Browse By

Baper

 Oleh: I Wayan  Etong  Sanjay Wikrama

Ilustrasi http://unfrazzledcare.com/

Jelas  pastinya  aku  tidak  tau.  Kapan  aku  mulai  menyukainya.  Waktu  itu  tak  terpikirkan  oleh  ku  untuk  menaruh  detak  jantungku padanya. Aku akui tampak dari luar wajah perempuan itu enak dipandang, cerdas, dan cara bertutur katanya begitu mengalir. Dengan rambut sebahu, perawakan ramping  siapun pasti tertarik olehnya. Tapi boro-boro nyari perhatianya untuk mendekat saja nyaliku sudah keperas duluan. Selain itu aku juga pernah komitmen untuk tidak jatuh hati sebelum aku menjadi orang berguna dan dipercaya oleh saudra-saudaraku, orang tuaku, tetangga-tetanggaku, teman-temanku, dan semua orang-orang di desaku yang kira jumlahnya seribuan jiwa lebih. Iya itu komitmen yang muncul dalam pikiranku ketika terbaring di ranjang sambil menunggu seceplok kuning telur dari arah timur, yang beberapa jam sebelum itu terhipnotis oleh  orang tua pengisi salah satu acara stasiun TV.  Orang tua itu berkata  wanita dan pria jadilah sukses maka cinta sejati akan datang padamu  kurang lebih begitulah yang dia katakan.

Tapi itu hanyalah pikiran sepintas tak ubah bagai angin lalu, yang bisa menghilang dan muncul secara tiba-tiba kapan saja yang dia mau. Iya sebelum komitmen itu muncul, aku memang selalu tidak beruntung dalam cinta. Meskipun tidak pernah beruntung dalam cinta, tapi aku bisa dikatakan lebih beruntung dari temanku karena aku pernah mempunyai hubungan dengan beberapa wanita. Meskipun itu selalu kandas ketika mulai menginjak minggu ke empat. Kelemahanku dalam  soal  cinta  adalah aku bukan orang yang romantis, tidak suka ribet, ingin bebas, dan tidak suka diatur berlebihan. Nah, itu aku dapat dan aku sadari dari postingan dalam sebuah medsos, yang selalu memposting sifat dan watak golongan darah A, B, O, AB. Aku lebih percaya postingan golongan darah dari pada bintang-bintang yang tidak pernah jelas isinya yang selalu hadir terpampang dalam beberapa media cetak setiap hari Minggu.

Malam  itu,  seperti  biasa sehabis  mandi  aku  ambil  ponselku  yang tadinya  aku  taruh  begitu  saja  diranjang.  Aku  liat  update-tan  status  teman-teman dalam medsos. Aku  pun  mengomentari  sebuah  status anak  perempuan  yang  mungkin  saat  itu  ia  sedang  dilanda  kebosanan. Anak  perempuan  inilah  yang  akan  membuatku  seperti   orang  gila  yang  selalu  mengucek-ucek  dan  menjambak  rambut  sendiri.

“Pasti  lagi  gak  ada  kerjaan kan?”  komentarku  distatusnya.

“Hahahaha  tau  aja,”  balasnya singkat.

“Iya  dikarenakan  dirimu  single,  instingku  jalan  jadinya wkwkwkw,”  jawabku  sambil  cekikikan,  setengah  tak  percaya  aku  berani  nulis komentar  seperti  itu.

“Uuussttt  jangan bawa-bawa  status  malu  hahahaha” lanjut perempuan itu mengomentari.

“Wkwkwk okok, tapi  menurutmu  status  itu  apa  sih?”  tanyaku  kembali.

Tapi  setalah  komentar  terakhir  ini, aku  nunggu  cukup lama  ternyata  tidak  ada  jawaban keluar  darinya. 

“Yahhhh  elah  gak  dibales,” gumanku  dalam  hati.

Aku  pun   beranjak  dari  ranjang  untuk  menonton  TV  serial  kegemaran dan tidak  menghiraukan  ponselku  lagi.  Selesai  serial  TV  itu,  aku  tengok  kembali  isi  ponsel  ku.  Tanpa  diduga  perempuan   tadi   yang  aku  komentari  statusnya  dia  mengirim  pesan  pribadi  pada  aku.  Melonjak  gembiranya  diriku  malam  itu  tak  tertahankan.  Aku  merasakan  ada  spirit  yang  berbeda  secara  tiba-tiba  muncul  dalam  diriku.  Malam  itu   seperti  malam  yang  paling  indah   yang  pernah  kurasakan.  Bagaimana tidak,  perempuan  sekelas  dia  ngirim  pesan  pribadi  pada aku brooo, setelah  aku  berkomentar  di-posting-an  statusnya, yang  munurut ekspetasiku dia itu  sangat  susah  didekati. Tapi realitanya  sangat  jauh  dari  ekspetasiku.  Seorang  teman pernah  mengatakan  padaku, dia  itu  seperti  mutiara  yang  lebih  berkualitas  diantara  mutiara berkualitas  lainya. Teman  itu  menyarankan  aku  untuk  mencangkul  lebih  dalam.  Seperti  nyanyian  masa  kecil  dulu.

“Cangkul, cangkul, cangkul  yang  dalam,  cangkul  yang  dalam  dikebun  kita. . .”  gurih    suara  mulut  temanku    bernyanyi,  sambil  terkehkeh  tertawa.

Dia  menanyakan  mengenai  program  kerja  HMJ (himpunan  mahasiswa jurusan) yang  aku  ikuti.  Kebetulan  perempuan  ini  berada  dalam  satu  fakultas  denganku.  Katanya  dia  mau  ikut  serta  dalam  salah  satu  program  itu,  untuk  dijadikanya  berita. 

Dia  pun  menanyakan   banyak   hal  tentang  salah   satu  program  HMJ di  jurusanku yang  menarik  perhatianya.  Dia  bertanya  banyak  hal  dan  aku  ladeni  dengan  hati  yang  bergetar.  Sampai-sampai  apa  yang  kita  bicarakan  itu   nglantur  kemana-kemana.  Hal   itu  berlangsung  beberapa  hari   yang  tak  lebih  dari   seminggu.

Dari  itu  aku  tak  menyadari, bahwa  aku  tak  sengaja telah  mempersepsikan  dirinya  dalam  diriku.  BAPER  (bawa  perasaan)  begitulah  anak  muda  zaman sekarang  mengatakanya. Iya   aku  sendiri  juga  merasa   demikian.  Tak  ku  hitung  sejak  saling  berkirim  pesan  dengannya  aku  sudah  update  status  beberapa  kali,  untuk  menunjukan  ketertarikan  ku  padanya.  Namun  hal  itu  tidaklah  berbuah  manis, seperti  yang  aku  harapkan. Setelah  beberapa   hari  saling  berkirim  pesan  melalui  medsos,  dia  hanya  membaca pesan yang ku kirim  tanpa  balasan, itu  aku  ketahui  dari lambang r  yang  terlihat  pada  pesan  yang  aku  kirim,  dan  itu  membuatku  seketika  tak  berdaya.  Seakan-akan   dunia   tak  peduli  lagi  denganku.  Sakit  tanpa   ada  luka  yang  aku rasakan.  Aku  tidak  mengerti  mengapa  hal  ini  bisa  terjadi,  padahal  aku  bukan  siapa-siapanya.  Setiap   membuka   kembali  pesan  yang  tak   ada   balasannnya  itu,  kepalaku  terasa   panas  dan  bingung  sendiri  untuk  melakukan  sesuatu.  setiap  malam  tiba   aku   sering  menjambak-jambak   rambutku   sendiri.

“Ohhh  god. . .  rasa   apa   yang  kau  berikan  saat  ini  padaku,”    hatiku   sering  berucap    demikian.   Seakan  aku  tak  menerima   apa   yang  aku  rasakan.   

Memang  dari  luar   aku   terlihat   seolah-olah  tidak   terjadi  apa-apa.  Raut  wajahku  pun  tak  menggambarkan  sebuah  kesedihan  atau  kekecewaan.  Tapi  apa   yang   hatiku   rasakan   itu   seperti  sakit  tanpa  luka.  Benar  seperti  apa   yang  dikatakan  Cut  Pat  Kay  dalam  film  Sung  Go  Kong.  Cinta  adalah  penderitaan,  deritanya  tiada  akhir. Sungguh  kata-kata  yang  mengena  untukku  saat  ini. 

Namun   beberapa  hari  kemudian  aku  curhat  dengan  seorang  teman  wanita  banyak  hal  yang  aku  bicarakan  padanya.  Dari  saat itu   aku  intropeksi   diri,  belajar  pada   diri  sendiri.  Aku  pun  menjadi  memahami  sesuatu   dari  itu.  Bahwa  ketika   kita   mepersepsikan  diri   orang   lain   dalam  diri  sendiri,  maka   efek  yang  diberikan,  pertama  gembira,  jika  diri  orang  lain  itu   merasakan  hal  yang  sama  pada  diri  kita,  kedua   sedih,   ketika   diri  orang   lain  berseberangan  dengan  diri  kita.

Aku  pun  mulai   mundur   darinya   secara  pelan-pelan,  tapi  aku  tak  kan  pernah  menghilang  darinya tapi  tetap  biar  waktu  yang  menjawabnya  nanti  apa  aku  akan  lanjut mengejarnya  atau  tidak.  Karena  aku  kepikiran  juga   Sang  Rama   sendiri  sudah   memberikan  cerminan   bahwa   cinta  itu  harus   diperjuangkan.  Sang  Rama   yang  istrinya  Sitta  diculik  Rahwana,  jika  Sang  Rama   mau  gampang  sekali  untuk mendapatkan  Sitta  kembali,  itu pasti  jelas   Sang  Rama  sindiri  adalah   seorang  titisan  Wisnu  penguasa   alam  semesta,  toh  juga  dia   tetap   mencari  Sitta  dengan  mengikuti  proses  dan  memerlukan  pengorbanan  juga. Jadi  aku   juga   harus tetap  berjuang,  karena   hanya   perempuan  itulah  yang  kurasakan  dari  pertama   kali  pernah  menjalin  cinta,  membuatku  seperti  orang  gila.  Filsuf  Decrates  berkata  aku  berpikir  maka  aku  ada,  tapi  bagiku  aku   memikirkanmu  maka   aku   ada.  

(September-Oktober 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *