Browse By

Balian Sonteng : Komunikasi dengan Alam Gaib atau Mukjizat?

Mayahin : Merupakan ritual yang dilakukan selepas ritual meluasin. Ritual ini dipimpin oleh balian sonteng sebagai perantara penyampai pesan kepada alam lain.

Mayahin : Merupakan ritual yang dilakukan selepas ritual meluasin. Ritual ini dipimpin oleh balian sonteng sebagai perantara penyampai pesan kepada alam lain.

Melakoni sebuah profesi memang memerlukan keteguhan dan keikhlasan dalam menjalaninya, Ya, pemikiran inilah yang melatarbelakangi I Gusti Putu Oka untuk menggeluti profesinya ini. Berbekal konsep ngayah dan ngiring sesuunan (baca: leluhur), Ngurah Oka pun tak segan menanggalkan jabatan Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang tengah disandangnya 39 tahun silam dan memilih menjadi seorang balian.

“Kala itu semua anggota keluarga saya mengalami sakit yang tak kunjung sembuh, saat ditanyakan pada orang pintar, dalam keyakinan keluarga harus ada yang mengikuti jejak nenek moyang. Ya, beginilah, menjadi seorang balian,” tutur Ngurah Oka saat ditemui di kediamannya di daerah Batubulan, Gianyar.

Sebagai seorang balian dirinya mengaku memiliki berbagai keahlian dari mengobati orang hingga nyonteng atau kerap dianggap sebagai jembatan penghubung antar alam manusia dengan leluhurnya. Tak jarang orang mendatanginya untuk mengobati penyakit, menerawang masa depan hingga meluasang.

Meluasang, dalam kepercayaan Hindu Bali dianggap sebagai ritual untuk berkomunikasi dengan alam leluhur. Mau tak mau Ngurah Oka harus bersinggungan dengan alam gaib untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Menurutnya alam gaib itu tak ubahnya gelombang-gelombang energi yang bertebaran di alam semesta. Gelombang energi itulah yang dimanfaatkan dalam proses meluasang ini dan tak urung digunakan dalam mengobati penyakit manusia.

Lain lagi dengan menyembuhkan penyakit misalnya, Ngurah Oka sempat terheran-heran dengan resep-resep obat yang dilontarkanya kepada orang yang mendatanginya. “Entah darimana datangnya pikiran tentang obat yang harus saya berikan, tiba-tiba saja sudah saya ucapkan,” pungkas laki-laki berperawakan tinggi ini.

Menjadi balian memang tak semudah membalikkan telapak tangan, Memang, profesi balian yang kini disandangnya bersumber dari tali keturunan yang telah terjalin. Meskipun sudah mewarisi amanah tersebut, Ngurah Oka masih harus berkutat dengan lontar-lontar peninggalan leluhur terdahulunya.

Perasaan senang membanjiri laki-laki yang gemar bermeditasi ini ketika orang-orang yang mendatanginya mampu terlepas dari permasalahan yang membelenggu. Ngurah Oka tak pernah mematok bayaran ataupun menyaratkan sesajian khusus saat melakukan ritual pengobatan ataupun sejenisnya. Baginya, profesi ini adalah sebuah seni yang digemarinya.

Sebuah Seni berkomunikasi

Hal senada juga disampaikan oleh I Gusti Ngurah Pertu Agung, seorang pengamat spiritual asal Gianyar. Menurutnya balian merupakan sebuah seni berkomunikasi, “Balian sangat komunikatif, selain bisa berkomunikasi dalam dunia nyata, profesi ini juga menuntut seseorang untuk bisa berkomunikasi dengan alam gaib,” tegas dosen IHDN Denpasar ini.

Balian sonteng misalnya, selain bermain dengan emosi dan sugesti, ia juga memperoleh kepercayaan dari pasienya. Sebab ritual yang dilakukan sifatnya non-logis maka sosok balian harus mampu mempersuasi dan meyakinkan pasienya.

Menjadi balian sonteng ataupun balian pada umumnya tak muluk-muluk harus berlatarbelakang dari keturunan balian. Sebab, memang ada sastra yang memaparkan ilmu-ilmu untuk diterapkan menjadi balian. Karena itu sebuah sastra, maka sifatnya tak terbatas, siapapun boleh mempelajarinya. Hanya saja akan berbeda dari segi aura, orang belatar belakang keturunan akan memiliki aura yang lebih dan bisa diperkuat lagi. Aura inilah yang akan membantu balian dalam menyakinkan pasienya.

Eksistensi balian juga tak lepas dari karakteristik orang bali yang percaya dengan keberadaan alam lain. “Balian adalah bentuk solusi ketika manusia tidak mampu lagi melogiskan penyelesain masalah, mereka memerlukan sesuatu di luar logika mereka,” terang Ngurah Pertu

Fenomena tersebut juga dialami oleh I Made Sujaya, laki-laki yang berprofesi sebagai operator alat berat ini menyatakan dirinya menggunakan jasa balian saat penyakitnya tidak dapat disembuhkan oleh dokter. Lain halnya dengan penjual banten ini, Ni Nengah Ngawit yang menggunakan jasa balian sonteng untuk berkomunikasi dengan almarhum ibunya sebelum upacara ngaben. “Ritual meluasang wajib dilakukan sebelum ngaben sebab saya tidak tau ‘hutang’ di alam sana yang dimiliki oleh ibu saya,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, di Daerah Rendang, Karangasem.

Sebagai sebuah solusi alternatif, balian menjadi harapan tersendiri bagi orang-orang yang menggunakan jasanya. Terlepas dari hal-hal yang kadang dianggap tidak logis, profesi ini memiliki sebuah seni dalam menjalankan profesinya. Faktor keturunan juga menjadi gairah tersendiri dalam melakoni profesi sebagai balian. (Tasya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *