Browse By

Bangun Transparansi Melalui Pers Desa

Redaktur Pers Desa Pejeng, Dewa Putu Suamba tengah membuka web Desa Pejeng dan menunjukkan berita yang telah diunggah bertempat di Desa Pejeng, Tampaksiring, Gianyar, Bali, Selasa (09/05/17) (Santika)

Redaktur Pers Desa Pejeng, Dewa Putu Suamba tengah membuka web Desa Pejeng dan menunjukkan berita yang telah diunggah bertempat di Desa Pejeng, Tampaksiring, Gianyar, Bali, Selasa (09/05/17) (Santika)

Bergulirnya era reformasi membawa angin segar bagi pers di Indonesia. Pers saat ini tidak hanya ada dikalangan publik seperti di televisi, di media cetak ataupun pers mahasiswa. Namun belakangan muncul pers desa yang membawa warna baru bagi dunia pers di Indonesia khususnya Bali yang pertama kali didirikan di Desa Pejeng. Pers desa yang dimiliki oleh Desa Pejeng, Tampaksiring, Gianyar, Bali ini dibangun pada tahun 2014 lalu oleh Dewa Putu Suamba dan Kepala Desa Pejeng bersama dengan salah satu LSM di Bali yaitu Lite Institute. Memberikan ruang kepada anak-anak muda dalam berpendapat dan membangun transparansi desa merupakan tujuan utama didirikan pers ini.

“Pertama, memberi ruang pada anak-anak muda untuk peduli kepada pembangunan desanya. Cara paling mudah itu adalah mengajak mereka untuk berpendapat dulu, nah dari mereka muda harus diajak berpartisipasi. Yang kedua, kita membangun transparansi desa karena kan Desa Pejeng ini milik seluruh warga Pejeng,” ujar Cokorda Gede Agung Kusuma Yuda selaku Kepala Desa Pejeng.

Pada awal berdiri, pers Desa Pejeng memiliki anggota sebanyak 15 orang. Namun, kini telah menyusut menjadi enam orang karena tuntutan pekerjaan dan pendidikan di luar daerah. Dalam penerimaan anggota pers, tidak ada syarat khusus yang harus dipenuhi. Sebelum terjun ke lapangan untuk menulis berita, anggota pers yang berasal dari karang taruna Desa Pejeng dilatih selama tiga bulan. Yakni dari Bulan Januari sampai dengan Bulan Maret oleh lembaga pengembangan media, jurnalisme dan informasi yaitu Sloka Institute. Selanjutnya, setiap dua minggu sekali anggota bersama dengan redaktur melakukan pertemuan. Dengan agenda membicarakan proyeksi dan mengulas kembali tulisan serta berbagi pengetahuan tentang jurnalistik.

“Sebelum saya menjadi anggota pers, tentunya ada pelatihan yang diselenggarakan kurang lebih tiga bulan, kalau gak salah itu dari Januari, Februari, dan Maret. Pelatihannya diselenggarakan di Pejeng dan mendatangkan jurnalis ternama seperti Sloka Institute. Nah selanjutnya kita sudah bisa menulis di web Desa Pejeng,” ungkap Anak Agung Gede Oka Santika salah satu anggota Pers Desa Pejeng.

Pers yang dibentuk sejak tiga tahun lalu ini tidak memiliki sistem yang mengikat untuk para anggotanya. Setiap anggota yang ingin menulis diberikan kebebasan untuk mengambil topik berita apapun, asalkan masih berkaitan dengan Desa Pejeng. Setelah itu berita diserahkan pada redaktur dalam tim redaksi untuk diedit dan diunggah ke web Desa Pejeng. Dalam pers ini setiap anggotanya ditekankan untuk menulis berita yang akurat dan berdasarkan fakta-fakta yang  ada di lapangan, serta selalu melakukan verifikasi pada narasumber.

“Tidak ada sistem yang mengikat, setelah tiga bulan pelatihan kan mereka sudah tau dasar-dasar menulis, jadi kalau mereka ada tulisan mereka kirim lewat email, nanti saya edit sedikit lalu saya unggah ke web. Nah kesempatan meperbaiki tulisan itu ada juga saat pertemuan dua kali seminggu itu,” ujar Dewa Putu Suamba sebagai Redaktur dalam Pers Desa Pejeng.

Berita yang diunggah ke web Desa Pejeng tidak hanya berupa tulisan saja, namun bagi pemuda yang memiliki hobi fotografi dan tergabung dalam Komunitas Galang Sanja Desa Pejeng juga ikut berkontribusi dalam pers desa yang nanti karya-karya fotonya ditayangkan di web desa. Saat ini pers Desa Pejeng hanya menyoroti peristiwa-peristiwa yang ada di Desa Pejeng saja, tidak hanya potensi yang ada di Desa Pejeng namun juga kekurangan-kekurangan yang ada di desa. Pers Desa Pejeng kini dijadikan wacthdog (pemantau) oleh desa dalam melaksanakan pembangunan desa dan transparansi desa. Setiap berita mengenai Desa Pejeng bisa di akses oleh warga di pejeng.desa.id.

“Pers ini dapat menumbuhkan rasa cinta pada Desa Pejeng, tempo lalu saat rapat pengguna anggaran dana, hasilnya langsung diunggah ke web desa. Gak cuman potensi desa saja yang dimuat, tapi kritik-kritik dari warga tentang fasilitas umum yang rusak seperti jalan dan lainnya ditulis teman-teman di web dan dibaca sama kepala desa dan segera ditindak lanjuti,” pungkas Dewa Putu Suamba.

Pers Desa Pejeng kini sudah terdengar di luar daerah Bali dan sudah mendapatkan berbagai kunjungan dari lembaga-lembaga penting di pemerintahan. Salah satunya adalah kunjungan dari Biro Humas Komisi Pemberantasan Korupsi Indonesia. Mustika yang merupakan warga Pejeng sudah mengetahui keberadaan pers ini, dan merasa sangat terbantu saat ingin mengetahui informasi upacara agama di Desa Pejeng. Sementara Asmariani yang berasal dari Pejeng Kelod masih belum mengetahui keberadaan Pers Desa Pejeng ini, dan Dewi yang berasal dari Belusung, Pejeng Kaja mengatakan pernah mendengar adanya Pers Desa Pejeng namun tidak mengetahui betul. (Santika)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *