Browse By

Category Archives: OPINI

Literasi

Menggugat Gairah Literasi Kita

Oleh Dewi Widyastuti*   Ilustrasi: www.cincinati.com Masih terngiang dalam benak, pernyataan UNESCO tahun 2012 mengenai indeks baca masyarakat Indonesia yang hanya 0,001 persen. Persentase itu berarti, dari 1000 penduduk Indonesia, hanya satu orang yang membaca. Bilapun angka itu kini berubah, tampaknya tak begitu signifikan. Rendahnya indeks

1445591838716

PEMIMPIN GOLPUT

Oleh Etong Sanjay* Ilustrasi Oleh Eka Dharma Golongan putih atau sering disebut golput dalam pemilihan umum ataupun pilkada sangat sering kita dengar. Golput berarti tidak memilih, tidak memilih ini juga berarti tidak datang ke TPS atau datang ke TPS tapi pilihanya tidak sah. Negara kita

favicon

Tanggapan Penulis: Sebuah Kehilangan

*oleh Rai Sukmaning Wahyu (Tanggapan untuk M. Zaenal Arifin)   Mulanya tulisan Bung Arif yang berjudul “Kritik atas Kritik yang Kritikal” saya kira untuk menanggapi tulisan atau pernyataan seorang Roy Suryo atau Eep Saefullloh Fatah atau Bondan Winarno. Perkaranya, hanya nama mereka yang terlintas di

envelope-34738_1280KKKK

Hak jawab : Kritik atas Kritik yang Kritikal

*Oleh M. Zaenal Arifin Untuk Mas Expert Tercinta Sebagai insan yang menghormati kebebasan pers, karena “katanya” pers sebagai pilar keempat demokrasi (amin), saya sebagai penulis amatiran (baca: pemula) ingin belajar menulis dengan curcol bahasa resminya mengajukan hak jawab serta tak bermaksud pula mencoba menjadi seseorang

bondres2

!OSPEK

Oleh Rai Sukmaning ilustrasi: www.mascasia.fr     Dear diary: Inilah saatnya. Inilah momen bersejarah warsa ini, yang jika diupayakan dengan lebih bijak besar kemungkinan akan masuk dalam Encyclopædia Britannica edisi terbaru. Suatu peristiwa monumental: Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek)—dengan berbagai varian namanya—bagi mahasiswa baru (Maba).

1c

Islah Untuk Siapa?

Oleh Muchamad Zaenal Arifin* Ilustrasi : www.rmolbengkulu.com Pak Ijal dan Ibu Laksini sebelumnya adalah pasangan serasi, berdua membangun bahtera rumah tangga yang harmonis. Dapat dibilang bahwa kehidupan rumah tangga mereka sakinah, mawaddah, warrahma hingga mereka dikaruniai seorang anak yang bernama Sekar. Sekar pun tumbuh menjadi

sister

Kita (Bukan) Bangsa Sampah!

Oleh Dewi Widyastuti* (ilustrasi oleh Eka Dharma) Masih terasa, semangat generasi muda yang memperingati Hari Bumi pada 22 April lalu di seluruh pelosok negeri. Problematika yang menjadi langganan selalu saja seputar sampah. Sampah oh Sampah. Negeri ini masih saja kelabakan menghadapi persoalan yang satu ini.

450px-Sukarno_with_children_and_Nehru

Belajar dari Cultural Diplomacy India

OlehYasinta Paramitha* Sumber : id.wikipedia.org Negara dikatakan kaya tidak hanya karena sumber daya alamnya yang melimpah, keragaman budaya pun dapat menjadi alasannya. India misalnya. Keberagaman budaya India sudah diperkenalkan ke beberapa negara-negara di dunia melalui jalur diplomasi budaya (cultural diplomacy). Salah satu negara yang melakukan

188721

Kebudayaan Kita Pasca-Indonesia

Oleh: Widyartha Suryawan Ilustrasi oleh Eka Dharma Narasi sejarah kolonialisme yang selama ini kita pelajari di bangku-bangku sekolah rasanya perlu dikaji lebih mendalam. Misalnya, kita sering dibius dengan kalimat: “Indonesia dijajah 350 tahun”. Olehnya, saya, dan mungkin beberapa di antara kita, mafhum apabila ada pihak

statik.tempo.cobgsdfsd

“Ejuk-Ejukan” dan “Engkeb-Engkeban” di Jakarta

Oleh I Wayan Etong Sanjay Wikrama* Ilustrasi www.tempo.co Bila kita membayangkan kembali diumur  lima tahunan rasanya pasti ingin tertawa mengingat tingkah laku ketika itu. Yang ada dalam pikiran hanyalah bermain. Tanpa memikirkan sesuatu yang akan terjadi besok, lusa dan seterusnya. Jika bermain mau kalah suatu