Browse By

Mengintip Kini Berseri sampai Mabuk Laut

Operet “Bajak Laut Mabuk Laut” oleh Teater Kini Berseri (dok. / linimassa)

Siapa yang tidak kenal dengan teater  yang sedang naik daun, Kini Berseri? Teater Kini Berseri atau yang sering dijuluki dengan Tekiber ini  berdiri pada tahun 2008  dan kini telah memiliki kurang lebih 50 anggota tetap. Tahun ini Tekiber  mempersembahkan sebuah operet yang berjudul “Bajak Laut Mabuk Laut”.

Sebuah terobosan baru dimunculkan. Jika tahun lalu Tekiber melangsungkan pertunjukan Galih dan Ratna hanya selama 2 hari, pada tahun ini Bajak Laut Mabuk Laut  menghibur penonton selama 6 hari berturut-turut terhitung dari tanggal 19-24 Agustus kedepannya. Operet yang mengusung tema bajak laut tersebut mampu menghipnotis ratusan penonton selama kurang lebih 3 jam dari  pukul 19.30 hingga 22.30 WITA.

I Putu Gede Indra Purusha selaku leader dan Ketua UKM Kesenian ISI Denpasar mengaku dalam penggarapan pementasan ini dibutuhkan kurang lebih 3 bulan lamanya. Tekiber dibantu oleh Komunitas Djamur (komunitas mahasiswa seni rupa ISI Denpasar) dalam pembuatan properti pertunjukan, serta reading naskah, persiapan tari dan gesture untuk setiap scene. Atas kekompakan itu, Purusha merasa optimis terhadap garapan Tekiber tahun ini.

“Kita gak pernah pesimis, meskipun pesimis itu pasti ada tapi kita selalu menumpuk pesimis itu dengan solusi”, ujar Indra seusai pementasan, Rabu (21/8).

Hal serupa juga diutarakan oleh Dewade Aditya selaku pimpinan produksi memerankan Hendry Morgan.

“Pesimis? Enggak!” ujar Adit yang juga mahasiswa Ilmu Komunikasi, FISIP Unud.

Meskipun sama-sama optimis, kedua pelaku seni teater ini tetap harus melewati hambatan-hambatan selama penggarapannya. Kondisi, emosi, waktu latihan yang kurang cukup serta jadwal latihan yang molor adalah hambatan utama namun tetap bisa diatasi.

Penyelenggara berharap agar pementasan ini terkesan dan mampu mencuri hati para penonton yang sudah rela mengeluarkan budget 25 hingga 35 ribu. Melalui pegelaran Bajak Laut Mabuk Laut  ini nantinya juga diharapkan dapat mengenalkan seni teater dalam arti ringan terhadap publik termasuk anak-anak sehingga mereka dapat mencintai teater.

“Sayang sekali ini masih dalam bentuk operet, belum live semuanya. Jadi saya lebih mengarahkan ke arah teater industri. Kalo teater normal kan lebih berat dan condong ke sastra,” ungkap Indra.

Pementasan Bajak Laut Mabuk Laut melibatkan berbagai komunitas lain seperti UKM Kesenian ISI Denpasar, Komunitas Djamur, HMJ Fotografi, hingga original soundtrack  yang digarap oleh Dialog Dini Hari, Nosstress,  Gecko, Duo Ganjil, Tol Band Tol, dan Ahli Ribut. Pementasan ini sukses menjual tiket 250 hingga lebih dari 400 tiket perharinya. Semoga dunia makin berseri-seri! (Adhi Permana)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *