Browse By

Mengenal Lebih Dekat Tarian Gambuh Desa Batuan

Adegan panji dengan pensihat (foto: Jro Mangku Bawa)

Adegan panji dengan pensihat (foto: Jro Mangku Bawa)

Tarian Gambuh adalah salah satu tarian tertua yang ada di Bali. Gambuh merupakan drama tari, hasil akulturasi tari Jawa yang bernama Raket dengan tarian-tarian Bali. Diperkirakan Gambuh sudah ada di Bali Tahun Caka 1007 M.

“Gambuh sebagai acuan atau sumber tari klasik, ibunya drama tari di Bali, klasik karena Gambuh sudah terpolakan sudah punya identitas dan nilai tinggi,” Ujar Dosen ISI I Wayan Budiarsa.

Gambuh mencapai puncak keemasannya pada abad ke-18. Pementasan tarian Gambuh diawali dengan Condong, dalam hal ini berperan sebagai pelayan putri raja, bersama Kakan-kakan-nya (Pelayan yang berjumlah empat orang). Setelahnya baru muncul Putri pada adegan pembuka (ngelembar). Adapun adegan kedua ditandai dengan masuknya Demang Tumenggung yang nangkil (mendatangi kediaman Putra Raja) sang anak raja, yaitu Rangga, Arya, dan Togog.

Kedatangannya inilah yang menjadi inti dari cerita tarian Gambuh. Dalam aturan pepeson (pembuka) setiap adegan diikat oleh aspek estetis mencerminkan tata karma dan tingkat gelar keraton. Contohnya pada saat adegan Raja Putri didahului oleh Condong dan dilanjutkan dengan kedatangan Kakan-Kakan. Sementara adegan Panji Putra Raja diawali oleh Demang, Tumenggung, Rangga, Arya, dan Togog.

Dialog dalam tarian Gambuh merupakan bahasa kawi untuk peran-peran utama. Peran  Punakawan atau Abdi, Dayang, dan Condong memakai bahasa bali. Dalam dialog bahasa kawi maupun bahasa bali menggunakan bahasa bali alus, madya sesuai dengan tokoh yang dibawakan. Adapun hubungan melodi dengan gerakan tokoh mempunyai makna. Setiap tokoh utama atau kelompok tokoh memiliki gerakan tarian tersendiri yang menjadi karateristiknya.

“Pada saat pementasan terdahulu, Gambuh dipentaskan  di Bencingah (halaman Luar Puri), namun pada saat ini khususnya di Desa Batuan tarian Gambuh pada saat Odalan di Pura Desa dipentaskan di Jaba Tengah (halaman tengah),” ujar Ni Wayan Sudiani Pendiri Sanggar Gambuh Desa Batuan.

Sesuai dengan seminar Tari Sakral dan Propan pada tahun 1971, Gambuh digolongkan ke jenis Tari Bebali, Pengiring Upacara, lakon yang dibawakan dari Epos Malat. Gambuh ada di Batuan tidak lepas dari peran serta keempat golongan pada saat itu, Brahmana, Ksatria, Waisya, Sudra golongan tersebut yang mengukuhkan Gambuh di Desa Batuan.

“Mempelajari dan mengetahui tarian adalah skill yang wajib dimiliki anak bali, lahir di Bali dan tinggal di Bali setidaknya harus bisa ngebatin lima (menari), ataupun menabuh karena Bali pulau yang kaya akan seni,” Ujar I Wayan Angsita masyarakat Desa Batuan. Sudah ada sanggar sebagai wadah untuk belajar perlu ditingkatkan minat dan mengembangkan bakat khususnya generasi muda upaya pelestarian budaya dan seni di Bali. (Diah Astiti)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *