Browse By

Guanina, Guanina, Guanina

Cerpen Sukmaning Wahyu

 

Ilustrasi http://www.best-norman-rockwell-art.com

Dari seminggu lalu, wajahku terasa berbeda. Awalnya aku mengira hal ini tak lebih karena aku baru saja menikah. Kukira sesuatu yang wajar merasakan perubahan-perubahan kecil selepas lajang. Tapi kian kemari aku sadar, kata “wajar” tak punya wadah yang tetap.

Ketika itu, senin sore, aku dalam perjalanan pulang dari kantor menuju rumah. Seperti biasa aku menyusuri jalan arteri dengan berjalan kaki. Kalau tak ada acara lain, seperti “menilai buku dari sampulnya,” perjalanan itu hanya perlu waktu sepuluh menit.

Hari itu sungguh ramai. Baik jalanannya, baik trotoarnya. Sampai-sampai aku menyangka trotoar dengan sengaja menyempitkan dirinya sendiri. Meski sebenarnya aku tak merasa itu semua ada gunanya juga, karena tak satupun bagian dari keramaian itu menjadi teman seperjalananku. Tapi taruhlah aku tak benar-benar sendiri. Setidak-tidaknya masih ada sebuah tas kerja menggelantung di tanganku. Ia terayun pasrah mengikuti gerak pokoknya. Ia seolah mengerti dengan kebosanan tuannya, maka dengan begitu dinamis ia bergerak dalam suatu garis yang tak tampak. Ia seorang penghibur—setidaknya dengan tak membuat berkas-berkas didalamnya kabur.

Di sepanjang jalan yang dipenuhi etalase-etalase bermacam hal itu, mataku begitu jalang. Seperti halnya bocah penakut yang berjalan sendiri dalam kegelapan malam. Tapi bukannya pada perempuan-perempuan muda yang berlalu lalang, tapi justru tertuju pada benda-benda yang dapat merefleksikan wajahku. Seperti kaca lebar di setiap muka toko. Perjalanan pulang itupun terasa seperti bertamasya ke dalam benak sendiri. Hingga di depan satu toko, sebuah toko sepatu, sebentuk cermin oval menghentikan langkahku.

Untuk apa sebuah toko sepatu memasang cermin di depan tokonya? Ditambah lagi posisi cermin yang ditujukan untuk tubuh bagian atas. Apakah mereka pikir orang akan membeli sepatu dengan sebelumnya melihat wajah mereka? Atau dengan sebelumnya sadar kalau letak dasi mereka tak seberapa rapi? Atau berharap pembeli mengenakan sepatu di wajah mereka? Teknik marketing memang tak pernah bisa kumengerti.

Cukup lama aku terbengong disini. Mungkin sekitar setengah jam—itupun sudah tak dihitung waktu untuk menyadari bahwa aku sedang terbengong. Cermin itu seperti memancarkan kekuatan magis, seperti pohon Kepuh di pekuburan Bali. Aku seolah menjadi sepucuk surat yang tak kuasa mengelak untuk dibaca. Melongo begitu saja memandangi wajahku sendiri yang lama-kelamaan tak kukenal dan malah membuatku takut.

Dimulai dari hidungku yang berubah jadi sebesar mengkudu, mata menyelinapkan sorot yang tak bersahabat, pipi menampakkan lesung pipit yang tak lazim, daguku yang sepaginya masih terbelah indah sekonyong-konyong asimetris, gigi-geligi rumpang ditengah dan saling bertindih lainnya, aku pun kehilangan tulang pipiku yang menawan. Dan rambut dan alis dan bulu mata dan bibir dan ini dan itu dan semuanya, turut berubah. “Ini bukan wajahku,” aku menghadik dalam hati. Tapi gambaran ini juga senyatanya refleksi sebuah cermin. Bukankah cermin tak pernah berbohong?

Aku masih melongo. Angin kota kemudian dengan mendakak seperti membisikkan kata-kata peringatan yang menyadarkanku. Belenggu itu—sepertinya bukan kata yang tepat untuk kejadian ini—lalu lepas.  Lalu wajah yang dirujuk setiap meja operasi plastik inipun kembali. Ah, wajahku. Aku meraba-rabanya dengan kegirangan. Meski seusai itu, kelegaan itu, seolah ada pertanyaan yang tak akan pernah bisa kujawab dan kulupakan. Seperti: Tersadar dari apa? Dan peringatan untuk apa? Aku pun melanjutkan perjalananku dengan pertanyaan yang terus membuntuti, meninggalkan cermin itu di belakang kepalaku.

Beberapa meter dari rumah aku berlari-lari. Aku tak tahu apa yang membuatku berlari. Sesampainya di rumah, dengan nafas terkejar, tak kuberi kesempatan istriku bicara duluan, aku langsung meringkusnya, “Apa aku benar-benar sudah tua, sayang?” Nadaku begitu serius, sehingga orang mungkin akan mengira aku sedang membicarakan sebuah kasus pembunuhan. Alisnya mengernyit, tapi ia tak mengatakan apa-apa.

Keesokannya, sepulang kerja juga, aku memutuskan untuk kembali ke toko itu. Sebenarnya ada jalan lain yang bisa kutempuh untuk pulang, bahkan jauh lebih dekat. Lima menit lebih cepat dari jalan yang biasa kulalui. Tapi itu jalan yang paginya kulalui menuju kantor dan aku tak suka melewati jalan yang sama pulang-pergi.

Dari jauh sudah kusasar cermin itu. Kaca-kaca etalase sudah kucampakkan semua. Aku tak peduli pada keramaian di kedai kopi. Pikiranku hanya tertuju pada cermin itu. Ketika aku akhirnya sampai di depan cermin itu, hal yang sama kembali terjadi. Hanya saja kali ini tentu aku tak begitu terkejut.

Aku beranikan diri menyentuh wajahku. Kurabai wajahku. Betapa herannya. Tiap bagian yang kusentuh, terasa tak seperti yang tampak di cermin. Aku pernah memegang mengkudu, tapi hidungku tak terasa seperti itu. Aku begitu hafal kehalusan pipiku. Seperti halnya bagian-bagian lain, dagu yang kubangga-banggakan pun masih terasa seimbang belahan kanan dan kirinya. Apakah cermin ini berbohong padaku?

Tangan kananku masih meraba-raba sekeliling dahi ketika telepon genggamku berdering. Suranyanya yang nyaring langsung membawaku melangkah menjauh dari cermin itu sembari menyapa orang yang meneleponku dari seberang sana. Tapi aku tak begitu mendengar apa yang dikatakannya, pikiranku masih melulu soal wajah itu.

Sampai di rumah, dari arah dapur, “Apa kau merasa tua lagi, Sayang?” Mungkin, batinku.

Meski mungkin juga aku salah. Tak mesti orang yang semakin tua wajahnya semakin buruk, bukan? Selain itu, siapa yang menjamin sebuah cermin tak mampu berbohong? Orang hanya mengatakan cermin tak pernah berbohong, bukannya tak mampu, bukan? Tapi sekeras apapun aku meyakinkan diri, bayangan wajah itu terus saja muncul. Itu membuatku tak lagi enak makan. Padahal omlet bertabur keju kesukaanku terhidang di depan mata. Mata? Apa mataku yang salah? Ah, tapi omlet bertabur keju ini sama sekali tak membuatku tak mengenalinya. Aku tetap tahu itu omlet bertabur keju. Bagaimana dengan cermin rias di kamarku? Tadi pagi wajahku tetap tampan dihadapannya. Tapi tak ada salahnya kalau aku mengeceknya lagi kali ini. Aku bergegas menuju kamar, istriku membebek tak lama setelahnya, sepertinya ia khawatir.

“Sayang, ada apa denganmu? Sepertinya kau begitu mengkhawatirkan wajahmu.”

Tak kujawab.

“Kau begitu tampan, apa yang kau takutkan dengan itu, Sayang?”

Tak kujawab. Lalu ia memelukku dari belakang.

“Wajahku normal saja,” kataku.

“Tentu saja, Sayang. Apa yang merisaukanmu?”

Tak kujawab.

“Mari kita tidur.”

Aku pernah membaca tentang Narcissus, anak dewa dalam mitologi Yunani Kuno yang mati karena tak kuasa melepaskan diri dari kekaguman akan dirinya sendiri. Tentu aku tak seperti itu. Aku tak sedang mengagumi diri sendiri. Aku hanya heran, mengapa hanya cermin itu yang menampakkan wajahku dalam rupa aneh dan buruk itu? Bahkan cermin yang sengaja kutaruh di laci kerja kantor, cermin yang paling kupercaya, cermin yang menampakkan wajahku dengan butir keringat kerja, masih saja menunjukkan wajahku yang tampan. Ada apa dengan cermin itu?

Hari berikutnya aku memilih tak melewati jalan itu lagi. Aku merasa semua itu hanyalah bunga lelah yang harus kulupakan, seperti halnya bunga tidur. Maka aku memilih melupakan kebiasaanku yang segan melewati jalan yang sama untuk pulang-pergi. Semuanya kembali seperti biasa.

Sampai tiba waktu ketika aku kembali pulang melewati jalan itu. Entah tarikan takdir atau tidak, tiba-tiba teman sekantor—yang lebih tepatnya atasanku—yang biasa pulang-pergi mengendarai mobil mewahnya, mengajakku jalan-jalan melihat-lihat apakah ada sepatu edisi terbatas baru yang bisa dibeli. Dia mengajakku ke belantara etalase itu.

Sudah lebih dari empat toko sepatu kami masuki. Tak ada yang menarik hati kawanku itu. Tak ada sepatu kulit ular yang dia idam-idamkan. Aku tak pernah mengerti seleranya, ia begitu suka corak-corak seperti kulit buaya ataupun ular. Ia memburu sepatu seperti benar-benar memburu binatang hidup. Alangkah mengerikannya kalau ia diberi senapan—meski sebenarnya ia sudah punya senjata yang lebih mengerikan: uang.

Di toko terakhir yang kami masuki ia marah-marah pada seorang pelayan, “Ini toko sepatu atau kantor lembaga penyayang binatang? Tak ada satupun sepatu kulit ular disini.” Lalu ia bergegas mengajakku keluar. Mulutnya tak henti-hentinya mengumpat. Aku sadar, apapun bisa dilakukan pemburu yang kalap.

Langkahnya bertambah cepat sembari mulutnya terus-menerus bercerita tentang betapa lengkapnya toko sepatu di Orchard Road. Pelbagai jenis sepatu berbahan kulit binatang yang memungkinkan dijadikan sepatu ada disana, imbuhnya. Aku tak kuasa tak pura-pura paham. Siapa yang akan membantah seorang pemburu kalap? Meskipun harus, aku akan menghindari hal itu. Setelah dua atau tiga toko kami lewati, aku sadar kalau toko sepatu yang memajang cermin itu semakin dekat. Tak lebih dari dua toko lagi.

Dan benar saja. Itu toko sepatu terakhir yang belum kami masuki di kompleks pertokoan itu.

“Akhirnya,” kudengar suara kawanku itu hilang ke dalam toko. Ia langsung merangsek masuk dengan kegirangan menyasar buruannya, sepasang sepatu kulit ular. Meninggalkanku di ujung toko sendirian. Mataku kembali menyasar cermin itu.

Tapi. Tapi dimana cermin itu? Tak ada.

Aku ingat betul kalau cermin itu menempel di dinding persis di samping pintu masuk toko. Tapi cermin itu kini sirna. Dan pintu masuk toko itu barang sedikitpun tak berpindah. Tembok itupun belum juga berubah. Kemana cermin itu?

Aku masuk ke dalam toko. Mataku menjelajah seluruh bagian toko. Tak kutemukan. Aku perhatikan setiap cermin yang ada. Tak kutemukan. Aku menanyakannya pada penjaga toko ihwal cermin itu. “Kami tak pernah memasang cermin di depan toko,” katanya.

“Tapi aku pernah bercermin padanya, mana mungkin kalian tak pernah memasangnya,” kataku.

“Beberapa kali—tepatnya dua kali—saya melihat tuan berdiri menghadap tembok itu. Tapi saya tak tahu Tuan sedang apa. Dan kami juga tak berani menegur,” kata penjaga toko yang suaranya terdengar seperti menangis.

Mungkin aku perlu liburan, pikirku. Mungkin pekerjaan yang menumpuk akhir-akhir ini membuatku kurang konsentrasi. Sampai wajah sendiri pun tak kukenali.

Aku melihat jam tanganku, jarum-jarumnya menunjukkan jam setengah tujuh. Istriku pasti menungguku, kataku pada kawanku itu—yang sebenarnya hanya untuk memberiku kesempatan memikirkan kejadian aneh itu. Lalu kami keluar dari toko. Sepasang sepatu diboyongnya. Warnanya begitu cemerlang, aku bahkan dapat melihat wajahku sendiri di sepatu itu. Ia mengatakan kalau itu sepatu edisi terbatas dan tentunya handmade. Aku tak peduli. Lalu kami berpisah. Ia mengaku akan dijemput sopirnya. Aku tak peduli. Kakiku menuju rumah.

Tepat ketika istriku membukakan pintu, aku bertanya, “Apa aku benar-benar sudah tua, Sayang?” Alisnya mengernyit. Lalu  entah kesurupan selera humor siapa, tawanya meledak-ledak. “Ketika kita menikah, saat itu pula kita menjadi tua, Sayang.”

(September 2014)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *