Browse By

Dunia Berbahasa Lewat Impian dan Pertanda

Judul Buku      : Sang Alkemis (The Alchemist)

Penulis            : Paulo Coelho

Alih Bahasa    : Tanti Lesmana

Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan           : XVI, Juli 2014

Tebal               : 216 halaman

Penulis mana yang tak ingin karyanya melekat lama di benak dan hati pembacanya? Sehari, sebulan bahkan bertahun-tahun lamanya. Sastrawan asal Brazil yang kerap keluar masuk rumah sakit jiwa ini patut berbangga. Setelah (dan masih akan) melahirkan berbagai novel, salah satu ‘anaknya’ berjudul Sang Alkemis (The Alchemist) masih berpengaruh sampai sekarang. Penerbit bahkan tak hentinya mencetak ulang novel ini sampai 16 kali cetak pada 2014 lalu dari tahun pertamanya terbit pada 1988.

Paulo Coelho meletakkan nilai-nilai universal dalam Sang Alkemis. Ini bukan novel cengeng, horor atau humor. Sang Alkemis adalah novel petualangan dan perjuangan memahami Jiwa Dunia. Sebuah novel yang hampir tanpa cela. Penggunaan sudut pandang orang ketiga membuat cerita dideskripsikan dari luar. Oleh karenanya, kini tergantung pada keahlian penulis dalam menuturkan tokoh dan cerita. Beruntung, Coelho bukanlah pendongeng yang buruk. Penuturannya sederhana dan memikat.

Kisah ini bermula dari keberanian seorang anak bernama Santiago yang memutuskan untuk hidup mengembara. Meninggalkan kehidupannya bersama keluarga di Andalusia dan memilih menjadi gembala. Tiba-tiba mimpi dan pertanda yang sama berulang kali hinggap di benaknya. Tak terpikir olehnya akan ada seorang perempuan gipsi dan lelaki tua yang menafsir mimpi dan pertandanya itu. Semua mendorongnya untuk pergi mengikuti mimpinya.

Kenyamanan menjadi gembala telah menyergapi Santiago. Rutinitasnya bersama domba-domba enggan membuatnya berkelana mengikuti mimpinya. Tetapi, akhirnya Santiago mengikuti pertanda dan ucapan si lelaki tua itu. Ia memutuskan untuk pergi mencari harta karun yang berada di Piramida Mesir sesuai dengan gambaran mimpinya.

Petualangannya pun dimulai. Dari tertipu di negeri asing yang membuat seluruh hartanya raib hingga bekerja di toko kristal yang hampir bangkrut. Setelah setahun lamanya ia bekerja, mimpinya mencuat kembali. Ia pun melanjutkan perjalanan. Pertemuannya dengan gadis gurun dan seorang alkemis sekonyong-konyong mengubah hidupnya. Ia merasa haus dalam memahami Jiwa Dunia dan Bahasa Dunia yang universal. Akankah dahaga Santiago terpenuhi? Apakah harta karun itu benar-benar berada di Piramida Mesir?

Novel ini berbicara tentang impian dan dunia yang seakan berbicara. Kita terlalu terpesona dengan keindahan kata hingga lupa memahami keindahan bahasa tak terucap di sekitar kita. Angin, awan, burung, atau suara jangkrik. Semuanya memberi pertanda dengan segudang makna.

Sebuah cerita menyegarkan yang sayang untuk dilewatkan. Mungkin novel ini akan terasa lebih mengalir bila menggunakan sudut pandang orang pertama karena konflik batin Santiago akan lebih terurai. Terlepas dari itu, Sang Alkemis cocok untuk dinikmati siapa saja. Terutama, bagi mereka yang terperangkap dalam perasaan terbatas untuk mewujudkan impian dan rutinitas yang menjemukan. “…Dan kalau setiap hari terasa sama saja, itu karena orang-orang tidak menyadari hal-hal indah yang terjadi dalam hidup mereka setiap hari, seiring terbitnya matahari.” [hlm. 37] (Dewi Widyastuti)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *