Browse By

Cok Sawitri: Gelar Monolog “Perempuan dan Air” Rayakan Hari Perempuan Internasional

Performa Seniman Cok Sawitri (49) dalam monolog bertajuk "Hari Perempuan dan Air", bertempat di Bentara Budaya, Ketewel, Gianyar. Pada Sabtu, 18 Maret 2017. (Ajung/Linimassa)

Performa Seniman Cok Sawitri (49) dalam monolog bertajuk “Hari Perempuan dan Air”, bertempat di Bentara Budaya, Ketewel, Gianyar. Pada Sabtu, 18 Maret 2017. (Ajung/Linimassa)

Memaknai Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada 8 Maret, seniman perempuan, Cok Sawitri menghadirkan monolog yang bertajuk “Perempuan dan Air” pada Sabtu, 18 Maret 2017. Pertunjukan yang bertempat di Bentara Budaya Bali, Ketewel, Gianyar.

Dengan menampilkan Arja Siki “Kampanye Calon Gubernur Air” menggunakan tata visual yang dirancang oleh Adrian Tan. Dibuka dengan tampilan Kelompok Penari Misra yang membawakan tarian bertajuk “Sesapi Ngundang Ujan” dengan Ida Ayu Arya Satyani sebagai koreografer.

“Daerah Cekungan Air Tanah di Bali yang meliputi tujuh kabupaten dan satu kota madya pada tahun 2035 akan mengalami krisis air bersih,” ungkap Cok Sawitri dalam monolognya.

Melalui Perayaan “Perempuan dan Air”, dari pihak Bentara Budaya Bali dalam pembukaan acaranya mengharapkan gelaran ini mampu mengingatkan dan menyadarkan pentingnya air bagi kehidupan. Pertunjukan ini menyadarkan tentang kondisi pulau Bali saat ini yang mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih dan sehat untuk masyarakatnya.

Tak hanya itu, dalam pertunjukan ini juga membahas persoalan lebih mendalam. Terutama menyangkut sudut pandang perempuan dan mengenai tata kelola air yang menciptakan berbagai kerumitan tersendiri. Seperti menyinggung tentang kebijakan lingkungan dan kebijakan-kebijakan lain yang sering berbenturan. Pagelaran ini menunjukkan bahwa pengelolaan air di Bali salah satunya Cekungan Air Tanah (CAT), membutuhkan kebijakan-kebijakan yang menyeluruh dan tidak hanya mementingkan bagian-bagian yang membentuknya.

“Saya harap setelah ini teman-teman sadar akan pentingnya menjaga cadangan air tanah dengan membuat lubang biopori sebagai daerah resapan di tempat tinggal masing-masing,” imbau Cok Sawitri pada akhir monolognya. (Ajung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *