seolah-olah kurang mendukung mereka untuk mengikuti perlombaan dengan alur birokrasi yang bisa terbilang kurang jelas. Hal ini menyebabkan atlet-atlet di lingkungan FISIP Universitas Udayana merasa enggan untuk mengajukan dispensasi kepada lembaga karena merasa bahwa birokrasi dalam meminta izin dispensasi ini sangat rumit dan terkesan “dilempar-lempar” dari satu pihak ke pihak lainnya, sehingga proses meminta izin dispensasi ini menjadi memakan banyak waktu. Terlebih lagi, belum ada aturan tertulis mengenai alur serta persyaratan untuk mengajukan permohonan  dispen kepada lembaga. Pengakuan Jasmine (19) salah satu atlet FISIP, setelah melewati birokrasi yang memakan waktu panjang, izin dispensasi yang diberikan terbilang sedikit dan seringkali tidak sesuai dengan jadwal yang telah dilampirkan para atlet.

“Syarat dan alur dispensasi yang rumit membuat saya bingung. Apalagi saya harus mengejar waktu mengurus surat dispensasi agar surat dispensasi yang sudah di setujui oleh dekan dan dibuat oleh TU sampai dan jadi sebelum saya lomba.” Papar Jasmine kecewa.

Wakil Dekan III FISIP Universitas Udayana, Nazrina Suryani mengatakan bahwa dalam meminta izin atau dispensasi untuk mengikuti perlombaan harus memiliki data serta surat yang jelas dari siapa dan apa yang mengadakan dan tidak boleh sembarangan. Hal tersebut dikatakan karena sudah banyak kasus yang terjadi bahwa beberapa mahasiswa meminta izin untuk dispensasi mengikuti berbagai acara yang tidak resmi demi tidak mengikuti jadwal perkuliahan sebagai mana mestinya namun bisa tetap dikatakan hadir di absen dengan alasan dispen tersebut.

Alur dalam permintaan dispensasi disebutkan sebagai berikut, dengan membawa surat permintaan dispen dari luar lembaga ke Dekan, kemudian akan didisposisikan oleh Wakil Dekan III, dan Wakil Dekan III akan memberikan kepada Tata Usaha. Ia juga menekankan pada mahasiswa yang ingin meminta dispensasi bahwa dalam perkuliahan memiliki kontrak dengan dosen-dosen pengampu tiap mata kuliah bahwa absen maksimal memiliki kehadiran 75% selebihnya maka tidak boleh mengikuti UTS ataupun UAS.

Rumitnya alur dispensasi serta dibatasinya hari dispensasi tersebut membuat atlet menjadi merasa kehilangan support oleh pihak kampus yang menyebabkan mereka enggan untuk memberikan hasil prestasinya pada lembaga. Hal itu diungkapkan oleh salah satu atlet FISIP, Yoga yang saat ini tengah menempuh semester 6. Ia menyayangkan bahwa surat yang ia ajukan sudah resmi tapi masih saja kerap tidak mendapat sambutan hangat. Dukungan belum tampak nyata.

Nazrina Suryani menambahkan, bahwa mahasiswa berprestasi atau atlet yang ingin mengajukan permohonan dispen harus memiliki kecerdasan dalam berkomunikasi dan kecerdasan dalam mengontrol emosi dan menjelaskan bahwa lembaga tidak bermaksud untuk membatasi tetapi karena mahasiswa belum menjelaskan tujuan dispen tersebut dengan baik. Ia juga menginginkan mahasiswa untuk tidak merasa kecewa serta enggan untuk mengajukan permohonan dispensasi karena hal-hal yang kurang berkenan sebelumnya terjadi akibat dari kurangnya penjelasan serta komunikasi yang baik antara pihak mahasiswa dengan fakultas.

Penulis : Jistha, Laras.

Editor : Fina Pradnyani

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *