Browse By

Ketika Seniman Beraksi di Panggung Politik

Perubahan. Kekal dan seringkali menuai kontroversi. Namun tanpa perubahan, manusia sepertinya tidak akan berkembang dan tetap berjalan mengikuti jejak-jejak mati. Bukannya tak mungkin umat manusia nantinya hanya berkutat pada hari yang begitu-begitu saja dengan hal yang sama terus-menerus.

Setiap insan memerlukan perubahan dalam hidupnya, bahkan yang paling kreatif sekalipun. Di dunia ini, sebut saja orang-orang kreatif itu sebagai seniman. Biasanya, apa yang dilakukan para seniman itu luar biasa. Menggaet banyak ‘pengikut’ melalui karya-karyanya yang hampir semuanya spektakuler. ­Selalu saja ada hal baru yang dibuat oleh mereka dan menjadi tontonan orang banyak (baca: masyarakat). Selain berperan sebagai tokoh, seniman juga acapkali disebut-sebut sebagai pengamat sosial yang mengkritik kejadian-kejadian tak normal di sekitarnya dengan membuat sebuah atau beberapa karya yang memengaruhi orang-orang untuk ikut melihat dan menilai keadaan. Hebatnya lagi, para pakar kreatif ini selalu menghasilkan karya yang bersifat membela rakyat dan atau menyadarkan banyak orang untuk selalu berpikir jernih.

Wajah-wajah publik figure yang tidak asing di layar kaca, kini terjun berpolitik (ilustrasi: https://pembrianasiwi.files.wordpress.com/2010/01/kartun.jpg)

Wajah-wajah publik figure yang tidak asing di layar kaca, kini terjun berpolitik
(ilustrasi: https://pembrianasiwi.files.wordpress.com/2010/01/kartun.jpg)

Banyak cara yang diusahakan para seniman untuk memperjuangkan teriakannya agar setidaknya didengar dan direalisasikan, namun seringkali gagal dan hanya ditanggapi sebatas angin lalu. Saban hari, karya saja tidak cukup. Saban tahun, perubahan pun muncul. Merasa bosan karyanya kurang diperhatikan, maka kini seniman pun memulai aksinya ke tingkat yang lebih tinggi. Dari yang sebagai seniman asal rakyat biasa, menuju seniman berwujud pejabat pemegang kekuasaan. Mungkin terdengar sedikit menyeramkan. Pemegang kekuasaan. Dua kata tersebut selama ini mendefinisikan kehidupan politik Indonesia yang kotor. Siapapun yang menjalaninya akan menjadi kotor. Kotor dalam artian banyak hal tentunya, dan kata orang, sudah pasti tidak baik. Imajinasi semu seperti itulah yang kerap diterima masyarakat sehingga muncul paradigma bahwa lebih baik tidak berurusan dengan hal-hal yang berbau politik. Namun jika tidak ada yang mau berurusan dengan politik, negara Indonesia hanya akan berjalan di tempat. Maka, mereka yang berkemampuan dan berani menanggung harapan orang banyaklah yang harus maju mengisi kursi-kursi kosong di atas, tidak terkecuali para seniman.

Sudah hal yang biasa pada zaman modern ini, seniman  menginjakkan kakinya pada panggung politik. Dari yang selama ini hanya berjalan di tanah kehidupan, mengaiskepercayaan orang dari sebuah karya, kini memberanikan diri menyodorkan harapan besar untuk orang banyak melalui tingkatan yang lebih tinggi yang entah itu tanpa melupakan identitasnya sebagai seniman atau sebaliknya. Trend seniman menjadi bagian dari partai politik ini jelas menuai banyak pendapat, kritik, dan kontroversi. Masih banyak yang berseru; para seniman tidak cocok berada dalam kawasan politik karena hanya bersifat semu. Banyak partai yang meminang seniman layaknya artis top untuk menggaet popularitas dan meningkatkan elektoral partainya. Sah saja kalau mampu, kalau tidak, hanya akan jadi badut politik. Ada juga kabar burung yang mengatakan seniman yang berpolitik sudah bukan seorang seniman yang berkualitas lagi karena akan susah menggunakan jiwa seni nya dalam berpolitik. Bayangkan, dari awalnya ingin membela rakyat dengan membangkitkan rasa berbudaya dan kesenian, ujung-ujungnya jadi capek sendiri dan kalah dalam persaingan antar individu saat berpolitik.

Dari sebagian anggapan seniman yang memasuki kawasan politik adalah hal yang tidak sepantasnya, tidak menutup kemungkinan bahwa mereka tidak mendapat celah sedikitpun untuk menjadi bagian partai politik. Sah-sah saja seorang seniman masuk kedalam ranah politik, pasalnya seniman memang sangat dekat dengan politik. Namun yang harus diperhatikan adalah tentang kualitas dan kapasitas mereka nantinya. Banyak seniman yang cerdas dan memiliki pemikiran serta pribadi yang baik dalam pengabdian mereka untuk bangsa dan negaranya. Namun mengenai kemampuan mereka dalam berpolitik, semua dikembalikan kepada pribadinya masing-masing karena ketika sudah memasuki kawasan tersebut, mereka yang mampu terjun akan sukses dan sebaliknya, mereka yang tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk menjalani kehidupan politik hanya akan menjadi pemanis yang bisanya cuma duduk diam tanpa karya.

Ikut atau tidaknya seorang seniman dalam berpolitik bukanlah masalah, karena setiap individu memiliki hak asasi tersendiri dalam memilih jalan yang ingin diteruskan. Namun saat mereka memilih untuk memajukan ‘bangsa’ demi kebudayaan dan kesenian yang selama ini menjadi persoalan pelik, seniman yang berpolitik ini setidaknya harus memiliki intelektual yang tinggi dan mampu berpikir cerdas. Mereka harus mampu memberikan gagasan yang berkualitas dan bersedia mewujudkan serta siap bertanggung jawab dalam pelaksanaannya. Sehingga citra dan ‘nama’ seniman-nya tidak luntur begitu saja meski berkarya melalui media politik. Tidak sedikit seniman berbakat yang menuangkan buah pikirannya melalui jalan ini. Sebut saja Rike Diah Pitalioka, Mi’ing, dan Nurul Arifin yang begitu cerdas, Tantowi, dan masih banyak lagi yang lain tokoh seniman yang berperan dalam ranah politik dan sukses menjalaninya.

Kebebasan mencipta dan memilih jalan untuk berkarya (ilustrasi: http://www.bintang.com/lifestyle/read/2497221/4-fakta-mario-miranda-yang-jadi-google-doodle-hari-ini)

Kebebasan mencipta dan memilih jalan untuk berkarya
(ilustrasi: http://www.bintang.com/lifestyle/read/2497221/4-fakta-mario-miranda-yang-jadi-google-doodle-hari-ini)

Tidak ada yang salah jika seniman mencoba media baru untuk mengapresiasikan ledakan seninya sebagai karya yang hendak dipajang di ruang politik. Mereka semata-mata ingin perubahan baru. Perubahan yang dibuat orang-orang kreatif, yang semasa hidupnya berjuang demi kesejahteraan banyak orang. Mereka yang kerap berpikir di luar kotak, sedang bertarung melawan ketidakadilan. Seniman yang mampu akan bertahan dan selalu menyumbang karya berkualitas yang dapat dinikmati orang banyak, asal menyadari kapan tampil sebagai seniman dan kapan sebagai aktivis partai. Sedangkan seniman yang hanya menumpang nama, dapat disaksikan bersama masa berlakunya dalam waktu dekat. Dalam konteks ini, paling tidak kreatifitas seniman diuji untuk melakukan pemilahan mana ranah politis, mana yang sekadar sebuah strategi saja dalam orientasi turut mengembangkan kebudayaan, sastra dan berkesenian di daerah. Biarkan mereka menari lepas di atas panggung. melukis cerita politik nan elok, hingga kelak, orang-orang kreatif itu mampu menggiring banyak orang menuju arah perubahan yang lebih baik. (Fina)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *