Browse By

Mengelola Sampah Desa

Judul buku     : Mengelola Sampah Desa

Penulis           : Eka Mulyawan

Tebal              : xv + 143

Tahun terbit    : 2015

Penerbit          : Rumah Intaran

Ekamul – demikian penulis buku ini dikenal – mengawali buku Mengelola Sampah Desa dengan pertanyaan: memecahkan masalah sampah desa?

Tampaknya pertanyaan itu tidak muncul spontan, melainkan hasil perenungan yang mendalam karena penulisnya sedang mengikuti kegiatan sosial selama sepuluh bulan di Rumah Intaran, Desa Bengkala, Buleleng ketika menyusun buku ini. Sebab, tanpa perenungan yang demikian, mustahil rasanya Ekamul berpikir menulis buku tentang sampah yang identik dengan sisa-sisa, kotor, menjijikkan. Kalau mau pragmatis, bisa saja Ekamul menulis buku Mengoleksi Batu Akik – tema yang sedang seksi karena tidak perlu susah-susah berurusan dengan bau amis sampah.

Penggunaan kata “desa” dalam judul buku inipun menunjukkan kedalaman berpikir Ekamul. Galibnya, kalau berbicara soal sampah, kita mudah terbayang akan suasana kumuh perkotaan. Di benak kita, desa masih merupakan tempat indah nan asri dengan kicau burung dan hamparan sawah yang membentang luas. Tetapi, Ekamul tidak berpikir demikian. Akar masalah sampah justru dari desa, karena kota merupakan perkembangan lebih lanjut dari desa. Sebagaimana asumsi Rostow, masyarakat pada mulanya pernah mengalami masa tradisional –  kemudian menjadi modern melalui industrialisasi dan ditandai dengan masyarakat konsumsi tinggi.

Menurut Ekamul, sampah sudah menjadi permasalahan yang struktural. Program-program kebersihan yang digulirkan pemerintah lebih banyak berfokus pada pengelolaan sampah di kota. “Kota-kota di Indonesia,” tulis Ekamul, “bahkan berlomba-lomba untuk mendapatkan predikat kota bersih dan sehat melalui penghargaan Adipura. Lalu bagaimana dengan desa?” (hal. 4).

Ekamul meneropong penanganan masalah sampah menggunakan lensa ke luar dan ke dalam.  Misalnya, susahnya penanganan sampah di Indonesia, yang paling utama, disebabkan oleh rendahnya kesadaran masyarakat dan penanganan yang kurang cermat. Lebih dari 50% sampah yang kita hasilkan berasal dari rumah tangga. Oleh karena itu, rumah tangga harus menjadi basis utama dalam penanganan dan pengelolaan sampah. Cara seperti ini misalnya telah dilakukan oleh beberapa negara seperti Jepang, Swedia, Inggris, Jerman, dan Queensland (Australia). Di negara-negara tersebut, pemerintah memberlakukan aturan yang ketat agar masyarakat dapat ambil bagian dalam penanganan dan pengelolaan sampah.

Selain itu, Ekamul mengajak pembaca untuk mencari ke dalam lewat kearifan-kearifan lokal yang jarang kita perhatikan. Seperti konsep gegitik yang mulai dilupakan oleh orang Bali. Padahal, kearifan lokal ini sudah ada sejak lama – jauh sebelum kampanye pemisahan sampah organik dan non-organik semarak diserukan. Juga konsep teba, yaitu sebidang lahan sisa yang dulu menjadi cermin kemandirian orang Bali mengelola sampah rumah tangganya. Tetapi, kini tanah teba semakin berkurang karena kebutuhan masyarakat Bali yang tidak terbatas – terutama untuk kepentingan pariwisata. Maka tanah teba pun beralih fungsi, dikepung pembangunan infrastruktur, menjadi bungalow, hotel, vila, dan sampah semakin tidak mendapatkan tempat layak. Hilangnya teba kemudian diikuti dengan pola penanganan sampah yang serampangan; di buang ke laut, sungai, kali, yang kemudian mengilhami Navicula menulis lagu Kali Mati yang juga dikutip Ekamul dalam bukunya ini: “anehnya manusia tak pernah jera/ tak berubah bikin hal serupa/ buang sampahnya di kali/ orang masih girang/ ikan sudah hilang/ lunas sudah/ tinggal limbah/ tinggal wabah/ kali mati/ isinya… semua mati…”

Buku ini menarik, meskipun foto-foto yang diselipkan di dalamnya kerap membingungkan – setidaknya bagi saya: ini siapa?, ini di mana? Mungkin, alasan Ekamul menampilkan foto-foto hitam-putih itu untuk kesan estetis, karena membayangkan sampah saja rasanya, hmmm…. (Widyartha Suryawan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *