Browse By

Menyepikan Laut, Memerdeka-kan Tradisi

berita kisah

November 2016, reporter berbekal kamera dan perekam suara ikut memerdekakan tradisi Nyepi Laut, di Pulau Nusa Penida Bali

“Lakukan saja. Selama ini, saya percaya dengan adanya tradisi (Nyepi Segara-red) niki, maka rezeki tidak akan lepas…” tuturnya tulus sembari menyunggingkan senyum di bibir dengan mata menyipit melengkung sempurna. Butiran keringat mengalir di wajah  petani rumput laut yang mulai menua.

Sesaat kemudian si petani rumput laut, I Wayan Suka  mendongak memperhatikan keagungan Pura Dalem Ped. Saban hari, Suka selalu melintas di sisi Pura Dalem Ped. Tak jemu-jemunya ia mengagumi keagungan Pura Dalem Ped yang kesakralannya terkenal ke seantero jagat Bali. Pagi-pagi, Suka mengaku sudah berangkat ke pantai untuk membudidayakan rumput laut. Saban senja, kembali ia melintas di sisi Pura Dalem Ped usai bekerja seharian bergumul dengan jernihnya air laut dan hijaunya rumput laut yang di dasarnya bertebaran karang-karang laut. Karang-karang laut yang terkadang melukai kaki Suka bila tidak hati-hati. “Bapak bertani rumput laut di sekitar Pura Dalem Ped ini untuk menghidupi keluarga,” cerita Suka sembali sesekali melirik ke Pura Dalem Ped.

Di Pura Dalem Ped saat itu terdengar lantunan Dharma Githa tiada henti. Begitu ramai, tapi sunyi. Air laut bak permadani menghidupkan suasana harumnya dupa semakin kuat. Pura Dalem Ped tak henti kedatangan tamu dari seberang pulau. Sampai tengah hari, semarak Jero Mangku dengan pakaian putih-putih berlalu lalang sibuk tak kunjung henti mengundang tanya. Ada apa ?

“Pelaksanaan Nyepi Segara sudah di depan mata,” bibir Jero Mangku Dukuh menyunggingkan senyum sambil bertutur dengan Basa Bali Alus khas Nusa Penida. Hingga kini pelaksanaan Nyepi Segara di Desa Ped, yang pelaksanaannya jatuh pada Purnama sasih kapat berdasarkan penanggalan Bali, telah dilakukan sejak tahun 1600 M atau saat masa pemerintahan Raja Dalem Waturenggong. Sehari setelah upacara tawur Tilem Kasanga, atau pada tanggal apisan sasih kadasa (hari pertama bulan ke -10) umat Hindu melangsungkan Nyepi. Sederhananya, Nyepi tak ada listrik, tak ada cahaya, tak ada api, tak ada bersenang-senang, tak juga bekerja. Nyepi sebagai upaya spiritual merenungkan kembali berbagai aspek untuk dievaluasi agar perjalanan hidup ini tidak sampai salah arah.

Baru Nyepi, bukan berarti tidak melakukan apa-apa,” tegas Jero Mangku Dukuh yang memiliki cekukan alis. Manusia Bali yang paham akan hakikat tattwa agama melakukan tapa, yoga, dan semadhi pada saat pelaksanaan Nyepi. “Saat pelaksanaan Nyepi Segara, semua aktivitas tetap berlangsung. Tetap bekerja, tetap terang, hanya saja laut sepi,” jelas Jero Mangku Dukuh. Pelaksanaan Nyepi Segara atau Nyepi Laut merupakan bentuk penghormatan kepada Dewa Baruna yang diyakini sebagai penguasa laut dan  samudera.

Tanggal 29 September 2015 ini, pelaksanaan Nyepi Segara dimulai. Satu hari, laut akan sepi. Fasilitas laut tidak berlangsung. Pelabuhan Padangbay di daratan pulau Bali sebagai tempat penyebrangan menuju Nusa Penida, ditutup. Begitu pula sebaliknya. Seluruh warga kabupaten Klungkung, menghentikan aktivitas laut dalam sehari. Tidak berada di laut, tidak bekerja di laut, tidak bepergian melewati laut.

“Tujuan dari Nyepi Segara niki, sederhana. Menyucikan laut, menyeimbangkan rasa antar manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” jelas Jero Mangku Dukuh di tengah terik matahari Nusa Penida.

Menurut Jero Mangku Dukuh, Nyepi Segara adalah salah satu tradisi besar yang diibaratkan sebagai perwujudan rasa terima kasih kepada Sang Dewa Baruna atas segala kelimpahan sumber laut yang menjadi harta terbesar warga Nusa Penida. .

Satu lagi tradisi kebudayaan Bali menjadi ujung tombak sebuah perubahan menuju ke yang lebih baik. Tiap-tiap langkah baik menuju perubahan, tentu memerlukan pantangan dan sanksi yang berat pula. Nyepi Segara di tengah pulau kecil ini, tak terlepas dari pantangan-pantangan yang dilimpahkan ke warga pelaksananya. Satu pantangan yang tetap sederhana, warga kabupaten Klungkung hanya tidak boleh melakukan aktivitas di laut, apapun bentuknya.

Sementara kegiatan di daratan, masih tetap bisa terlaksana. Apa yang terjadi bila boat atau kapal masih bisa seliweran di laut saat pelaksanaan Nyepi Segara ? Menurut Jero Mangku Dukuh, siapapun orang yang melanggar aturan, dia yang harus bertanggung jawab atas seluruh biaya pelaksanaan Ngusaba Desa yang dilakukan satu hari sebelum Nyepi Segara.

“Biaya Ngusaba niki, tidak main-main. Besar sekali totalnya, angkanya besar sekali. Karena ini ritual terbesar, dan hanya dilakukan setahun sekali,” papar Jero Mangku paruh baya ini, sambil menyelipkan senyum dan tawa kecil. Dengan sanksi yang demikian ‘sederhana’-nya, masih ada yang ingin melanggar ?

“Betul-betul tidak berani melanggar!” tandas Jero Made Badera di belakang setir mobil Kijang abu-abunya melaju perlahan. Jero Made Badera, pekerja pariwisata kebapakaan ini fasih berbahasa Indonesia namun tetap dengan suara khas Nusa Penida. Badera mengakatan, karena Nyepi Segara sudah menjadi tradisi, ia lahir dan besar di Nusa, maka ia tak ingin mengambil atau melakukan hal-hal yang hanya akan merugikannya. “Sing pe nyak nyemak gae lebih (Tidak mau mengambil pekerjaan atau tidnakan yang tidak seharusnya dilakukan-red), saya tidak akan pernah berani melanggar tradisi atau hal-hal yang tidak diinginkan lainnya, saya bekerja karena laut, dan tidak ada salahnya menghargai budaya serta tradisi dimana laut menjadi pusat pembersih jiwa raga, nak nyeimbangin antara manusia, semesta, dan Tuhan Yang Maha Esa. Apa salahnya ?” panjang lebar pria berkumis tebal ini sambil membelokkan arah mobil dan berhenti tepat di belakang mobil lainnya.

Suasana panas semakin pengap karena adanya proyek aspal sepanjang jalan menuju Pura Dalem Ped. Tradisi ini tak hanya main-main. Nyepi Segara, bukan hanya sekadar budaya biasa.

Mungkin bagi pekerja aktif di Nusa Penida yang me-nomor-satukan materi, akan berat terasa bila tidak bekerja satu hari saja. Namun dibalik itu semua, tersimpan jelas di raut wajah-wajah lelah para pekerja ini. Tradisi yang mereka emong sejak dulu memang takkan dapat lepas semaju-majunya teknologi dan globalisasi. Selama roh taksu Nusa Penida masih melekat pada atman tiap-tiap jiwanya, maka tak ada alasan untuk melupakan budaya. Tak ada alasan untuk melupakan tradisi.

Langkah-langkah kecil mendekat dengan dua keranjang rumput laut menggantung dengan segarnya. Senyum berseri, sumringah, sambil menyapa ‘Om Swastyatu’ ….  I Wayan Suka, petani rumput laut Nusa Penida dengan tangan menempel di depan dada, “Ngapain juga melanggar ? Sanksi gede, di hadapan Tuhan juga tidak benar. Lakukan saja. Selama ini, saya percaya dengan adanya tradisi niki, maka rezeki tidak akan lepas. Bahkan titiang berdoa sebagai petani rumput laut dan saya yakin ini doa semua petani rumput laut ring Nusa, agar pemerintah bisa ikut serta menengok produksi rumput laut yang melimpah ring gumi Nusa Penida iriki..”

Yah, menyepikan laut, menyepikan diri, memerdekakan tradisi, menyucikan laut, dan hati nurani. (fina)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *