Browse By

Dari Basa-Basi Hingga Bolak Balik

foto profil gde aryantha

“Bali kaya sekali akan konflik. Mulai dari konflik adat istiadat, tradisi, tentang kasta, godaan investasi, dan konflik modern,” tutur penulis buku-buku esay tentang Bali, Gde Aryantha Soethama.

Tidak hanya konflik investasi. Menurut Aryantha, Bali itu banyak konflik. “Orang Bali kuat konflik. Saya sebagai masyarakat Bali paham betul akan konflik di Bali. Di etnik lain, tidak ada yang seperti ini,” tuturnya dengan desahan nafas panjang. Itulah yang mendorong lelaki tinggi besar ini tak habis-habisnya menulis konflik-konflik di Bali. Buku-buku esai, novel hingga karya sastra lainnya selalu berlatar konflik di Bali. Tengok saja buku kumpulan esai mulai dari Basa-Basi Bali, Bali Is Bali, Bali Tikam Bali, Bolak Balik Bali hingga Bule Jadi Bali. Tak terkecuali buku terbitan Kompas Gramedia, Jangan Mati Di Bali. Semua tentang Bali.

Begitu pula novelnya yang mendapat penghargaan Khatulistiwa Award tahun 2006, “Mandi Api” itu juga tentang Bali. “Dulu saya pernah dapat penghargaan Khatulistiwa tahun 2006. Hadiahnya uang 100 juta. Ditanya mau dipakai apa, ya saya jawab, mau dibelikan mesin percetakan. Bantu teman-teman untuk ngecetak murah,” tawa jurnalis kawakan di Bali ini. Hampir semua tulisannya mengangkat Bali. Mengapa?

Dengan simbolik lelaki kelahiran Klungkung menuturkan satu pengalaman. Waktu itu ia diwawancarai media dari Universitas Udayana. Lelaki asli Sukawati ini ditanyai apakah ia bangga sebagai alumnus Unud? “Saya jawab. Ya. Saya sangat bangga sekali dengan Unud, karena Unud ada di Bali. Kalau Unud tidak ada di Bali, ya saya tidak bangga menjadi alumni Unud,” ucapnya tertawa tergelak-gelak. Alasan ia tergelak, karena Sang Rektor marah dengan berita itu dan menjawab di depan ribuan wisudawan Unud.

Budayawan dengan tawa renyahnya ini, memiliki banyak cara berpikir dari sudut yang tidak biasa. “Kebanyakan penulis, akan menerbitkan sebuah buku, dengan latar belakang, tulisannya ingin didokumentasikan dan pengarangnya yang ingin dikenal orang banyak. Tapi, menurut saya, tulisan yang diterbitkannya tersebut, merupakan mahkota dari pengarangnya. Jika tak ada tulisan yang diterbitkan, maka pengarang tersebut, tak memakai mahkota,” tuturnya. Sebuah pandangan yang terdengar sangat berbeda.

Begitu pula, pandangannya terhadap investasi. “Tak ada yang patut disalahkan. Justru, dengan adanya investasi, penghasilan bertambah. Di sini, kita tidak perlu berbicara salah benar. Cuma masyarakat Bali saja yang cemas,” tutup pemilik perusahaan penerbit buku ‘Arti’ . “Jika benar Investasi merusak Bali, coba berikan saya contoh budaya, yang sudah hilang akibat investasi?” tandasnya penuh percaya diri. (Fina)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *