Browse By

KTP E-KTP KTP ET KTP EK KTP EP

*Oleh Ajung Suryadipta

Jpeg

Menginjak usia kepala dua minus sepertiga kepala satu atau tujuh belas. Suami ibu atau ayah saya menyarankan untuk segera ke Kantor Kecamatan untuk mengurus pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Kemudian kartu magis yang dapat membantu kita membawa kembali dompet kita yang hilang ke rumah tersebut tak kunjung selesai. Hingga akhirnya ayah saya meminta pas foto 3×4 dan tanda tangan saya di kertas putih untuk dibuatkan E-KTP. Selang beberapa hari ayah saya dengan pakaian hijau Hansipnya, bak Gandalf sakti mandra guna melemparkan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (E-KTP) dengan namaku ke meja.

Maju sekitar tiga warsa (masih tentang KTP), seorang sepupu yang kini mengenyam pendidikan S2 di Yogyakarta datang untuk menginap. Malam itu kami tak sengaja menyaksikan sebuah tayangan di salah satu stasiun televisi swasta, yang menampilkan wajah seorang seniman yang sedang diwawancarai dengan background karya lukisan seseorang yang mengenakan pakaian kaum borjuis Eropa masa lampau. Belakangan kami tahu bahwa pria tersebut bernama Djoko Pekik seniman yang sempat dikaitkan namanya dengan organisasi bernama Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sepupu tiba-tiba bergumam sembari mata kami tetap menatap layar kaca. Ia berkata bahwa orang-orang seperti Djoko Pekik ini di KTPnya berisi cap khusus dua huruf kapital yaitu “ET”. Sesaat saya membatin sedikit menghakimi, jangan-jangan Djoko Pekik ini makhluk luar angkasa yang sangat berbahaya, dan datang membawa misi untuk menaklukan bumi. Imajinasi saya lenyap saat sepupu melanjutkan tuturnya bahwa ET adalah Eks Tahanan Politik (Eks-Tapol), bukan seperti yang terlintas di kepala bahwa ET adalah tanda untuk Extra Terrestrial.

Rasa penasaran terhadap KTP dengan cap ET pada Eks-Tapol menggiring saya berselancar. Adapun Deborah Sumini yang mengatakan bahwa dirinya dituduh sebagai Gerwani yang mencukil mata jendral saat peristiwa tahun 1965. Dalam pengakuannya rumahnya digeruduk sekelompok orang dan ia dipukul hingga pingsan, lalu dibawa ke Polres untuk diikat dan disiksa. Setelah dibebaskan dari penjara dan dipulangkan, Deborah Sumini diberikan KTP dengan cap ET yang tak memperbolehkannya untuk keluar kota. Hingga masyarakat selalu memberinya stigma penghianat pembunuh jendral. Cara yang sangat efektif saat itu untuk mendampingi propaganda.

Usulan Jaksa Agung Muhammad Prasetyo pada akhir bulan lalu merupakan usulan yang sangat tepat untuk memberikan efek jera bagi para pelaku korupsi dengan memberikan KTP baru dengan tanda ‘mantan koruptor’ bagi bekas tikus-tikus kantor. Perlahan tapi pasti bibit-bibit kebencian terhadap budaya tikus akan tersebar hingga ke setiap lapisan masyarakat di Indonesia. Setelah keluar dari penjara yang penuh sesak dan mengharuskan tidur berdiri. Kelak terjadi sedih hati eks-koruptor yang anaknya meski jenius tak boleh mendapat ranking di kelasnya karena ulah orang tuanya. Kelak terjadi sedih hatinya eks- koruptor yang anaknya tak diizinkan memarkir kendaraan untuk menyetak skripsi. Kelak terjadi sedih hatinya eks-koruptor yang anaknya dilarang untuk memakai baju berwarna hijau Hansip untuk padamu negeri ia mengabdi bagimu negeri jiwa raganya, terkadang seperempat menunduk pada ia yang memakai peci ala Bung Karno saat apel.

Toh sampai saat ini belum ada koruptor yang dihukum mati dengan cara disuntik mati, mutilasi, maupun diberi pilihan minum kopi untuk terakhir kalinya yang telah dibubuhi arsenik. Seandainya usul seorang mahasiswa tanpa prestasi yang bukan jaksa agung dapat diperhitungkan. Saya hendak mengusul pula, agar tidak menimbulkan cinta lokasi antara cap ET dan EK, besar keinginan saya untuk memperkenalkan orang ketiga diantara mereka yaitu cap EP untuk Eks-Pembunuh untuk mereka yang menyalahgunakan tulup api dengan sengaja. Orang yang mempunyai tulup selain dibawah perutnya tak dapat diremehkan. Bukankah satu orang dengan tulup api mampu membuat 100 orang dengan tangan kosong tertunduk ?.

Sebelum saya lupa dan dikatakan jahil, KTP yang saya urus di kantor camat tiga warsa lalu, sampai ke rumah melalui Kepala Lingkungan tepat tiga bulan setelah E-KTP. Jadi saat ini saya telah mengoleksi kedua varian dari kartu magis ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *