Browse By

DÉJÀ VU

73166318_2414186382243881_2560874119421038061_n
DÉJÀ VU

Siang tadi saya mampir ke salah satu acara di kampus, tepatnya di Gedung Agrokomplek lt. 4. Perhatian saya tertuju pada tempat sampah dan luberan sampahnya di lorong.

Tempat sampah ini kami beli dengan menggalang koin mahasiswa FISIP, tiga tahun yang lalu.

Mari bernostalgia..

***

Ini berawal dari rencana pembahasan dialog formalitas tahunan yang dinamai “Temu Dekanat”. Tak asing? Ya, setiap tahun forum ini digunakan sebagai ruang dialog antara mahasiswa dan dekanat di awal masa kepengurusan ormawa (organisasi mahasiswa). Hampir setiap kampus memiliki ruang dialog yang serupa, hanya konsep dan namanya yang berbeda.

Saya pernah mengikuti Temu Dekanat FISIP Unud selama tiga tahun berturut-turut. Dalam dua kesempatan terakhir, rasanya seperti mengalami deja vu. Ada runtutan kejadian yang cenderung berulang: permasalahan yang dibahas kurang lebih sama, menghasilkan kesimpulan yang kurang lebih sama, dengan tindak lanjutnya yang setiap tahun begitu-begitu saja. Misalnya: soal toilet.

Pembahasan soal toilet — yang jumlahnya sedikit dan sebagian tidak berfungsi — selalu berujung pada kesimpulan: dana untuk fasilitas kampus tidak mencukupi; tidak ada budget untuk perbaikan; prosedur pengajuan perbaikan yang rumit; dsb. Pernah copy paste template ucapan hari raya? Ya kayak gitu: serupa tapi tak sama.

Dari kebuntuan tahunan itu dan menyadari keterbatasan peserta audiensi untuk berdebat dengan gigih dalam waktu yang lama, menjelang Temu Dekanat, muncul ide bersama kawan-kawan lain untuk menyiapkan “amunisi” sebelum hari H. Salah satunya adalah “Koin Untuk Toilet” yang maksud dan tujuannya tidak perlu dijelaskan kepada dekanat.

Berikutnya ada rencana pembuatan nota kesepahaman dari hasil Temu Dekanat. Tujuannya agar ada pegangan pasti bagi pihak-pihak yang terlibat bila di kemudian hari — setidaknya satu tahun kedepan — ada hal-hal yang dilanggar atau tidak dipenuhi dari kesepakatan-kesepakatan dalam pertemuan tersebut.

“Koin untuk Dekanat”, Seperti namanya, ya, memang hanya menerima uang koin. Kami sangat sadar bahwa uang yang terkumpul mungkin tak akan seberapa — bahkan tak cukup memperbaiki satu toilet pun. Namun dengan perhitungan menghindari masalah baru — pembebanan dana fasilitas terhadap mahasiswa diluar dana UKT yang sudah terperinci — mengumpulkan koin setidaknya adalah cara terbaik. Satu pesan terpenting; sindiran kepada kampus, khususnya dekanat dan rektorat.

Dan benar, dana terkumpul sekitar Rp. 400.000, koin semua. Meskipun ternyata ada yang protes karena menganggap aksi ini adalah pungutan liar dan patut dipertanyakan, Rp. 400.000 dari koin tidaklah sedikit.

Penggalangan dana dilaksanakan secara diam-diam siangnya, sehari sebelum “Temu Dekanat”. Ternyata Dekanat telah mendengar kabar ini malam harinya. Entah siapa yang membocorkannya. Yang pasti “kejutannya” gagal, pesannya sampai terlalu dini.

Singkat cerita, dalam Temu Dekanat itu, pihak dekanat datang terlambat. Perdebatan di dalamnya sesuai prediksi: mayoritas peserta kendor, hanya segelintir yang vokal, dan berlangsung alot. “Tidak apa-apa kami disindir, memang tidak ada dana lagi,” kata salah seorang dari pihak dekanat. Peluru diterima dengan pasrah. Diluar ekspektasi kami.

Dekan meminta acara ditutup sesuai jam undangan. Tak ada perpanjangan waktu sebagai konsekuensi keterlambatan mereka.
Ia memberikan kesempatan 5 menit terakhir pada saya untuk berargumen. Baru sekitar tiga menit saya bicara, ia memotong — meminta mic dari tangan saya. “Udah, udah. Kamu terus yang ngomong dari tadi,” katanya. Peserta lain pun bungkam.

Sayang seribu sayang, melihat dekan sampai beranjak dari tempat duduknya untuk merebut mic saya, panitia memilih menutup acara saat itu juga. Nota kesepahaman yang rencananya akan dibuat pun tertunda karena forum dihentikan sepihak.

Keesokan harinya BPM mengajukan draft nota kesepahaman yang sempat tertunda, namun Dekanat menolak menandatanginya karena ada beberapa hal yang katanya “tak sesuai”.

Estafet informasi untuk tahun selanjutnya pun batal terwujud. Tak ada pegangan yang dapat dijadikan acuan, dan akan muncul deja vu-deja vu yang serupa.
Saya khawatir di Temu Dekanat 2020 ada yang mengalami deja vu seperti ini. Saya juga penasaran: bagaimana mereka menyiapkan langkah menghadapinya.

TEMPAT SAMPAH INI MILIK MAHASISWANYA FISIP

Hasil dari “Koin Untuk Toilet” pun mengambang, bahkan nihil. Bukannya menepis sindiran kami dan menanggapi dengan (setidaknya) tindak-tanduk konkrit akan turun tangan memperbaiki, dekanat menyelipkan keterangan akan mengecek apakah masih ada pos dana untuk perbaikan toilet. Ditutup dengan mempersilakan jika mahasiswa menggalang dana untuk memperbaiki toilet.

Mengingat jumlah koin yang tak seberapa, dengan kesepakatan bersama, koin itu kami belanjakan tempat sampah untuk kemudian diletakkan di area-area dimana mahasiswa sering berkumpul di sela-sela atau usai jam kuliah.

Selain koin yang terbatas, toilet memang bukan satu-satunya masalah; tempat sampah yang sangat terbatas adalah salah satu masalah lain. “Donatur tetap” tempat sampah di kampus kami ialah mahasiswa baru peserta Student Day (Orientasi Mahasiswa Baru) yang “ditugaskan” panitianya untuk menyumbang tempat sampah (setidaknya pada waktu itu).

Mengenai tempat sampah di kampus, salah seorang kakak tingkat dari salah satu prodi di FISIP punya cerita misteri: tong sampah sumbangan mahasiswa mendadak hilang. Tong sampah itu dimural pada saat acara ulang tahun salah satu prodi dan kemudian disumbangkan. Dalam hitungan minggu (kalau tidak salah ingat) tong sampah-tong sampah itu lenyap. Ya, tong sampah pun bisa hilang. Entah apa yang terjadi, semua pihak mengaku tak ada yang tahu ke mana perginya tempat sampah-tempat sampah itu. Sampai pada akhirnya terkuak: tempat sampah itu pindah lokasi ke Kampus Pasca Sarjana Unud.

Pengalaman semacam itu yang mendorong pengalihan pos dana Koin Untuk Toilet ini ke pembelian tempat sampah baru. Selain itu, juga dari pengalaman yang sudah-sudah, ternyata kampus tidak segan untuk menerima sumbangan — yang maksudnya satire sekalipun — dari mahasiswa. Entah tempat sampah, AC (sekali lagi soal AC belakangan ya, lumayan ribet hehe) ataupun koin kami.

Meskipun tempat sampah yang kami beli akan diletakkan di kampus, namun tempat-tempat sampah itu tidak disumbangkan, tetapi dipinjamkan — hak miliknya masih dipegang mahasiswa.

Untuk memperjelas pesan itu, kami tuliskan dengan jelas “INI MILIK MAHASISWA FISIP”.
Bukan dekanat, atau kampus yang sudah jelas menghimpun dana UKT untuk segala fasilitas pembelajaran atau pendukungnya.

(Anangps)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *