Browse By

Kisah Lucu : Korupsi dan Seks Seakan (selalu) Berdampingan

Seperti sudah didengar oleh semua rakyat, Presiden SBY, dalam sambutannya yang disampaikan di Istana Negara dalam rangka peringatan Hari Anti Korupsi Dunia, 10 Desember 2012 lalu, mengeluarkan sebuah pernyataan resmi atas nama pemerintah dan negara.  Dari sekian banyak paparan yang disampaikan, ada satu paragraf yang sangat penting untuk disimak, bukan karena pernyataan ini kontroversial, tapi tak lebih karena pernyataan ini berisi tekad presiden dalam konteks pemberantasan korupsi di dua tahun terakhir masa pemerintahannya, tahun 2013 hingga 2014.

Korupsi dan seks menjadi bagian dari kisah memilukan negri ini (Ilustrasi: http://jogja.tribunnews.com/2012/06/08/tiga-sosialita-barter-seks-dengan-proyek)

Korupsi dan seks menjadi bagian dari kisah memilukan negri ini
(Ilustrasi: http://jogja.tribunnews.com/2012/06/08/tiga-sosialita-barter-seks-dengan-proyek)

Kemunculan tiga perempuan cantik dalam kasus korupsi impor daging sapi atas diri tersangka Ahmad Fathanah membuat publik sulit untuk mengingkari adanya persoalan sampingan yang menyertai kasus ini, yaitu persoalan esek-esek yang kata Sutan Batugana “ngeri-ngeri sedap”. Kasus ini semakin menguatkan tesis yang selama ini diyakini publik, tetapi sulit dibuktikan, bahwa perilaku korupsi seseorang didorong oleh nafsu esek-esek para pelakunya. Ketiga perempuan cantik yang menjadi saksi kasus ini adalah Maharany Suciyono, mahasiswi salah satu universitas swasta di Jakarta yang tertangkap berada sekamar di hotel Le Meridien bersama tersangaka. Rani, demikian sang mahasiswa tersebut dipanggil, mengaku mendapat imbalan Rp 10 juta atas jasanya “menemani” Ahmad. Perempuan berikutnya adalah Ayu Azari, artis kawakan yang mulai pudar pamor dan popularitasnya, yang mengaku mendapat uang Rp 20 jt dan 1800 dolar Amerika atas jasa 4 kali pertemuan yang disebut Ayu sebagai “entertainment fee” yang diberikan kepada Ahmad periode 4-9 Desember 2012. Yang terakhir adalah Vitalia Sesha, seorang model majalah pria dewasa, yang dihadiahi mobil Honda Jazz, jam tangan mewah, dan berbagai perhiasan mahal lain sebagai imbalan menjadi “teman akrab” tersangka.

Masih ada perempuan muda lain Sefti Sanustika, 25 tahun, istri muda Ahmad yang tinggal di apartemen daerah Depok dengan sewa 3 juta per bulan. Sefti yang sebelumnya berprofesi sebagai penyanyi dangdut dengan single “Tukang Porot” dikawini Ahmad Fathanah pertengahan 2011 silam. Sebelumnya Sefti dikenalkan kepada AF oleh temannya yang bernama Tri Kurnia Puspita, sesama penyanyi dangdut. Belakangan diketahui bahwa AF juga loyal dengan Tri Kurnia dengan memberikan berbagai hadiah dan sejumlah uang.

Berseliwerannya para perempuan muda, seksi, dan cantik di kasus suap yang diduga dilakukan oleh AF ini menunjukkan betapa rendahnya moral para koruptor. Uang yang mereka rampok dari negara mereka belanjakan untuk urusan yang terkait dengan naluri dan hasrat kebinatangan, yaitu kenikmatan seks. Memang kita tidak dapat membuktikan bahwa AF menggauli para perempuan muda yang disebut di atas, kecuali dengan Sefti Sanustika yang memang istri sahnya. Tentu saja sulit untuk membuktikan bahwa para perempuan muda ini adalah objek nafsu birahi AF. Namun demikian, publik sulit untuk tidak mencium aroma seks yang keluar dari bahasa tubuh dan kata-kata yang keluar dari para perempuan muda ini ketika diwawancarai awak media. Kalau tidak untuk kenikmatan seksual, untuk apa AF memberi puluhan juta, bahkan ratusan, kepada para perempuan ini? Tidakkah ia mendapatkan sesuatu atas uang yang telah diberikannya? Pertanyaan ini sulit untuk dikesampingkan, dan logika ini sulit untuk dilenyapkan dari keingintahuan publik.

 

Sebelumnya, publik juga dibuat ternganga dengan kemunculan para perempuan muda dan cantik lain dalam kasus korupsi simulator SIM yang menjerat Inspektur Jendral Djoko Susilo. Untuk melampiaskan nafsu birahinya, DS

koruptor : ia rampas uang rakyat dan pula harga diri wanita (Ilustrasi: https://www.merdeka.com/peristiwa/pemasangan-chip-suntik-kebiri-potensi-jadi-lahan-korupsi-baru.html)

koruptor: ia rampas uang rakyat dan pula harga diri wanita
(Ilustrasi: https://www.merdeka.com/peristiwa/pemasangan-chip-suntik-kebiri-potensi-jadi-lahan-korupsi-baru.html)

menggunakan metode yang sama yang dilakukan AF dengan memberi harta dan uang yang berlimpah kepada para perempuan muda. Rumah mewah, tempat usaha, mobil, tanah, dan aset lain diberikan kepada mereka sebagai pelicin naluri seks mereka. Bedanya dengan kasus AF, DS melampiaskan nafsunya dengan cara mengawini para perempuan muda ini secara sah meskipun ia harus memalsukan data pribadinya, termasuk umur, karena sebagai PNS ia tak boleh kawin lagi tanpa seijin istri pertamanya. Apa pun caranya, benang merahnya serupa: para koruptor menggumbar nafsu birahinya dengan menggauli para perempuan muda cantik dengan uang yang ia rampok dari negara.

Kedua kasus ini menjadi indikasi bahwa korupsi terkait erat dengan seks. Bukan rahasia bahwa tidak sedikit para pejabat, baik dari eksekutif maupun legislatif, memiliki gundik. Mereka menyimpan dan menghidupi para perempuan muda ini di berbagai apartemen yang bertebaran di Jakarta. Bahkan beberapa pejabat daerah pun memiliki apartemen di Jakarta untuk memelihara simpanan spesial mereka. Karena itu, mereka yang memelihara gundik atau simpanan patut dicurigai sebagai para pelaku korupsi. Jika seorang pejabat menunjukkan perilaku pribadi yang tidak jujur, patut untuk menduga bahwa mereka juga tidak jujur terhadap tugas dan pekerjaan yang diamanahkan kepada mereka.

Menjadi sebuah kisah lucu yang juga memilukan jika diceritakan kepada anak cucu kelak yang akan menjadi penerus bangsa besar bernama Indonesia ini. Jadi, lebih baik kisah ini diceritakan atau tidak kepada mereka? Dapat diceritakan sebagai ironi negri ini dan didiskusikan untuk menjadi pembelajaran, tapi jangan sekali-sekali kisah ini dijadikan cerita dongeng pengantar tidur. Kenapa? Karena cerita ini tidak akan mengantarkan mimpi indah bagi tidur dan juga bagi Indonesia, dan ingat! Kisah ini bukan dongeng, kisah ini nyata terjadi di Indonesia. (M.Arif.V)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *