Browse By

Cekcok

Oleh: Rai Sukmaning

Aku sama sekali tak ingat apa saja yang dibicarakan oleh Ali Topan kemarin malam. Rasanya dia bicara soal kisah cintanya yang kandas atau semacamnya. Tapi itu tak penting lagi buatku. Lagi pula, aku sudah cukup mendengar teorinya soal bagaimana menghadapi perempuan. Maksudku, dia selalu datang dengan kisah sedih. Jadi, buat apa? Tapi hari ini, saat aku duduk sendirian di Kafe Teduh, menunggu seseorang sambil menonton TV yang menyiarkan berita tentang cekcok Indonesia dan Australia, aku teringat pada satu hari di bulan Desember sepuluh tahun yang lalu. Saat itu, aku mendorong adikku yang masih berusia lima tahun hingga jatuh tersungkur ke tanah. Penyebabnya, rebutan Godzilla. Adikku bersikeras kalau mainan itu punyanya. “Ibu beli ini buat aku,” katanya ngeyel. Dalam gerakan lambat, aku lihat adikku terjun bebas membentur sudut tangga dan satu—atau dua—giginya patah. Itu membuat ibuku marah besar. Dia muncul dari pintu dapur, setengah berlari, dan wajahnya tampak semerah gincu. Dia pungut adikku yang tangisannya pilu, menggendongnya, serta membisikkan kata-kata penghibur sebelum akhirnya membanjurkan segelas teh ke sekujur mukaku. Seketika aku meledak dalam tangis. Tangisanku, yang cempreng dan tak putus-putus, tumpang tindih dengan tangisan adikku, menghasilkan aransemen yang mengesalkan, seperti dua paduan suara sumbang yang menyanyikan lagu berbeda secara bersamaan. Dan cukup jelas bagiku bahwa Ibu tidak begitu menyukai paduan suara. Dia menjewer telingaku hingga pedas dan aku dibuat menjerit olehnya. Dunia pun menjadi benar-benar muram: kubangan air mata yang kotor menghalangi segala pandanganku. Akhirnya aku memutuskan berlari menjauhi ibuku yang saat itu begitu menyeramkan wajahnya. Aku berlari dan berlari. Entah ke arah mana, persetan, yang aku tahu, saat itu aku mesti berlari, sekencang mungkin. Hingga aku menemukan satu tempat persembunyian yang sempurna di belakang rumah tetanggaku. Satu celah kecil, tidak lebih dari setengah meter. Aku menyempil di sana seperti sisa daging di sela-sela gigi. Tangisanku mulai reda. Tapi sakit sisa jeweran ibuku terasa berkali lipat perihnya. Saat itu, jujur saja, pertama kalinya aku ingin mati. Dan waktu aku bilang ingin mati, itu berarti anak tujuh tahun yang ingin mati. Aku pikir hidup ini benar-benar tidak adil dan gagasan itu muncul begitu saja: aku mau kabur dari rumah, berdiri di tengah jalan, dan membiarkan truk pengangkut pasir melindasku. Berjam-jam aku bersembunyi di sana, manginkubasi ideku. Aku berdiri bisu sambil terus berharap ibuku akan tersiksa oleh rasa khawatirnya atas absennya diriku. Namun, kian lama waktu terasa kian lambat. Nyamuk-nyamuk mulai datang untuk mengenyangkan perut mereka dengan darahku, sementara perutku sendiri mulai keroncongan. Ketika aku pikir hidupku benar-benar akan berakhir, Ibu muncul sambil menggendong adikku. Langit sudah mulai gelap. Ibu menatapku sendu dan berkata, “Ayo pulang, Ibu masak perkedel jagung.” Untuk membalasnya, aku mengusap air mataku yang sudah kering sejak tadi. Tentu saja, gerakan teatrikal semacam itu aku perlukan untuk menunjukkan betapa sedih dan menyesalnya aku atas tindakanku. Dan entah kenapa, aku rasa Ibu tahu soal itu dan dia juga tahu bagaimana menyikapinya. Dia mengulurkan tangan padaku dan aku menyambutnya. Kami makan malam bersama. Aku sudah melupakan rencana bunuh diriku dan perkedelnya sungguh-sungguh terasa lezat. Adikku tak lagi menangis. Dia bahkan sudah berani mengejekku. Katanya, “Cengeng deh, sudah gede masih nangis.” Aku tertawa dibuatnya. Aku pun menoyor kepalanya, sedikit saja, dan itu membuatnya kembali menangis. Wajah ibu turut kembali merah. Tapi aku tahu, besok paginya dia bakal masak perkedel lagi, atau mungkin telur mata sapi. Meski sebetulnya aku tak begitu yakin soal itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *