Browse By

Demokrasi Indonesia : Ah, Aku Lelah!

Merah putihku tak sampai jua (ilustrasi: http://www.netralitas.com/metropolitan/read/8593/opini-masyarakat-rakyat-indonesia-belum-merdeka)

Merah putihku tak sampai jua (ilustrasi: http://www.netralitas.com/metropolitan/read/8593/opini-masyarakat-rakyat-indonesia-belum-merdeka)

Hidup di Indonesia itu susah. Hidup di sini penuh konflik. Konflik fisik, konflik mental, konflik batin. Ini berarti, orang-orang Indonesia adalah manusia-manusia hebat. Sungguh, kami hebat dalam berkehidupan. Orang-orang Indonesia tangguh meniti setiap fase hidupnya dengan apik meski konflik bertiup kencang menampar segala usahanya. Menjalani hidup di Indonesia pun penuh dengan cucuran keringat, dan kerja keras. Siapa yang tak keras hati, ia kalah bersaing mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Cerita tentang berkehidupan di Indonesia tak akan ada habisnya bila dibahas. Entah ia tua atau muda, kaya dan miskin, yang berpendidikan maupun yang tak mengenal huruf, mesti siap menanggung segala keputusan Tuhan jika sudah memilih berjuang di tanah penuh konflik. Di Indonesia.

Setiap harinya, Indonesia punya konflik baru untuk diceritakan ke sanak saudara. Dan menariknya, semakin besar konflik tersebut, semakin terbakar semangat orang-orang Indonesia memperjuangkan kehidupannya. Hebat bukan? Di saat negara lain berlomba-lomba membumihanguskan penyemaian dan perkembangbiakan konflik, justru di Indonesia, semakin tumbuh konflik,  semakin tak terhitung suara masyarakat yang bersua. Dari sudut pandang politik, bagaimana perkembangan demokrasi di suatu negara baru akan muncul ketika konflik bertebaran. Dan kejadian ini sedang terjadi di tanah air, dimana dua kubu besar antara Koalisi Merah Putih dan Koalisi Indonesia Hebat sedang berseteru, memicu konflik baru. Yang tentunya disenangi masyarakat.

Masyarakat Indonesia menyenangi tren. Apalagi tren politik yang tak habis membagi-bagikan cerita baru mengenai gerak-gerik petinggi negara, tindak-tanduk pemerintahan, dan kasak-kusuk keputusan atasan yang kerap memicu konflik. Orang-orang Indonesia sedang hangat-hangatnya membicarakan Prabowo Subianto dan Joko Widodo yang sejak pesta demokrasi dimulai hingga pelantikan presiden tinggal menghitung hari, masih saja berantem. Apa tidak kecapekan ya?

Konflik yang berawal dari ketidakpuasan Sang Prabowo dalam hasil pemilu presiden ini terus saja memancing beberapa mulut melontarkan kata-kata pedas. Di sisi lain, keluguan Jokowi berhasil menarik belas kasihan dan pembelaan mati-matian dari sekian juta rakyat Indonesia. Dari konflik ini, kita segera sadar: betapa keras jiwa petarung demokrasi Indonesia. Mereka hidup berputar-putar dikelilingi segala macam masalah dan menjalani hidup dengan memunculkan berbagai konflik. Seperti itukah demokrasi di Indonesia? Hitam, curam, berkonflik, dan menyimpan berbagai sodokan tajam mulut-mulut pengkritik. Kejamnya.

Kesan demokrasi semakin terpuruk namanya ketika Koalisi Indonesia Hebat yang dipimpin Jokowi dipukul mundur oleh anak buah Prabowo di Koalisi Merah Putih dalam merebut kursi MPR dan DPR. Ketua MPR dan DPR pun, setelah berjuang mati-matian, dipegang anggota KMP. Bukan masalah pukul memukul, tapi tujuan dibalik usaha perebutan itu. Dendam kesumat seolah menguasai KMP agar tetap memegang kursi pemerintahan atas kekalahan pemimpin mereka dalam pesta demokrasi. Yang jadi masalah sekarang, dari konflik ini, masyarakat Indonesia jadi teringat politik balas dendam, yang sejatinya menjatuhkan pelaksanaan sistem demokrasi Indonesia, yang sudah dijunjung tinggi sejak zaman baheula.

Suatu konflik juga dapat berkembang biak. Dari hasil keputusan kemenangan KMP tersebut di kursi parlemen, mulai sayup-sayup terdengar isu tak sedap. Tapi disukai masyarakat Indonesia. Inilah keanehan orang Indonesia, haus akan sensasi. Isu tersebut berupa kemungkinan yang akan terjadi, jika presiden terpilih memiliki anggota parlemen yang sebagian besar ‘musuh bebuyutan’ koalisinya. Bisa-bisa, presiden kita digulingkan. Apalagi, MPR dapat memberhentikan presiden maupun wakil presiden berdasarkan Undang Undang. Wah, makin lama, kesan demokrasi di Indonesia berbalik kiblat dari ‘kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat’, menjadi ‘kekuasaan tertinggi memang ada di tangan rakyat, tapi pelaksanaan selanjutnya khusus dimainkan oleh pemerintah’. Demokrasi di Indonesia makin menjelimet, makin terisi persaingan tidak sehat, makin jauh dari keadilan, makin banyak dendam-dendaman. Memilukan.

Jadilah Indonesia sepeti sekarang ini, dimana orang-orangnya gemar menuai konflik, mencari masalah untuk diceritakan, untuk diperhatikan. Susah menyalahkan juga, karena hal ini ditiru orang Indonesia dari tokoh-tokoh pemimpin pemerintahan. Yah, kalau petingginya saja berdemokrasi dengan maksud balas dendam, bagaimana dampak rakyat yang melihatnya? Bukan tidak mungkin, orang-orang akan gelap mata, semrawut, dan muncul paham-paham tidak jelas seperti semasa PKI dan lainnya. Karena tidak puas terhadap sistem demokrasi yang ada. Semua karena satu hal. Konflik dalam berdemokrasi yang tidak sehat. Menyelamatkannya pun, butuh waktu 7 turunan.

Sudah dibilang, hidup di Indonesia itu susah setengah mati. Berjuang sampai mati. Mencari penghidupan mati-matian. Demokrasi kini seperti cerita dongeng sebelum tidur, yang hanya pemanis mimpi-mimpi rakyat Indonesia. Demokrasi, saban hari menumbuhkan konflik. Dan sedihnya, konflik malah jadi makanan sehari-hari orang Indonesia untuk digosipkan. Makanya, mau berdemokrasi sampai mulut kering pun, rakyat akan tetap susah. Karena setelah rakyat mengajukan suara, pemerintah memutarbalikkan fakta, mementingkan kepentingan golongan malah jadi tujuan utama. Akhirnya, Indonesia tetap berjalan di tempat. Sebaliknya, rakyat makin semangat memenuhi penghidupan di tanah Indonesia. Tentunya, agar tidak tergilas ketidakadilan politik. Dan pada akhirnya, muncul rasa apatis dalam berdemokrasi. Karena toh, tidak ada gunanya. Ujung-ujungnya suara rakyat masuk ke tong sampah. Ah, melelahkan. (Fina)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *