Browse By

“Dosa-dosa” Wolfmother dalam New Crown

Saya tak tahu persis peristiwa apa yang menimpa Andrew Stockdale selama pengerjaan New Crown, album terbaru Wolfmother. Tapi, saya kira pengerjaan album ini banyak menguras persediaan tonik rambutnya.

Kalau anda mendengarkan album ini dengan harapan mendapat impresi yang sama ketika mendengarkan album Wolfmother (2005) atau Cosmic Egg (2009) atau EP mereka lainnya, saya sarankan anda mencari jempol tambahan untuk dihisap. Album ini terlalu mirip seorang bocah yang mengenakan berlapis-lapis baju kaos berbagai warna di puncak musim kemarau yang panas. Dalam arti yang sama, Wolfmother benar-benar sudah kehilangan sesuatu yang tipikal.

Pertama, telinga kalian akan terasa seperti memakan The Stooges, Black Sabbath, Zeppelin, dengan sedikit psychedelic hambar diakhir album, dalam satu suapan yang terlampau besar hingga meluber kemana-mana. Kedua, entah bagaimana caranya kalian akan dapat membayangkan rambut kribo Stockdale rontok begitu saja.

Harus diakui bahwa kali ini Stockdale berusaha sangat keras untuk mempromosikan New Crown. Dengan memanfaatkan internet, self-release melalui Bandcamp menjadi salah satu upayanya—selain promosi gencar Stockdale melalui akun Instagram pribadinya. Ia mengais sisa-sisa kejayaan Wolfmother. Dan entah kenapa saya yakin saat ini ia sedang terlena pada kesuksesan Arctic Monkeys yang diraih dengan cara yang sama. Tapi apakah semua itu akan bekerja pada Sang Toothless Wolf dengan New Crown-nya?

Sebelum itu terjawab, kita bisa mengira-ngira dengan menengok nomor How Many Times yang muncul sebagai lagu pembuka. Mendengar suara Stockdale yang begitu Robert Plant-ist, saya masih bisa berkata, “Oh. Sepertinya akan bagus kalau saya memiliki poster Wolfmother…”

Tapi begitu masuk ke Enemy is in Your Mind saya mulai bingung. Saya harus membeli poster Wolfmother atau Black Sabbath. Nomor ini tak begitu sulit untuk membawa imajinasi anda pada aksi panggung Ozzy yang terkesan kikuk di masa album Paranoid ataupun Master of Reality dulu. Bukan hal yang memalukan sebenarnya, apalagi mendapati Stockdale yang berusaha lebih melodik dalam permainan gitarnya—meski pada akhirnya terkesan ia melakukan “work-out” yang berlebihan untuk itu.

Sedangkan dalam My Tangerine Dream, suara bass datang dan pergi mengikuti volume instrumen lainnya. Sementara drumnya terdengar seperti suara seorang yang sedang flu mencoba melakukan beatbox. Hal yang sama juga terdengar pada Radio ataupun Tall Ships. Dan satu hal yang mesti dicamkan: jangan coba-coba menyetel volume pemutar musik anda terlalu tinggi kalau tak ingin mengalami migren temporer. Mengingat kualitas mixing lagu yang siapa-yang-membuang-omong-kosong-disini—yang tak salah juga jika membuat anda berpikir, “Persetan dengan Grammy yang kalian punya!”

Album ini bisa saja disebut ujian Stockdale pada para fansnya. Jauh dari album-album sebelumnya, kali ini ia benar-benar kehilangan ‘kedermawanannya’ dengan begitu pelit pada isian keyboard—yang di album ini hanya bisa ditemukan di lagu Tall Ships. Ia juga seperti sedang mencoba memberikan suasana baru pada Wolfmother, tengok saja Feelings yang punkish atau I Ain’t Got No yang bluesy—yang disebut terakhir, verse-nya lamat-lamat terdengar seperti (I Can’t Get No) Satisfaction milik The Rolling Stones. Namun itupun tak cukup untuk ‘mengampuni dosa-dosanya.’

Stockdale juga terkesan mengulurkan tangan terlalu jauh. Lihat saja pada I Don’t Know Why yang berusaha meniru ambience Tame Impala, tapi gagal. Belum lagi sound lo-fi yang seperti dipaksakan. Pendengar dihadapkan pada hidangan yang terlampau mengenyangkan perut, namun tanpa peduli kesedapan masing-masing menu. Dan lagi-lagi, hal tersebut tak dapat menyembuhkan album secara keseluruhan.

Sebetulnya tak adil juga saya lebih sering menyebut nama Stockdale daripada Wolfmother di sini. Stockdale adalah semacam rockstar yang impulsif-reaksioner dalam industri musik. Setelah memutuskan untuk “tidak lagi memakai nama Wolfmother” pada tahun 2013, tidak lama kemudian ia merilis debut album solonya, Keep Moving—yang sebelumnya direncanakan sebagai album ketiga Wolfmother. Tapi setelah Keep Moving mendapat kritik dan penjualan yang gloomy, ia juga tak perlu waktu lama untuk memutuskan menghidupkan kembali Wolfmother. Well, Stockdale tahu benar bagaimana pasar bekerja. Meski sebelumnya ia pernah mengatakan, “The listener listens for emotion, not a brand name.”

Sebagai pengahabisan, marilah kita agak berbaik sangka. Kalaupun memang bukan kritik ataupun penjualan sedap yang ingin dicapai Stockdale, sebutlah misalnya produksi album lo-fi yang listenable, maka ada baiknya jika ia belajar dari Black Keys ataupun White Stripes. Atau jika ingin lebih praktis, Stockdale tinggal mengunduh lo-fi-recording-manual. Tapi dengan catatan: not as a toothless wolf!

(Rai Sukmaning)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *