Browse By

Membaca Romantisme Revolusi

Judul buku : Anak-Anak Revolusi (Buku I)

Penulis : Budiman Sudjatmiko

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : 2013

Tebal : 453 halaman

 

Kehidupan di desa yang keras dan kondisi penduduknya yang terjerat tali kemiskinan membuat seorang bocah berusia lima tahun mengalami badai pertanyaan di dalam hidupnya. Kematian tragis seorang kakek bernama Mbah Dimin adalah sebuah pengalaman hidup yang terus bersemayam di alam pikiran sang bocah. Realitas kemiskinan yang berujung pada kematian tragis sebagaimana disaksikannya, membuat ia bangkit untuk lebih giat belajar. Itu pula yang menjadi landasan dalam berpijak ketika ia memutuskan menjadi seorang politisi.

Iko, panggilan kecil Budiman Sudjatmiko, tokoh sentral sekaligus penulis buku Anak-anak Revolusi mengalami pengalaman hidup yang bergejolak sejak masa kanak-kanaknya. Hidup di desa dan melihat langsung bagaimana kemiskinan telah merampas hak manusia untuk hidup membuatnya bertanya-bertanya sekaligus marah. Marah pada semua orang yang tak mampu menyelamatkan nyawa Mbah Dimin yang saat kematiannya tengah terjerat hutang dari rentenir.

Kematian tragis orang desa tidak hanya dilihatnya dalam kasus Mbah Dimin. Pupung, sahabat beda usia yang merupakan seorang pemutar film di desanya pun mati dengan cara sama tragisnya. Bedanya sang sahabat mati karena berhasil bebas dari kungkungan kemiskinan. Ia mati ketika mengenderai mobil yang ia dapatkan sebagai hadiah menang lotre.

Dua realitas kematian orang-orang desa itu membuat Iko tumbuh sebagai seorang “penanya” yang haus akan jawaban-jawaban, yang sayangnya tak ia dapatkan dari keluarganya. Jawaban-jawaban itu justru didapatnya buku-buku tua ‘terlarang’ kakeknya yang disimpan rapi di gudang. Dari sana ia membaca Di Bawah Bendera Revolusi dan mengenal Bung Karno, yang ketika itu dilarang pemerintah. Dari buku pula ia tertarik mendalami ilmu-ilmu politik hingga akhirnya menjadi remaja radikal yang berani menyerukan perlawanan terhadap penguasa yang berkuasa selama lebih dari 30 tahun.

Bersama dengan kawan-kawannya ketika menjadi mahasiswa, Budiman membentuk berbagai organisasi struktural seperti Serikat Tani Nasional (SIN), Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID), PPBI, Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (Jakker), dan Serikat Rakyat Indonesia (SRI) dibawah aliansi Partai Rakyat Demokratik (PRD). Organisasi ini pun kemudian bergerak mengorganisir kekuatan rakyat pedesaan. Meskipun para ‘robot’ kekuasan (intelijen, tentara, ABRI, dan alat-alat negara lainnya) berusaha menggagalkan penyusunan kekuatan ini, namun anak-anak revolusi itu tak patah semangat. Pergerakan di bawah tanah digiatkan. Termasuk ngumpet dari kejaran para ‘robot’ kekuasaan yang represif. Akibatnya, anak-anak revolusi itu dituding sebagai dalang dari peristiwa Kudatuli (kerusuhan 27 Juli 1996) di Kantor DPP Partai Demokrasi Indonesia (PDI), Jl. Diponegoro 58, Jakarta. Budiman yang ketika itu Ketua PRD kemudian dijebloskan ke penjara selama 13 tahun oleh pemerintah.

Budiman melalui buku ini sebenarnya hendak merangkum perjalanan hidupnya dengan gaya novel-otobiografis. Anak-anak Revolusi tidak sekadar berkisah tentang pengalaman penulisnya, melainkan mencoba mengabadikan sejarah perlawanan terhadap Orde Baru dengan menempatkan dirinya sebagai salah satu yang terlibat didalamnya. Benih-benih mencekamnya revolusi yang disuguhkan secara romantik membuat pembaca tidak bosan oleh tuturan Budiman.

Buku ini sangat menarik karena pembaca akan dibuat bertanya-tanya apakah yang akan terjadi ketika sang penulis, yang juga tokoh utama penantang Orde Baru, menceritakan kisahnya setelah reformasi bergulir 15 tahun. Lebih menarik lagi sebab Budiman yang dulu menantang Orde Baru, melalui buku ini justru terpotret fenomena banyaknya aktivis PRD yang kini berada dalam lingkaran kekuasaan. Fenomena-fenomena itulah yang kemudian menghadirkan perdebatan di kepala ketika melahap lembar-lembar buku ini.

Sayangnya buku ini terbit di tahun politik sehingga terkesan hanya sebagai sarana kampanye sebagaimana merebak buku-buku otobiografi dari politisi lainnya. Namun demikian, Anak-anak Revolusi boleh menjadi sebuah mahakarya seorang politisi yang layak dikonsumsi sebagai sarana inspirasi, bahkan pencerahan oleh anak-anak negeri ini. Bagi mahasiswa, apalagi, buku ini perlu menjadi bahan diskusi. (Windy Pratiwi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *