Browse By

Girls Support Girls: Sebatas Alat Pencari Pembenaran?

79423

Dewasa ini, feminisme semakin diterima luas oleh masyarakat. Walaupun ada sebagian orang (bahkan kaum perempuan sendiri) yang mengklaim menolak ide ini, namun tidak bisa dipungkiri keberadaannya merubah tatanan sosial menjadi lebih baik. Memang, masih banyak yang perlu diperjuangkan tetapi gerakan feminisme telah membantu mempersempit jurang ketimpangan antar gender serta menghapus cap perempuan sebagai second sex. Kepopuleran dan sepak terjang gerakan feminisme di Indonesia tidak lengkap bila tidak mengingat salah satu tokoh perempuan yang bernama R.A Kartini. R.A Kartini merupakan salah satu tokoh perempuan yang memulai gebrakannya dengan memperjuangkan kesetaraan hak dalam mengenyam pendidikan bagi kaum perempuan. Gerakannya dinilai mampu mengubah pola pikir masyarakat yang kuno dan menganggap bahwa pendidikan hanya untuk laki-laki menjadi berubah dan mulai memberikan kesempatan bagi perempuan untuk ikut ambil bagian dalam memajukan negara Indonesia. Selain R.A Kartini, gerakan feminisme sebenarnya tanpa sadar telah banyak dilakukan oleh para pejuang wanita di berbagai daerah seperti Cut Nyak Dien yang meninggalkan sejenak urusan rumah dan dapur untuk ikut maju ke medan perang melawan kolonialisme. Hingga saat ini gerakan feminisme terus mengalami perkembangan yang terlihat dari beberapa permasalahan dan bagaimana kampanye-kampanye baru hadir mewarnai isu ini.

Dari sekian banyak gerakan yang menjadi kampanye para feminis, mungkin kalimat “Girls Support Girls” lebih sering terdengar. Hal ini disebabkan oleh perwujudannya yang dekat dengan keseharian kita. Girls support girls sendiri secara garis besar adalah gerakan saling mendukung dari perempuan ke perempuan lainnya. Di tengah masyarakat yang kompetitif dan saling mencoba mengadu domba, sudah seharusnya kita bisa menjaga satu sama lain. Gerakan ini tercatat pertama kali dilakukan oleh Anyssa Richardson dari Arizona, Amerika pada 2017 dimana ia membagikan kisahnya melalui sebuah tweetAku bertanya kepada seorang gadis di mana dia merawat kukunya, dia mencari alamat yang sebenarnya di Google & menunjukkan kepadaku, itu yang dinamakan girls support girls”. Sekilas mungkin terlihat sebagai aksi yang sangat sederhana, namun tweet Anyssa tersebut tenyata mendapat respon yang luar biasa. Banyak perempuan lainnya membalas dengan berbagi cerita-cerita serupa. Aksi-aksi sederhana itu tenyata memantik rasa keterikatan para perempuan. Demikian bagaimana tweet tersebut bisa memicu sebuah gerakan baru di Internet.

Sumber Foto : Selancar.id. https://selancar.id/apa-itu-feminisme-perlukah-feminisme-di-indonesia/

Sumber Foto : Selancar.id. https://selancar.id/apa-itu-feminisme-perlukah-feminisme-di-indonesia/

Namun, apabila kita melihat perwujudannya saat ini, bisa terlihat hal ini semakin menjauh dari arti Girls support girls yang sesungguhnya. Ada segelintir orang yang secara sengaja memakai kalimat ini untuk mem-backing kepentingan dirinya sendiri. Dalam artian, menjadikan kalimat ini sebagai alat untuk menjustifikasi kelakuannya. Tidak peduli itu salah atau benar. Salah satu dari sekian banyak contohnya, saat seorang perempuan membagikan kisahnya menjadi seorang simpanan orang lain, ia setelahnya menerima banyak cacian dan kemudian heran mengapa banyak yang tega menjatuhkan sesama perempuan.

Padahal, ia sendiri sebenarnya juga sedang menjatuhkan perempuan lain dengan cara menjadi seorang simpanan orang lain yang sudah memiliki pasangan. Kecenderungan seseorang untuk mencari pembenaran seperti inilah yang kemudian mengaburkan tujuan dasar yang awalnya ingin dicapai melalui rasa solidaritas. Perlu digarisbawahi bahwa masih terdapat batasan-batasan yang tidak bisa dibenarkan hanya dengan berlindung di bawah payung “perempuan”. Dan sebenarnya dengan cara-cara pembenaran yang menggunakan feminisme sebagai tameng ini merupakan hal yang menyimpang dari apa yang mungkin diharapkan kartini ketika beliau menyerukan dengan lantang tentang kesetaraan hak untuk semua perempuan dalam memperoleh pendidikan

Menjadi seorang perempuan memang tidak mudah. Apalagi dengan masyarakat yang cenderung abai terhadap hal macam ini. Kampanye feminisme modern “Girls support girls” yang mendorong perempuan untuk saling menolong dan mendukung bukannya malah bersaing dalam menjalani kehidupan ini boleh jadi merupakan gerakan lanjutan dari gerakan R.A Kartini yang begitu mendobrak. Lantas apa yang bisa dilakukan untuk membuat kampanye feminisme menjadi suatu hal yang berdampak baik dalam kehidupan ini? Kita bisa memulainya dari aksi kecil kemudian ke hal yang lebih besar. Misalnya mendukung dan mengawal korban penyintas pemerkosaan untuk menuntut keadilan. Tidak sedikit masyarakat yang masih menyalahkan si korban dan malah acuh terhadap tersangka. Disinilah gerakan Girls support girls dibutuhkan, memerangi diskriminasi yang masih terjadi hingga kini dirasakan oleh kaum perempuan. Dengan bersatu, suara-suara kita menjadi lebih besar dan, semoga, akan terdengar. (DST)

Penulis : Delfi Destiyanti
Editor : Eki Rastiti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *