Browse By

Berteman dengan Memedi : Kisah Mantok dan Memedi Art Center

Oleh: Desak Made Yunda Ariesta*

 Ilustrasi oleh Eka Dharma

“Berjalan pelan menerobos lebatnya Tegal Art Center mencari jamur. Langkah saya terhenti di dekat Pohon Juwet yang dikenal angker. Bulu kuduk terasa merinding, perasaan saya seolah berkata untuk segera pergi dari tempat itu, tapi ah…saya tetap jalan saja. “Mantok, lari!” terikan Made, teman yang saya ajak berburu jamur memecah keheningan. Made sudah lari, tapi saya masih diam tengok kanan kiri mencari sebab Made lari. Ternyata, sekelibat bayangan puluhan anak bergerombol berlari ke arah saya. Saya tertawan” tutur Mantok mengenang kejadian 41 tahun lalu.

 

Begitulah ingatan I Ketut Mantok mengenang masa lalunya. Usianya memang hampir setengah abad, namun detail demi detail kisah pertemuan, pertemanan hingga berusaha pergi dari kejaran memedi susah untuk ia lupakan.

Kembali menyambung kisahnya, setelah berhasil lolos dari tawanan memedi di Tegal Art Center, Ayah dua anak ini tak pernah menyangka akan mengalami kejadian yang sama kembali.

“Saat itu tepat pukul 12.00. Made mencari saya ke rumah mengajak mandi di sungai yang berada di kawasan Art Center,” tutur Mantok. Sesampai di sana Mantok dengan gembira mandi sambil bermain air. Tapi sejurus kemudian, tak tahu datang darimana di sungai tersebut tiba-tiba ada puluhan anak yang mandi.

“Saat itu saya merasa seperti kehilangan kesadaran. Saya tak sadar akan kehadiran mereka secara tiba-tiba. Bahkan, saya ikut bermain dengan mereka, saling gulat, bermain air ” tuturnya. Sedang asik bercanda, tiba-tiba gerobolan anak tersebut menghilang dari pandangan Mantok.

 

Disanalah ia baru sadar, kejadian yang dia alami benar-benar aneh.

Dua kejadian yang dialami dalam berdekatan tersebut, membawa hal berbeda di hidup Mantok. Semenjak itu, Mantok sering masuk ke dalam dunia yang dirasanya bukan dunia nyata. Di sana Mantok diajak bermain, dan juga diiming-im-ingi berbagai hal.

“Sampai-sampai orang tua saya terbiasa anaknya menghilang tiga hari sampai satu minggu,” imbuh Mantok. Pria kelahiran 20 November 1965 ini menuturkan Di dunia memedi sangatlah berbeda dengan dunia nyata. “Hal yang paling buruk di dunia nyata adalah hal yang paling bagus di dunia memedi,” ungkapnya. Komunikasi dengan bahasa tidak ia temui di sana, melainkan komunikasi dilakukan dengan telepati, “Yang pasti apa yang ia mau, kita pasti tahu,” pungkasnya

Awalnya Mantok amat nyaman di sana, ia selalu merasa bahagia di dunia lelembut itu, karena selalu diberikan berbagai hal yang membuatnya senang. Segala yang diinginkan dan disukainya semasa kanak-kanak dulu dapat dengan mudah ia miliki. Seperti makanan yang lezat, emas dan berbagi berlian, pakaian serta mainan yang sangat bagus.

Sepuluh tahun ia menjalani kehidupan itu. Waktu bergulir, Mantok mulai merasakan ketidaknyamanan. “Saat saya sedang asik main sama teman, tiba-tiba saya ditarik ke dunia mereka dan dipaksa menemani mereka bermain. Tapi ketika mereka telah bosan mereka langsung pergi, membuang saya begitu saja, hal tersebut terjadi berulang-ulang,” tuturnya,

Tidak hanya itu, sekeluarnya dari dunia memedi ia merasa tenaganya habis terkuras, ia lebih sering menghabiskan waktu untuk bengong. “Saya juga jadi jarang mandi dan lupa sembahyang,” aku Mantok

Keluh kesahnya ia pendam sendiri, sampai akhirnya terjadi konflik batin pada diri Mantok. “Akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari kejaran memedi,” Mantok mulai merevolusi dirinya. Rasa takutnya pada air, ia lawan dengan mandi berlama-lama. Sembahyang yang telah lama ia tinggalkan, ia mulai kembali.

Usaha Mantok berbuah manis, “Semenjak saya rutin sembahyang memedi mulai jarang menculik saya, ia hanya berani melihat saya dari jauh. Sesekali mendekat, tapi ketika saya ketebin (hentakan kaki) mereka lari,” tuturnya seraya tersenyum simpul. 

 

Memedi, Roh Mati Salah Pati

Sebagian orang yang meyakini di balik pandangan kasat mata terdapat dimensi berbeda tempat hidup dari para mahluk berbadan halus. Sering disebut hantu, genderuwo, jin, kuntilanak, dan lain sebagainya. Bahkan disetiap daerah mempunyai nama-nama khas dari setiap mahluk ini. Salah satu fenomena yang sering kita dengar di masyarakat berkenaan dengan mahluk berbadan halus ini yakni interaksi antara memedi dengan manusia. Dalam istilah bali disebut mekantenan ajak memedi. Namun banyak di antara kita yang tidak tahu dan bahkan meragukan keberadaannya. 

Seorang penekun spiritual, I Gusti Ketut Suwela menuturkan mahluk berbadan halus berasal dari manusia yang mati akibat salah pati atau ulah pati. “Badan manusia terdiri dari tiga lapisan yaitu badan kasar, halus atau badan energi serta Atman,” tutur Gusti Suwela. Ia menambahkan dari ketiga lapisan itu, badan halus yang tersusun dari energi hidup ini tidak akan bisa mati. “Energi itu kekal, sehingga walaupun manusia telah disebut mati, badan halus ini tetap bisa hidup. Inilah yang disebut roh,” ungkapnya lanjut.

Roh manusia yang meninggal akibat salah pati atau ulah pati seperti dibunuh, gantung diri, dimutilasi bila masih tetap terikat oleh penderitaan semasa hidup, roh roh tersebut akan gentayangan dan mendiami tempat-tempat tertentu seperti pohon besar, sungai, atau semak-semak. Kepercayaan masyarakat Bali roh yang tinggal di semak-semak atau pohon besar inilah disebut memedi.

Gusti Suwela melanjutkan penuturannya bahwa memedi merupakan mahluk yang gemar bermain. Sehingga kadangkala ia mengajak manusia untuk untuk ikut masuk kedunianya dan diajak bermain. Manusia yang mampu berinteraksi dengan memedipun tidak sembarang manusia. “Bila frekuensi gelombang energi yang dimiliki oleh seseorang sama dengan frekuensi yang dipancarkan memedi, maka akan terjadi peristiwa tarik menarik. Hal inilah yang menyebabkan ada istilah mekantenan ajak memedi,” ungkap penekun spiritual asal Klungkung ini. Memedi secara tidak langsung akan menanamkan jasa kepada orang yang ia senangi. Dengan begitu orang tersebut akan merasa berhutang budi dan menuruti kemauan si memedi.

Gusti Suwela menambahkan, tempat yang paling disukai memedi antaranya kandang sapi atau kuda, kayu santep, juwet, ulatip dan kawasan yang dipenuhi ambengan. Dalam dunia memedi, tempat-tempat tersebut merupakan taman tempat nongkrong dari mahluk astral sejenis memedi.

 

Juan Tinjah, Usir Memedi

Rumah yang dekat sungai, tegalan, dan pohon besar kerap membawa ketakutan. Apalagi lokasi tersebut dipercaya angker, tentu saja menggangu kenyamanan si empunya rumah. Apabila rumah anda dekat dengan lokasi tersebut dan sering merasa ada tanda-tanda gangguan oleh memedi atau mahluk yang disemut lelembut ini. Gusti Suwela membagi cara mengantisipasinya.

Ia menyarankan agar rumah-rumah yang dekat dengan lokasi tersebut, menyimpan sebuah Juan Tinjah (papah daun kelapa yang diujungnya masih tersisa sedikit daun) dan meletakkannya di pekarangan rumah. Memedi dan jenis lelembut sejenisnya amat takut dengan benda ini.

 

*Mahasiswi Program Studi Ilmu Komunikasi,

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,

Universitas Udayana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *