Browse By

Karena di Luar Hujan Gerimis

Oleh: Ajung Suryadipta

ilustrasi http://batamtoday.com

Kota menjadi tujuan kami yang hidup di desa untuk mendapatkan alat-alat bahan bangunan yang berkualitas, sebab di desa kami tidak ada toko yang selengkap di kota.

Apa salahnya untuk mentraktir bocah kelas delapan yang rela mengorbankan waktunya untuk hal yang bukan kepentingannya. Meskipun aku selalu dibuat kesal olehnya yang tak bisa berhenti membicarakan hal-hal yang tidak penting sama sekali.

“Gun, kau sudah sarapan?,” tanyaku kepada Guntur.

“Sudah, tapi sedikit, tadi nenek bilang katanya,”

“Stop, kalau ditanya jawab sekali saja tidak usah ditambah-tambahi,” aku memotong kalimat Guntur, agar tak menjadi kebiasaan untuk mengatakan apa yang tak seharusnya ia katakan apalagi sampai membuat orang lain kesal.

“Iya,” sahutnya singkat.

“Kita ke Ayam Kentuku saja kalau begitu,” aku menawarkan restoran cepat saji yang kiranya tak akan lama menyita waktu hanya untuk sarapan.

“Yes, kebetulan aku ingin cari wi-fi untuk mengunduh LINE,”

Aku menyalakan sen dan memutar kemudi ke kiri.

“Loh ini kan bukan Ayam Kentuku,” kata Guntur.

“Oh iya, ternyata di sebelahnya, hampir saja kita masuk McDouglas,” aku segera mematikan sen, dan menuju ke Ayam Kentuku yang hanya terletak berseberangan dengan McDouglas.

Diluar ekspektasiku Ayam Kentuku saat itu sedang ramai dan antrian membentuk barisan tiga berbanjar. Selama ini tak pernah sekalipun ada niatanku untuk menyusahkan anak kecil, entah kenapa kali ini aku berhasrat melakukannya, mungkin karena di luar hujan gerimis.

“Kau antri disini, aku cuma pesan twisto dan mocha bloat, kau pesan apapun terserah,” kutinggalkan Guntur di antrian kanan, sementara aku menunggu di kursi yang dekat dengan pintu masuk dan menghadap ke antrian sebelah kiri. Sambil menunggu aku memainkan ponsel dan hanya mengecek LINE Group kelas. Sesekali kupalingkan pandangan ke arah antrian kanan untuk mengawasi Guntur, aku membatin jangan-jangan anak itu berulah lagi dengan skill berbicaranya. Dengan memanjang-manjangkan leher aku mencoba melihat posisi Guntur di antrian kanan, yang tertutup antrian tengah dan kiri. Syukurlah hal yang kukhawatirkan tidak terjadi.

Ada sesuatu yang menyita perhatianku di antrian kiri. Ia tampak berbeda, gadis itu mengenakan sweater merah muda, mengenakan jeans hitam, dan running shoes hitam dengan tambahan warna merah muda, dengan wajah khas Asia Timur dan rambut yang dikuncir seperti ekor kuda. Gadis itu memainkan komputer tablet nya yang masih terlilit kabel headphone. Entah sejak kapan ponselku tak lagi di genggaman tanganku melainkan di atas meja, sementara tangan kananku menopang daguku menatap gadis itu. Ia gadis kota yang cantik dan kemungkinan kedua matanya sejajar dengan pundakku. Aku terkejut ketika ia memalingkan tatapannya dari komputer tablet buatan Koreanya dan memandang kearahku, aku membuang muka lalu memalingkan pandangan menatap anak-anak kecil yang sedang bermain di arena bermain yang disediakan di dalam restoran. Ketika ia kembali memainkan komputer tabletnya aku kembali memandangnya, jarakku dengannya sekitar sepuluh meter. Dalam batinku aku tak suka melihatnya mengantri panjang seorang diri, sungguh hal yang aneh untuk dilakukan jika aku mendatanginya dan menawarkan diri untuk menggantikannya mengantri, lalu aku memutuskan untuk berdiam diri saja namun kemungkinan aku akan kecewa jika ada seorang pria yang menghampirinya dan menemaninya mengantri. Ia kembali memandang ke arahku, dengan cepat aku kembali memalingkan pandanganku kearah arena bermain.

Tiba-tiba seorang anak laki-laki yang kemungkinan masih kelas dua sekolah dasar, menuju gadis itu dan memain-mainkan portal pembatas yang berada tepat di sebelahnya untuk menarik perhatian si gadis berwajah asia timur itu, ia memandang tingkah anak itu lalu tersenyum kepadanya. Hal itu membuatku mengernyitkan dahi dan kembali membatin, dimana orang tua anak itu kuharap orang tuanya segera menemukannya, kalau anak itu berani menyentuhnya akan kulempar ponselku yang buatan Tiongkok ke arah anak itu. Hingga tibalah giliran gadis itu untuk memesan makanan, ia memalingkan pandangan ke pegawai Ayam Kentuku untuk memesan makanan.

Guntur sudah berada di depanku membawa nampan. Pandanganku teralihkan dari gadis kota itu.

“Ini mas, semuanya lima puluh lima ribu, ini kembaliannya,” kata Guntur mencari sesuatu di kantongnya.

“Ok, kembaliannya kau bawa saja dulu, untuk membeli pesanan nenek di minimarket di desa,” sambungku untuk menghentikan gesturnya.

Lalu Guntur beranjak untuk memabasuh tangan. Gadis itu tak lagi berada di antrian, aku mengedarkan pandangan ke seluruh restoran namun tak menemukan hasil. Setelah menghabiskan twisto dan mocha bloatku lebih cepat dari biasanya, aku segera beranjak menuju mobil karena tak perlu membasuh tangan.

“Kutunggu di mobil, cepat jangan buang-buang waktu,” kataku kepada Guntur yang masih mengemut sisa tulang ayamnya.

“Iya iya, ini sudah 85% unduhan LINEku,” kata Guntur, sambil memperlihatkan layar ponselnya.

Perjalanan kembali ke desa tak pernah terasa lebih panjang dari hari ini, mungkin karena di luar hujan gerimis. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *