Browse By

Category Archives: SASTRA & BUDAYA

doric_arcade_25930_lg

Di Gapuranya Tertulis: “Selamat Datang di Desa Menunggu Malam”

Oleh Sukmaning Wahyu Ilustrasi https://bonmoth.files.wordpress.com/2014/12/doric_arcade_25930_lg.gif Adalah desa yang sepenuhnya terasing dari dunia luar. Terletak di sebuah kaki bukit yang dikelilingi oleh jurang yang begitu dalam, desa itu tampak seperti guli yang goyah diujung jari. Daerah dengan hawa begitu dingin dan salju jatuh seperti parutan kelapa

mirror

Guanina, Guanina, Guanina

Cerpen Sukmaning Wahyu   Ilustrasi http://www.best-norman-rockwell-art.com Dari seminggu lalu, wajahku terasa berbeda. Awalnya aku mengira hal ini tak lebih karena aku baru saja menikah. Kukira sesuatu yang wajar merasakan perubahan-perubahan kecil selepas lajang. Tapi kian kemari aku sadar, kata “wajar” tak punya wadah yang tetap.

lubdaka

Saga

Oleh: Surya Nawaksara* Ilustrasi: http://cerita.kbatur.com/wp-content/uploads/2014/01/81.jpg    Peradaban Nusantara dibangun melalui tradisi lisan yang kuat. Sewaktu kecil, saya banyak dituturkan dongeng-dongeng pengantar tidur yang setelah saya lacak lagi ketika usia belasan tahun, ternyata mengandung unsur-unsur moral yang sama kuatnya. Kenapa saya baru menyadarinya jauh beberapa tahun

AC

Wanita, Cinta, dan Kasta (Sebuah Apresiasi Cerpen “Malam Pertama Seorang Calon Pendeta” Karya Gde Aryantha Soethama)

Oleh Dewi Widyastuti* Cerpen “Malam Pertama Seorang Calon Pendeta” (selanjutnya disingkat MPSCP) karya sastrawan Gde Aryantha Soethama, seakan menghentakkan kita akan realitas tanah air bahwa perempuan memiliki angka kelahiran yang mengungguli laki-laki. Hal ini banyak menimbulkan spekulasi dan kerap bermuara pada poligami. MPSCP meraih perhatian

white in black

“Buka Dikit Jos!” di Pura

Oleh: Surya Nawaksara   Suatu malam selepas Purnama, saya mengunjungi pura tempat para dewa, manifestasi Sang Hyang berstana. Meskipun langit malam kelam, hadirnya bulan beserta rona peraknya di angkasa cukup menggetarkan jiwa. Sampai di jaba sisi, bagian paling luar pura, keheningan lenyap seketika. Getaran spiritual

kaki

Helman Sang Pejalan Kaki

Oleh: Rai Sukmaning* Hari itu, tak banyak yang memandangnya sebagai sesuatu yang tak mengancam ataupun ramah untuk disapa. Ia tampak bingung, mencari-cari, namun tetap diam menunggu seseorang menemukan. Saya ingat betul beberapa orang disekitar saya berbisik menyebutnya gila. Seperti sebuah wabah, bisikan itu secara perlahan

siluet

Aku Sang Penguasa

Oleh: Surya Nawaksara Akulah sang penguasa! Aku adalah seorang mahasiswa di universitas yang sama sepertimu. Laki-laki atau perempuan, aku tidak mau mengatakannya kepadamu. Aku terkenal di seantero universitas. Dari ketiga belas fakultas, hingga puluhan jurusan pasti mengenalku. Siapakah aku? Tentu kamu tahu. Karena aku orang

kesenian

Hilangnya Spirit Berkesenian di Bali*

Oleh Widyartha Suryawan** Hanya dengan taksu, spirit kesenian Bali dapat bergemuruh… (dok. linimassa) Spirit berkesenian para seniman seni di Bali tampaknya mulai memudar.  Kuasa pasar kapitalisme menjerumuskan mereka pada lembah berkesenian tanpa dasar desakan hati, melainkan sesuai permintaan pasar.  Fenomena ini membuat produk seni yang

tumpek landep2

Refleksi Tumpek Landep

Ilustrasi Tumpek Landep (sumber foto: bali.panduanwisata.com) Alunan suara genta memecah keheningan pada Sabtu (24/8). Upakara digelar sebagai salah satu ritual adat Bali untuk menghormati manifestasi Tuhan, Sang Hyang Widhi Wasa selaku Sang Hyang Pasupati. Upakara yang digelar itu dikenal dengan nama Tumpek Landep. Kadang sering

wayang

Mengenal Tradisi Paselatan

Ilustrasi kisah Sang Hyang Kumara yang dikejar Bhuta Kala. (dok./ google.com) Peselatan, itulah yang sering disebut oleh masyarakat Hindu di Bali dalam memperingati sehari sebelum Tumpek Wayang. Rainan (hari suci menurut Hindu) yang tahun ini jatuh pada hari Jumat tanggal 19 Juli 2013 dikisahkan dalam