Browse By

Menimbang Ide Pedagogis Tan Malaka

Judul buku: Tan Malaka, Merajut Masyarakat dan Pendidikan Indonesia yang Sosialistis

Penulis: Syaifudin

Tebal buku: 309 halaman

Tahun terbit: 2014

Penerbit: Ar-Ruzz Media

 

Dalam buku pilihan artikel Basis yang dieditori oleh Sindhunata (2001), pendidikan disimpulkan sebagai kegelisahan sepanjang zaman. Pendidikan tidak lagi menjadi sesuatu yang otonom, tetapi telah masuk ke dalam pusaran politik yang penuh intrik. Nasibnya berada di tangan para pengambil kebijakan. Tetapi, kita telah lama mengalami krisis ketokohan. Pendidikan – juga bidang-bidang yang lain – terlilit berbagai macam kepentingan. Yang kemudian membuat nyeri:  ada upaya kapitalisasi pendidikan.

Memang terdengar rada sinis dan pesimis. Tetapi, mari kita tengok – kemudian timbang – beberapa kajian tentang pendidikan yang dilakukan oleh para pengamat pendidikan kita. Buku Tirani Kapital dalam Pendidikan karya Darmaningtyas (2009), misalnya, menggugat kebijakan-kebijakan yang memfasilitasi privatisasi dan liberalisasi pendidikan. Secara sistematis, hal itu tercermin melalui kebijakan seperti UU BHP (Badan Hukum Pendidikan). Meskipun pada tahun 2010 UU BHP dibatalkan karena dianggap inkonstitusional oleh MK, tetapi, secara substansi UU BHP telah menunjukkan keinginan para elit untuk menyerahkan pelayanan publik (pendidikan) kepada sektor swasta. Terlebih lagi UU BHP hanya membahas tentang tata kelola saja; dan itupun tata kelola yang sifatnya legal-formal-manajerial yang melepaskan tanggung jawab negara kepada badan hukum pendidikan (misal: sekolah swasta).

Kegelisahan tadi sesungguhnya sinyalemen untuk merekonstruksi ulang model pendidikan kita. Rekonstruksi, bukan dekonstruksi sebagaimana ditawarkan Derrida. Saya mengartikan rekonstruksi sebagai usaha menemukan kembali anasir-anasir yang telah lama tenggelam, atau sengaja ditenggelamkan oleh suatu rezim kekuasaan.

Menyimak buku Tan Malaka, Merajut Masyarakat dan Pendidikan Indonesia yang Sosialistis karya Syaifudin adalah sebuah upaya melakukan rekonstruksi itu: menimbang model pendidikan, ide-ide pedagogis Bapak Bangsa yang jejaknya hilang dalam sejarah Orde Baru; Tan Malaka. Tan Malaka memiliki latar belakang sebagai pedagog. Ini pula yang mendasari Syaifudin dalam melihat relevansi pemikiran-pemikiran pendidikan Tan Malaka. Buku-buku tentang Tan Malaka memang semarak, terutama ketika angin reformasi berhembus. Akan tetapi, kajian serius yang mengaitkan pemikiran dan ide-ide pedagogis Tan Malaka belum banyak dilakukan. Lewat buku ini, Syaifudin telah mengawali pekerjaan tersebut.

Pemikiran Tan Malaka tentang pendidikan dipengaruhi oleh faktor filosofis dan sosiologis. Tan Malaka sendiri menyadari itu melalui perumpamaan berikut: “Dari cara orang berpikir itu kita dapat duga filsafatnya dan dari filsafatnya kita dapat tahu dengan cara apa ia sampai ke filsafatnya” (hal. 81). Syaifudin kemudian menerjemahkan pemikiran pendidikan Tan Malaka dengan mengulik epistemologi demi mendapat analisis yang matang. Pekerjaan yang sesungguhnya cukup rumit, terlebih buku ini berangkat dari skripsi penulisnya ketika menyelesaikan pendidikan sarjana (S-1) di Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta.

Pemikiran Tan Malaka berangkat dari berpikir (filsafat) ke ranah praksis. Dalam mencapai ajaran inti dari filsafat Madilog (materialisme, dialektika, logika), Tan Malaka menilai bahwa mistika (hal-hal gaib) adalah logika yang membuat bangsa Indonesia tertindas. Di sini, Tan Malaka secara tidak langsung mengamini cara berpikir Marx yang menempatkan filsafat sebagai wahana untuk mengubah dunia; untuk mengantarkan revolusi bagi kaum proletar.

Meskipun pemikiran-pemikiran Tan Malaka banyak yang dilandasi ideologi Marxisme, tetapi tujuan dan praktik pendidikan menurutnya tidak mengarah pada absolutisme menjadikan manusia Indonesia sebagai komunis. Dalam karyanya berjudul SI Semarang dan Onderwijs, Tan Malaka justru menawarkan pendidikan sosialis yang bersifat kerakyatan, berkeadilan, demokratis, dan membebaskan. Menyitir James Bowen – demikian kesimpulan Syaifudin – berbeda dengan model pendidikan komunis era Lenin-Stalin yang selain menciptakan pendidikan sosialis, praktik-praktiknya juga dalam rangka membentuk manusia komunis. Artinya, ide pedagogis Tan Malaka disesuaikan dengan tipologi masyarakat Indonesia yang justru dengan pemaksaan komunisme absolut merupakan sesuatu yang utopis. “Untuk itu, tujuan utama Tan Malaka bukanlah membentuk manusia komunis, melainkan manusia yang sosialis, resistan, homeostatis, demokratis, kritis, dan revolusioner.” (hal. 173).

Selain itu, secara implisit, dalam buku yang diperkuat oleh prolog budayawan Prof. Mudji Sutrisno dan epilog sejarawan Harry A. Poeze, Ph.D, Syaifudin telah menemukan dua fungsi pendidikan menurut Tan Malaka. Pertama, pendidikan merupakan instrument untuk menumbuhkan kesadaran sosial. Kedua, pendidikan sebagai instrument transformasi menuju sebuah perubahan yang lebih baik. Pendekatan-pendekatan yang dilakukan Tan Malaka kalau diperhatikan, juga dapat digolongkan dengan mazhab pendidikan kritis seperti Freireian.

Dalam konteks pendidikan di Indonesia hari ini, menimbang kembali pemikiran-pemikiran pendidikan Tan Malaka – juga gagasan pendidikan yang pernah dikemukakan para pendiri bangsa lainnya – layak mendapat tempat. Ibarat memasak, semua bumbu sudah tersedia. Tinggal bagaimana kita memasaknya: mengurangi kadar garam bila terlalu asin, mengurangi jumlah cabai ketika terlalu pedas, dan seterusnya. Lagipula, Pancasila itu ideologi paling pluralis, tidak dimiliki bangsa lain. Bahkan Bung Karno dengan gagahnya menganjurkan Nasakom. Jadi, ada bumbu sosialispun harus ditakar secara proporsional, tanpa mengurangi tujuan esensial pendidikan yaitu memanusiakan manusia.

Kesimpulannya, buku ini adalah sebuah buku kiri. “Kiri” dan “dicap-sebagai-kiri” pernah menjadi hantu yang menakutkan, yang mengakibatkan peran-peran penting si Kiri dalam revolusi kemerdekaan dianggap kotor dan tidak bersih lingkungan. Dan ia dilarang. “Dan setiap yang dilarang,” demikian kira-kira saya pernah membaca satu esai Goenawan Mohamad, “selalu menimbulkan pesona.” (Widyartha Suryawan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *