Browse By

Berlandaskan Tri Hita Karana Desa Padangtegal Bangun Rumah Kompos

Untitled-1

Petugas Rumah Kompos saat mengangkut sampah dari rumah warga di Desa Padangtegal Ubud, Minggu(11/12/2016).

Bali yang kerap dijuluki sebagai pulau dewata identik dengan konsep Tri Hita Karana, Tri Hita Karana merupakan sebuah konsep tentang bagaimana hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan lingkunganya. Untuk mengimplementasikan konsep itu, Desa Pakraman Padangtegal Ubud membangun sebuah rumah pengolahan sampah yang bernama Rumah Kompos. Rumah kompos yang diharapakan dapat menata kembali lingkungan Desa Padangtegal Ubud ini dibangun sejak tahun 2012 lalu oleh Bendesa Adat Desa Pakaraman Padangtegal bersama dengan Bapak Supardi Asmoro Bangun yang kini menjabat sebagai Manajer Rumah Kompos.

“Rumah Kompos ini adalah implementasi dari tujuan kami untuk menata lingkungan karena kita di desa kan punya konsep pembangunan yang berlandaskan Tri Hita karana” Ujar Made Gandra selaku Bendesa Adat Pekraman Padangtegal

Rumah Kompos memiliki sekitar 33 pekerja dan empat armada, empat aramada beroprasi pada pagi hari pukul 04.00 wita dan satu armada kembali beroprasi pada malam hari pada pukul 22.00 wita. Kunci dari program rumah kompos adalah pemilahan, setiap warga dan pengusaha yang ada di sekitar Padangtegal diwajibkan untuk memilah sampah yang mereka hasilkan. Desa Padangtegal sendiri telah mendistribusikan dua tong sampah untuk setiap keluarga, satu tong sampah khusus untuk sampah organik dan satu lagi khusus untuk sampah non organik. Supardi selaku manager rumah kompos mengatakan, sampah akan berguna jika sampah itu dipilah.

“Pemerintah sendiri tidak menerapkan pemilahan itu, andaikan sampah-sampah itu dipilah, TPA ngga akan membludak, kalau sampah-sampah sudah dipilah kan punya nilai guna,” ujar Supardi dengan tegas.

Pada saat mengangkut sampah petugas rumah kompos kembali memilah sampah warga, di truk sampah yang digunakan untuk membawa sampah juga berisi pembatas agar sampah tidak tercampur. Sembari memilah sampah petugas juga melakukan sistem penilaian terhadap pemilahan sampah warga.

“Di sini ada sistem penilaian setiap jalurnya. Yang megang penilaiannya itu sopir di depan, kalo yang pemilahan sampahnya jelek, bilang jelek. Kalo bagus, bilang bagus,” kata Ardana salah satu petugas rumah kompos.

Untuk mendisiplinkan warga dan perusahaan dalam memilah sampah, rumah kompos memberikan penghargaan setiap tahunya kepada warga dan pengusaha yang memilah sampahnya dengan baik. Biasanya penghargaan ini diberikan pada hari lingkungan hidup, untuk warga yang dianggap kurang dalam memilah sampah juga diumumkan pada saat itu.

Sampah organik yang didapat dari pemilahan akan dibawa ke TPA Temesi untuk diolah menjadi kompos. Untuk sampah residu akan dibuang di Temesi, dan untuk sampah non-organik yang masih memiliki nilai guna kan dijual kembali. Saat ini rumah kompos hanya beroperasi di sekitaran Desa Padangtegal saja.

“Kami masih belum ada rencana untuk membuat di desa lain. Tapi kami akan membantu desa lain, kalo ada desa yang ingin belajar cara pengolahan sampah untuk diadopsi di desanya,” ungkap Made Gandra.

Adanya rumah kompos ini membuat Desa Padangtegal mendapat penghargaan sebagai Desa dengan Manajemen terbersih pada tahun 2015. Ketut yang merupakan warga asli padang tegal sangat merasakan manfaat adanya rumah kompos ini, ia mengatakan semenjak ada rumah kompos lingkungan semakin bersih dan tertata. Sementara itu Ratih yang merupakan pekerja di salah satu toko di Padangtegal asal Tampaksiring mengaku masih belum mengetahui program rumah kompos ini. Sedangkan Adi yang menjadi warga asli Ubud mengetahui lokasi rumah kompos namun tidak mengetahui fungsi dari rumah kompos ini. (Santika)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *