Browse By

Eccedentesiast

ilustrasi: http://www.writerscafe.org/uploads/stories/41520048cfc8c880597ad87de7defb11.jpg

ilustrasi: http://www.writerscafe.org/uploads/stories/41520048cfc8c880597ad87de7defb11.jpg

Oleh : Rizki Fajri Pradhananta

Joko terbangun dan terperanjak dari tempat tidur kecilnya. Dengan mata terbelalak penuh dengan keringat yang bercucuran ia diam membeku. Teringat betul apa yang ada dalam mimpinya saat ia dikejar-kejar oleh seekor ular yang sangat besar dan berusaha untuk memangsa dirinya.

“Sial mimpi itu lagi” batinnya.

Joko pun bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan mengambil segelas air putih untuk menenangkan dirinya. Ya, Joko memang akhir-akhir ini selalu mengalami mimpi yang sama. Setelah cukup meneguk segelas air, ia kembali pada tempat tidurnya dan segera melanjutkan tidurnya.

Pagi pun datang, seberkas sinar mulai menyeruak ke dalam ruangan melalui sela-sela panel mozaik kaca yang terletak tepat disebelah tempat tidur joko. Dengan malas ia pun mulai membuka matanya dan duduk sejenak berusaha untuk mengumpulkan segenap nyawanya. Ia bergegas menuju kamar mandi untuk melakukan ritual paginya, mandi. “When you feel so tired , but you can’t sleep..Stuck in reverse” tiba-tiba ponsel joko berdering melantunkan ringtone dari band Coldplay, lagu favoritnya Fix you. Dengan berbalut sebuah handuk putih ia berlari keluar dari kamar mandi untuk meraih ponselnya

“Halo, dengan joko disini.” ucapnya.

“Halo, halo…dengan siapa saya berbicara ?” ulangnya lagi.

Tiada balasan yang terdengar dari penghujung telepon tersebut. “Tut..tuut..tuut” seketika panggilan tersebut terputus. “Hmmm……” gumamnya. Ia pun segera melanjutkan ritual paginya yang sempat terhenti.

Setelah rapi berpakaian menggunakan dasi hitam, kemeja putih, dan celana hitamnya ia pun mengambil tas selempang kulit hitam miliknya. Warna hitam sudah menjadi warna favoritnya sejak dulu dan tak mudah kotor pikirnya. Setelah itu ia segera bergegas meninggalkan apartmentnya yang terletak di lantai 20 pada sebuah bangunan kokoh nan tinggi di ibukota.  Tidak ada yang spesial pada hari ini baginya. Semuanya terasa berjalan begitu saja seperti biasanya sampai ia merogoh koceknya dan baru sadar bahwa ia melupakan ponselnya setelah ia sudah  berada di dalam lift dan tiba di lantai 1.

“Sial, bagaimana aku bisa lupa arrgh” umpat joko dalam hati.

Ia pun langsung menekan tombol angka 20. Setelah kembali ke kamarnya dan mengambil ponselnya, ia pun bergegas menuju lift kembali. Pada angka 14 lift itu berhenti dan pintunya pun terbuka. Nampak seorang ibu muda berparas cantik dengan mengandeng seorang anak laki-laki yang kira-kira baru berumur 5 tahun berpakaian layaknya anak TK. Ibu muda pun tersenyum sejenak kepadanya lalu ia bergegas memasuki lift. Joko membalas senyuman ibu muda tersebut lalu mencoba  membuka obrolan untuk sekedar basa- basi.

 “Selamat pagi bu Ria dan dik Ari ” ucap Joko.

“Pagi..” balas ibu muda tersebut dengan senyuman simpul.

Lift berhenti di lantai 1 dan mereka keluar sembari melambaikan tangan.

Joko pun menelusuri jalan yang ia biasa lewati untuk menuju tempat kerjanya. Bisingnya suara klakson kendaraan yang terjebak macet dan orang-orang yang berteriak menjajakan dagangannya di pinggir jalan telah menjadi musik yang tak asing bagi telinganya. Setelah beberapa menit melangkah ia pun berhenti di depan ibu tua renta yang terlihat seperti tak terurus. Seperti biasanya ia mengeluarkan plastik makanan yang berisi beberapa buah pisang yang telah ia siapkan untuk makan siang nanti dan memberikan sebagian untuk ibu tersebut. Sang ibu tua renta pun menangguk lemah dan tersenyum kepadanya. Joko pun membalas senyumannya dan kembali melanjutkan perjalanannya. Lalu ia mempercepat langkahnya seakan-akan mengejar sesuatu. Sesampainya di persimpangan jalan, joko langsung menoleh ke kanan dan ke kiri dengan ritme yang cepat. Matanya pun menangkap sosok yang ia cari. Sosok tersebut merupakan seorang pria tua yang mengenakan kaca mata hitam dengan sebuah tongkat, ia berdiri tepat di pinggir trotoar seperti hendak menyebrang. Setelah menghela nafas yang panjang seakan lega telah menemukan apa yang ia cari. Ia lalu menghampiri sosok tersebut dan lalu membantunya menyebrangi jalan. Pria tua itu lalu tersenyum dan joko selalu membalas senyumnya meskipun ia ragu jika pria itu dapat melihat senyumnya.

Dengan langkah gontai akhirnya pun ia sampai di kantornya, dan tak lupa ia  menghampiri alat pemindai wajah yang bertugas untuk mengabsen para pegawai.

“Terima Kasih” ucap alat pemindai wajah tersebut.

Ia lalu melanjutkan langkahnya menuju bilik kerjanya yang tak begitu luas. Bilik ini sudah  menjadi teman dalam keseharian joko selama kurang lebih 5 tahun. Dengan meneguk kopi yang biasa disediakan oleh mas Hadi  si OB kantor, ia pun mulai tenggelam dalam kesibuknya sampai suatu suara memecahkan konsentrasinya.

“Joko , dalam 15 menit mohon siapkan rapatnya ya” ujar pria berbadan tegap namun sedikit kurus. ‘Baik, pak’ sahut Joko. Setelah rapat usai dan jam bekerja pun berakhir, ia bergegas bangun dan segera menuju alat pemindai wajah untuk absen pulang. “Terima kasih” jawab si alat pemindai wajah.

Lalu, Joko berjalan dengan ritme langkah terburu-buru meninggalkan kantor menuju apartemennya. Lalu langkahnya terhenti sampai disebuah gang yang berada di tengah 2 bangunan pencakar langit. Tampak seorang pemuda dengan setelan serba hitam sedang menunggu di sisi gelap ujung gang itu. Joko pun menghampiri dengan langkah penuh keraguan. Ia mergenyitkan dahi dan berusaha tersenyum kepada pemuda tersebut. Pemuda itu pun lalu memberikan bungkusan hitam yang terlihat tidak terlalu besar. Tak lama berselang, Joko kembali berjalan pulang dengan ritme langkah yang lebih pelan.

Sesampainya di apartment ia memutar voicemail dan duduk di ujung tempat tidurnya sambil memegang bungkusan hitam yang ia dapatkan.

“Selamat pagi bapak Joko, tagihan kartu kredit anda sudah jatuh tempo.

Mohon segera dilunasi. Beep..beep..” Pesan demi pesan mulai menggema di ruangan “Le, lapo telfone ora diangkat? Kapan ibu iso nimang cucu ? Wes nduwe calon durung? Iki ibu nduwe konco gelem ora karo anake ? Anake ayu loh…beep beep” Joko pun mulai membuka bungkusan hitam yang ada ditangannya. Ada sebuah suntikan yang telah terisi cairan bening dan semacam tali karet. Diikatkan tali karet ke lengannya dan ia mulai menghela nafas sedalam-dalamnya sambil menepuk pelan lengannya lalu menusukkan jarum ke lengannya.

 “Arrgghhhh…” Geramnya.

Ia mulai menjatuhkan tubuhnya di ranjang kecil sambil tersenyum menatap ke arah panel mozaik kaca yang memancarkan cahaya yang sangat beragam. Perlahan kepingan memori demi memori mulai menyeruak di pikirannya. Terlintas bayangan saat seorang wanita dan pria berada di atas ranjang

“Mas, sepertinya Ari akan mempunyai adik lagi.” Ujar wanita tersebut.

“Siapa ayahnya ?” tanya Joko.

Mendadak semua terasa menjadi gelap sesaat kemudian memori lain pun menampakkan dirinya, kali ini ia berada di bilik kantornya. Tampak pria tegap namun agak kurus itu sedang mencerca dirinya.

“Goblok kamu ! pekerjaan semudah itu tidak selesai sesuai deadline?!! Ini sudah tanggal berapa ?! Kamu sudah bekerja disini berapa tahun hah ?!” Ujar pria itu.

“Iya, maaf pak.” Jawabnya dengan nada rendah.

“Gaji gak seberapa, kerjaan numpuk, gak mikir apa si tua bangka itu?! Arrrgh!! ” kesalnya dalam hati.

Namun bayangan itu berangsur lenyap, seiring dengan lenyapnya cahaya itu dari pandangan ia pun tertidur mungkin untuk yang terakhir kalinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *