Browse By

Mpu Jaya Prema Ananda, Pewarta dan Pendeta yang Percaya Kualat

Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda (dok. linimassa)

Setelah menggugat, mendebat dan menempatkan Bali dalam keadaan meradang, kini ia berusaha meneduhkan Bali. Perjalanannya abadi dalam tulisan.

Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda yang dulu dikenal dengan Putu Setia merupakan redaktur senior  di media Tempo. Mei 2013 ia menerbitkan buku Wartawan Jadi Pendeta: sebuah otobiografi. Tercatat juga beberapa bukunya yang telah terbit seperti Menggugat Bali (1986), Mendebat Bali (2002), Bali yang Meradang (2006), serta beberapa buku lainnya.

“Sekarang saya masih menjadi wartawan, tapi tidak menjadi reporter dan masih terikat kontrak,” tutur Mpu Jaya Prema Ananda di Denpasar (16/9).

Pria kelahiran 04 April 1951 ini memang hobi menulis dari kecil. Dulu, tulisannya sering dimuat di Bali Post. Mpu mengawali karier menjadi wartawan di Bali Post pada tahun 1974 sembari menjadi koresponden media Tempo. Tahun 1978 ia keluar dari Bali Post dan pindah ke Tempo sebagai Kepala Biro untuk Jawa tengah dan Jogjakarta. Selanjutnya pada 1982 Mpu pindah tugas ke Jakarta hingga sekarang ia menjadi redaktur senior Tempo. Menariknya, Mpu tidak memiliki ijazah SMA. Meski demikian, berkat mengikuti pendidikan pers di Jakarta pada tahun 1975, nyatanya Mpu bisa menjadi junalis di media ternama di Indonesia.

Perjalanannya sebagai wartawan cukup rumit. Mpu memulai karier di era Orde Baru yang amat represif. Atas latar belakang keterkekangan Orde Baru itu, Mpu punya cerita tak terlupakan. Tepatnya ketika ia masih bekerja di Bali Post dan menjabat sebagai redaktur malam. Ketika itu, ada insiden pemukulan yang dilakukan tentara di Pasar Satria, Denpasar. Kejadian itu hendak dimuat dalam berita. Malam harinya datanglah seorang tentara kepada Mpu dan  memaksanya untuk menghapus berita pemukulan tersebut. Mpu awalnya menolak karena berita itu sudah dilayout dan siap cetak. Si tentara yang tidak terima lalu mengancam Mpu dengan pistol. Akibat ancaman itu, Mpu akhirnya memutuskan berita itu tidak jadi dicetak.

Kini, bangsa Indonesia telah memasuki masa konsolidasi demokrasi setelah sebelumnya melewati masa transisi. Berbicara tentang pers di era reformasi ini memang jauh berbeda. Mpu menyebutkan kebebasan pers  saat ini sudah sepenuhnya dinikmati oleh Indonesia. Meski demikian,  kebebasan itu harus memiliki tanggung jawab dan tidak terlalu keblabasan. Pers mestinya  mendidik  dan memiliki manfaat yang baik untuk masyarakat. Terlebih lagi tahun 2014 mendatang akan berlangsung perhelatan demokrasi, yaitu pemilihan umum. Mpu menambahkan, media harus tetap bersifat independen dan netral, karena masyarakat sekarang sudah mulai cerdas.

“Jadilah wartawan sebenarnya, tetaplah independen. Lebih baik keluar jika pemilik media mengintervensi terhadap berita yang dimuat,” ujar Mpu.

Tidak hanya perjalanannya sebagai wartawan yang rumit dan panjang. Tentang perjalanan hidupnya hingga memutuskan untuk menjadi pendeta pun cukup berliku. Konon, memilih takdir sebagai pendeta untuk menghindari kualat.

“Dulu keluarga saya kaya tapi jatuh miskin karena kakeknya ayah saya diminta menjadi pemangku tidak mau. Ayah saya juga pun tidak. Akhirnya karena desakan oleh keluarga dan warga disana, saya pun mengiyakan,” tutur Mpu.

Mpu percaya, apa yang dialami keluarganya adalah akibat kualat. Berpijak atas kepercayaan itulah Mpu berjanji di umurnya yang ke-50 tahun akan menjadi pemangku. Tapi karena pemangku sudah banyak dan dia tidak ingin mengambil kewajiban pemangku yang lain, Mpu memilih menjadi pendeta yang secara struktural dalam ajaran Hindu lebih tinggi dari pemangku. (Penulis: Novi Febriani, Editor: Widyartha Suryawan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *