Browse By

Cinta, Kasta dan Karma

 “Aku ingin mati saja!!!” tukas Dayu berurai air mata sembari berlari keluar rumah.

“Dayu, Dayu! Tunggu! Tunggu!”  Sadri mengejar. Entah kemana Dayu tenggelam di kegelapan malam.

Secepat kilat Sadri mengambil ponselnya lalu menghubungi Wayan Bawa. Iya, Wayan Bawa, hanya Wayan Bawa yang ada dipikirannya kala itu. Tidak ada orang lain lagi. Tak satu pun terlintas nama selain anak petani itu.

“Bawa! Kemana saja kau?” bentak Sadri

“Ada apa, Sadri? kenapa kau bentak aku?”

“Eh, tolol! itu Dayu kabur dari rumahku!”

Lah apa hubungan denganku?”

“Gila ya! bukannya kau adalah kekasihnya?”

“Iya, 5 bulan lalu”

“Apa?! 5 bulan lalu kau bilang? lalu janin yang dikandung Dayu, milik siapa?!”

Ah, Janin?

“Cepat kau cari Dayu, nanti kuceritakan!”

***

Suasana begitu gamang. Hawa dingin menerpa menyelimuti selaput kulit. Menerpa bulu mata, membangunkan hawa panas dalam tubuh. Suara jangkrik mengering kencang, krik. . .krik . . .,  nampak di angkasa rembulan silih berganti diselimuti awan. Suara sepeda motor menderu ditunggangi pemuda jangkung dengan jebangnya yang khas, memecah hening malam.

“Bukan aku, mana pernah aku menikmati tubuhnya” guman Bawa dalam hati. Tak pernah  dirasa, selama tiga tahun menjalin kasih, tak pernah sedikitpun Bawa memetakan tubuh Dayu. Selama tiga tahun itu pun, orang tua Dayu melarangnya merajut asmara dengan Bawa. “Aku sudah tidak bertemu dengannya selama lima bulan terakhir, bagaimana bisa Sadri langsung menghubungiku? kenapa dia pikir aku yang membuat janin itu?!” dia mempercepat laju sepeda motor dengan asap rokok mengepul dari mulutnya.

Tiga tahun lalu. Tepat hari ini. Bawa masih merasakan gelora yang membara. Dayu menerima cintanya. Sudah banyak waktu bawa habiskan untuk mengejar gadis idaman itu dan dengan banyak alasan Dayu menolak. Namun dengan penuh kesabaran Bawa tetap mengejarnya. Dayu pun akhirnya membuka hati, rencana awal hanya untuk menghibur, lebih-lebih hanya dilandasi kasihan.

Namun Bawa begitu lihai dalam cinta. Hati Dayu luluh, begitu mengenal Bawa lebih dekat. Merasakan sesuatu yang paling nyaman bila berada disisi Bawa. Dayu pun kerap kali melamun. Yang ada dipikiranya hanyalah Wayan Bawa. Anak petani pacul. Miskin. Dayu seakan dimabuk asmara.

“Kamu pasti kena guna-guna Dayu,” kata temanya disembarang waktu

“Bagaimana mungkin laki-laki miskin itu kau terima,” ujar yang lainya.

“Itulah, cinta” Dayu menjawab singkat. Ia tak menghiraukan entah apa yang dibicarakan orang-orang dekatnya. Prinsipnya hidup tak melulu masa lalu, tak melulu masa depan, tapi hidup adalah hari ini. Hari ini aku bahagia denganya, kebahagian adalah impian setiap manusia. Jadi apa salahnya aku menjalin kasih dengan Bawa jika itu membuatku bahagia.

cinta, kasta dan karma (Ilustrasi: Buku Kumpulan Karikatur Go-Wik)

cinta, kasta dan karma
(Ilustrasi: Buku Kumpulan Karikatur Go-Wik)

Orang tua Dayu, Ida Bagus Wayan dan Ida Ayu Sri. mereka tak ingin anaknya melarat. Kehidupan Wayan Bawa yang penghasilanya dari melukis. Anak seorang petani yang sudah ditinggal mati ibunya sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, terlampau jauh bila dibandingkan dengan keluarga Dayu. Bagai bumi dengan langit. Keluarga Bawa di bawah, jauh sekali, keluarga Dayu di atas, tinggi sekali. Pada keluarga dayu, untuk menanak nasi sudah tidak perlu pakai tungku, tinggal colok, nasi matang. Sedangkan pada keluarga Bawa sibuk dengan kayu bakar yang menghitamkan tembok dapurnya.

“Kami berdua tak ingin melihat kamu hidup melarat, Dayu” ujar ayah Dayu bak orang yang sedang berkata bijaksana.

“Tapi Dayu merasakan cinta, Jik..” Dayu berusaha memberi pengertian kepada ayahnya.

“Memang cinta bisa memberikan kamu makan? jika cinta memang bisa memberikan makan, tentu tak ada orang yang melarat karena kelaparan,”

“Bukan seperti itu Jik, cinta itu bisa membangkitkan semangat dalam hidup. Mengarungi semudra kehidupan perlu cinta yang mendalam, meski nanti dimata Ajik aku melarat, belum tentu aku melarat Jik, itu hanya kontruksi pikiran Ajik saja, bahwa orang miskin pasti melarat dan orang kaya pasti bahagia, itu belum tentu..”

“Ingat Yu, kamu itu perempuan sendiri, putri satu-satunya Ajik dan Biyang” Ibu Dayu memberikan alasan lain.

“Kenapa kalau Dayu perempuan sendiri, bukankah Wayan Bawa bisa nyentana ke Griya kita? perempuan dari sudra saja bisa menikah diambil oleh laki-laki dari Griya, seperti Ratu kakiang mempersunting Niang, kenapa tradisi tidak mengizinkan itu? bukan itu pilih kasih. Ajik dan Biyang tau cerita Ken Arok yang memperistri Ken Dedes, iya seperti itu kiranya seharusnya laki-laki sudra bisa nyentana ke Griya,

“Ah! Sudah, sudah!! Kok makin lama, makin pintar saja kamu melawan! Pokoknya kamu tidak boleh pacaran dengan Wayan Bawa! Tolong jaga harkat martabat keluarga, tolong kasihani orang tuamu ini, siang malam bekerja untuk membahagiakanmu, untuk menyekolahkanmu agar kelak ada yang menjaga Ajik dan Biyang dihari tua,”

“Harapan kami berdua kamu menikah saja dengan Ida Bagus Candra, keluarganya masih ada hubungan dengan keluarga kita, jadi mengenai sentana nanti bisa kami bicarakan,”

Seperti itu percakapan yang pernah Bawa dengar dari Sadri, Sadri adalah sahabatnya Dayu. Sakit rasanya hati Bawa sebagai seorang laki-laki miskin. Bagaimana cinta begitu universal, yang sering Bawa tuangkan dalam lukisannya, tersekat oleh strata sosial, kasta wangsa? Sungguh Bawa tak habis pikir. Bagaimana ini bisa terjadi, apakah ini karena politik licik? belakangan ini sudah banyak seminar dan diskusi tentang kesalah kaprahan kasta, toh masih sangat melekat pada masyarakat.

Mungkin begitu sering tekanan yang dialami Dayu, sehingga ia pun memutuskan hubungannya dengan Bawa. Air mata tumpah bagai banjir bandang kala itu.

Nampak dari kejauhan samar-samar terlihat wanita berambut panjang. Berurai, acak-acakan, sedang berdiri di pinggir jurang. Jurang sungguh dalam, ini adalah tempat dimana setiap orang yang ingin mengakhiri hidup, seratus persen berhasil. Tangisnya sendu, tak terbendung oleh gelap malam. Seakan gumatat-gumitit pun ikut merasakan sedihnya.

“Tunggu! Jangan kau lakukan itu!” Bawa mendekat perlahan.

“Biarkan saja! Aku ingin mati! Tak sanggup rasanya aku memikul beban ini..” isak tangis Dayu memecah malam.

Kedua kaki wanita dengan rambut awut-awutan itu sedikit lagi akan melakukan lompatan. Angin bersembus pelan. Tak ada suara jangkrik terdengar. Pohon-pohon melambai seakan mengisyarakat selamat tinggal untuknya. Dayu melihat ke bawah, berurai air mata membanjiri permukaan paras ayu nya. Lalu dia pejamkan mata. Seakan semua akan berakhir hari ini.

“Hari ini selesai sudah!” teriaknya memecah malam.

Namun, dari belakang, Bawa dengan sigap cepat menarik tangan Dayu, memeluk pinggangnya. Lalu mereka berpelukan. Tangisan Dayu kembali meremukan heningnya malam. Suara binatang malam kembali terdengar.

“Kenapa kau menolongku?! Kenapa? Kenapa, Bawa?! biarkan aku mati! Aku tidak mau mengawini Keris, dimana harga diriku nanti, aku akan dicap sebagai wanita nakal, masyarakat akan menggunjingakan aku, aku akan dijadikan cerita untuk anak-anaknya, kemana aku harus bawa wibawa Griya ku?” Dayu menangis histeris

“Kemana laki-laki banci yang tidak bertanggung jawab itu? Biar aku yang akan memaksanya untuk tanggung jawab,” tanya Bawa sambil tetap memeluk Dayu.

“Dia sudah meninggal, Wa! satu bulan lalu dia tabrakan, aku tidak mau kawin dengan Keris Wa! Tidak, tidak, tidak mau Wa!”

Memang sudah keharusan jika sorang wanita hamil di luar nikah dan tak ada yang bertanggung jawab atas kehamilan wanita tersebut dia akan dikawinkan dengan Keris. Memang ini terlihat sungguh menyedihkan. Namun untuk menolong wanita dan janin yang dikandungan, jalan satu-satunya adalah mengawini Keris. Keris akan disimbulkan sebagai purusa yang merupakan lambang laki-laki. Dan ini disahkan secara adat. Namun beban moral akan sangat berat ditanggung oleh wanita yang secara mental dan emosional tidak kuat. Dan Dayu mengalaminya.  Dayu sudah terbayang sejarah hidupnya akan dilukis oleh sebuah Keris.

“Apa? Dia sudah meninggal? Apa Ajik dan Biyang sudah mengetahuinya?”

“Tidak Wa, maka dari itu lebih baik aku mati saja!” Dayu berusaha melepaskan diri dari pelukan Bawa. Namun tenaganya kalah jauh dari cengkraman kuat tangan pelukis itu.

“Aku akan antar kau pulang, nanti ceritakan saja semuanya kepada orang tuamu, aku dan Sadri akan menemanimu, keputusan terbaik pasti akan diambil. Kau jangan sia-siakan hidupmu untuk dengan ulahpati seperti ini, kau sering mengatakan padaku seburuk apapun masa lalu, masa depan masih suci..” Mata Bawa dan Dayu bertemu. Malam itu terasa begitu panjang.

Bersama Sadri, Bawa mengantar Dayu pulang. Terungkap dari cerita yang disampaikan Dayu kepada orang tuanya bahwa kandunganya sudah berusia enam bulan. Terlalu besar resiko untuk mengambil jalan pintas menjadikan dayu seorang permpuan suci lagi.

Terungkap pula, bahwa pemilik kandungan adalah Ida Bagus Candra, laki-laki yang direkomndasikan oleh orang tuanya. Dayu berpacaran dengan Ida Bagus Candra selepas memutus hubungan dengan Wayan Bawa. Dayu terpengaruh dengan perkataan ayah ibunya yang setiap hari menjejali otaknya. Ida Bagus Candra sudah bersedia untuk nyentana ke Griya Dayu, maka dari itu dengan ringan Ida Bagus Candra mengangkat tubuh Dayu untuk merajut asmara bersama. Saling menembakan panah asmara dengan luka yang nikmat. Namun baik keluarga Dayu dan keluarga Ida Bagus Candra tidak ada yang mengetahui hubungan mereka. Alih-alih menjadikannya kejutan bagi kedua keluarga ini, kejadian tak terduga terjadi, Ida Bagus Candra meninggal dunia akibat kecelakaan. Sebelum itu, tidak diantara mereka berdua Ida Bagus Candra maupun Dayu mengetahui, leluhurnya telah menganugrahkan benih keturunan.

Air mata pun membanjiri keluarga itu. Ida Bagus Wayan terasa dirinya tidak mempunyai harga diri lagi dihadapan Bawa, yang selalu dia hina dalam keluarga. Kemana wibawa Griya yang selalu aku agungkan. Kini sekan sedikit lagi akan sirna. Kabar tak bisa dikaburkan. Semua orang akan mengetahui ini, Ida Bagus Wayan meratapi nasibnya. Ida Ayu Sri menangis meratapi nasib keluarganya. Di Merajan, Ida Ayu Sri menghaturkan canang sari, berdoa agar Tuhan memberikan jalan terbaik untuk keluarganya.

“Baiklah, jika memang ini keharusanya, aku akan menerimanya. Baik, baiklah aku akan menerimanya..” Ida Bagus Wayan menarik nafas, mengangguk-angguk seperti berusaha membenarkan keputusan darurat yang akan diambilnya. Jika keputusan tak diambil cepat, angin akan lebih cepat mengabarkan pada setiap orang. Ida Bagus Wayan mulai bicara, setelah air matanya sedikit demi sedikit mulai mengering.

“Tapi aku tidak mau kawin dengan Keris, Ajik.. maka dari itu lebih baik aku mati Jik,” Dayu menyela bicara ayahnya sambil terisak tangis tanpa henti.

“Maka dari itu dengarkan apa yang Ajik katakan!”

“Bawa, beginilah keadaan keluarga kami, seperti yang kau dengar tadi sungguh menyedihkan, tak sanggup rasanya aku akan memikul cemohan dari luar. Syukur belum ada warga yang mengetahui tentang hal ini. Bagai bunga jatuh dikubangan lumpur begitulah kami saat ini. tak akan ada yang memandang kecantikan bunga itu lagi ketika esok matahari akan terbit. Sungguh menyakitkan. Aku berharap ada orang yang berbaik budi menolong kami. Bawa, kau tau siapa yang bisa mengangkat bunga dari kubangan lumpur itu? dia adalah seseorang yang merelakan dirinya untuk turun ke kubangan lumpur itu. Lalu mengangkatnya, sebelum dilihat oleh orang, bunga itu sudah dibasuh untuk memperlihat kecantikanya lagi. Kau paham maksud dari ucapanku?” Ida Bagus Wayan menundukan kepala dan menyakupkan tangannya di atas ubun-ubunya dihadapan Wayan Bawa.

“Sungguh apa daya tiang, tiang hanyalah seorang rendahan, bagaimana mungkin seekor Beduda akan mengangkat bunga? Sedangkan apa yang tergaris, bunga hanya untuk si Kumbang..” Wayan Bawa menghela nafas, sembil memikirkan kembali apa yang diucapakan Ida Bagus Wayan.

“Bukan suatu yang mustahil seekor Beduda akan hinggap pada bunga, bunga untuk Kumbang hanya penggambaran imajinasi, itu hanya kontruksi sosial semu, komunikasi adalah tangga untuk mencapainya..”

Setelah dipikirkan masak-masak, Wayan Bawa berkata “Baiklah, aku akan mengangkat bunga milik anda, tapi buatkanlah saya jalan”

Kesepakan telah dilangsungkan. Tak ada yang mengetahui selain orang yang berada di keluarga malam itu. Wayan Bawa akan bertanggung jawab atas janin yang dikandung Dayu. Kembali lagi, ini karena rasa cintanya pada Dayu. Atau mungkin karena karmanya. Tanpa sepengetahuan siapa pun Wayan Bawa merajah lidahnya untuk bisa memikat hati Dayu. Bawa bertanggung jawab akan nyentana ke Griya  tempat Dayu tinggal. Perempuan Brahmana akan mengawini laki-laki Sudra. Ini adalah pertama kalinya yang akan digelar. Ini adalah hal baru. Jika perempuan Sudra dikawini oleh laki-laki Brahmana atau Ksatria itu sudah biasa dan lumrah terjadi. Begitu juga perempuan Brahmana atau Ksatria dikawini oleh laki-laki Sudra, sudah sering terjadi. Yang baru ini adalah perempuan Brahmana mengawini laki-laki Sudra. Sungguh ini mungkin yang dinamakan kuasa cinta.

Paruman keluarga digelar. Mencari persetujuan adalah tujuannya. Pro-kontra debat sengit terjadi dikalangan keluarga yang berpendidikan tersebut. Namun hingga larut malam satu putusan pun belum bisa dipetik dari paruman itu. sampai saat ini sudah sepuluh kali paruman digelar dan hingga kini pula keputusan bulum ada untuk melegalkan perkawianan yang akan digelar itu.

Hingga malam itu, bintang bersinar terang, bulan purnama berhias cantik, angin semilir melambaikan rambut yang hinggap di kening. Suasana damai terasa. Dari goa garba perempuan berparas ayu itu muncul sosok manusia, dengan tangisannya memecah senyap.

(Selasa, 4/10/16, I Wayan Etong Sanjay Wikrama)

Catatan:
1. Ajik,Jik : Ayah

  1. Biyang : Ibu
  2. Nyentana : Pernikahan sistem matriliniel, ini dilakukan karena keluarga perempuan tidak mempunyai keturunan laki-laki.
  3. Sudra : Kasta paling bawah setelah Brahmana, Kasatrya, Waisya yang masih terpatri dalam masyarakat
  4. Griya : sebutan rumah untuk keluaraga keturunan Brahmana
  5. Gumatat-gumitit : sebuatan untuk bianatang malam
  6. Purusa : simbol laki-laki
  7. Pradana : Simbol perempuan
  8. Ulahpati : Bunuh diri
  9. Merajan : Sebutan untuk Pura keluarga
  10. Canang sari: Kumpulan bunga dan janur ditata sebagai media pemujaan.
  11. Beduda: Kumbang Tanah
  12. Merajah : semacam guna-guna atau susuk

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *