Browse By

Nyepi Saka 1942 : Ogoh-Ogoh dalam Dekapan COVID-19

 

Ilustrasi gambar Corona Mendekap Ogoh-Ogoh (Eki/Linimassa)

Ilustrasi gambar Corona Mendekap Ogoh-Ogoh (Eki/Linimassa)

Nyepi Tahun saka 1942 menjadi nyepi yang telah ditunggu setelah memasuki tahun 2020. Tidak hanya bagi kalangan muda tetapi seluruh kalangan sangat menantikan hari raya yang jatuh pada tilem kesanga ini. Nyepi yang diperingati oleh umat hindu biasanya dirayakan satu tahun sekali. Perayaan hari raya nyepi bermakna agar manusia (khususnya umat hindu) senantiasa mampu mengendalikan diri, nafsu duniawi dan tidak berpergian serta merenungkan Tuhan. Saat itu umat hindu akan melakukan catur brata penyepian yang kemudian membuat suasana Bali menjadi hening, sepi dan tanpa aktivitas apapun. Selain keheningan itu, satu hal yang lekat dengan hari raya ini adalah hari Pengrupukan dimana dalam tradisi dan kebudayaan umat hindu kita akan melakukan sebuah ritual untuk mengarak ogoh-ogoh. Berbagai persiapan akan dilakukan sebulan hingga dua bulan sebelumnya oleh pemuda-pemudi banjar untuk menyongsong hari itu. Mulai dari mempersiapkan ogoh-ogoh, baleganjur, dan tarian-tarian yang akan ditampilkan di tengah kerumunan masyarakat nanti.

Sayang seribu sayang, malang seribu malang, Niat untuk mengarak ogoh-ogoh yang hampir rampung itu harus dikubur dalam-dalam. Banjar kini sepi, ogoh-ogoh teronggok di balai banjar masing-masing,  pemuda-pemudi yang kemarin rajin ke banjar sekarang tidak terlihat lagi di banjar. Alasannya kecewa dengan pembatalan pawai/arakan ogoh-ogoh tahun ini yang diumumkan oleh pemerintah Provinsi Bali melalui Instruksi Gubernur Bali Nomor 267/01/HK/2020 tentang Pelaksanaan Rangkaian Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1942 di Bali. Kekecewaan ini juga diterangkan dengan pasrah oleh salah satu pemuda yang tinggal di Badung yang tentunya cukup aktif dalam kegiatan banjar “Kalau secara pribadi kecewa dengan tidak diperbolehkannya melakukan pawai ogoh-ogoh, karena persiapannya sudah matang dan ngorbanin waktu, tenaga dan materi. Tapi disatu sisi aku juga sadar ini demi keselamatan kita semua”. Merebaknya kasus COVID-19 yang lebih dikenal dengan corona virus ini menjadi sebab tunggal batalnya acara pawai/mengarak ogoh-ogoh tahun ini. Kasus yang pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina pada akhir 2019 ini telah ditetapkan menjadi pandemi oleh organisasi kesehatan dunia, WHO. Penetapan ini lantaran cepatnya penularan virus ini dihampir berbagai negara di seluruh dunia. Per 23 maret 2020 juru bicara dari penanganan kasus COVID-19  di Indonesia mengumumkan bahwa kasus ini telah mencapai angka 579 jiwa yang telah terjangkit, pasien yang sembuh sebanyak 30 orang dan telah merenggut 49 nyawa. Merajalela nya virus ini membuat pemerintah Indonesia mengambil kebijakan untuk mengurangi keramaian dan mengimbau kepada masyarakat untuk melakukan Sosial Distancing.

Dalam mengendalikan penyebaran virus ini keputusan yang cukup mengecewakan pun dikeluarkan dengan mempertimbangkan keselamatan dan kesehatan bagi seluruh rakyat Bali. Isu ini menuai berbagai tanggapan dari masyarakat di Bali. Ada yang setuju, ada yang tidak setuju dan ada pula yang akhirnya mengambil jalan tengah dari permasalahan arakan/pawai ogoh-ogoh ini yang tentunya tetap sesuai dengan arahan dan aturan yang telah ditetapkan. “ Sudut pandang pemerintah memang benar, dan antusias dari pemuda-pemudi dengan ogoh-ogoh itu juga benar. Tapi ya kalau ada pembatalan sebaiknya jangan dadakan karena ketika ogoh-ogoh sudah rampung 80 % dan tiba-tiba tidak diperbolehkan untuk pawai, itu  yang membuat kekecewaan muncul. “Makanya Sangsit mengambil keputusan diaraknya di banjar-banjar saja” papar Padmi Mentari seorang perempuan kelahiran Sangsit, Buleleng yang kini tengah menjalani kuliahnya di Sekolah Tinggi Ilmu Agama Hindu Mpu Kuturan. Sebagai mahasiswa yang banyak mempelajari ilmu agama ia juga menerangkan bahwa esensi nyepi tidak akan berkurang walau tanpa ogoh-ogoh itu sendiri. “Jadi ogoh-ogoh itu lahir dari kebudayaan, kalaupun diadakan atau tidaknya yang paling penting dalam tattwa penyepian itu tetap dilaksanakan melis, catur brata, pecaruan dan lain sebagainya” lanjut padmi sebagai penutup sesinya. Sebenarnya dari tanggapan yang diterangkan oleh padmi tersebut sedikitnya dapat memberikan kita penjelasan terutama untuk orang-orang yang mungkin masih kekeh atau militan dengan tradisi bahwa kita sebagai kaum millenial harus mampu memahami situasi negara agar tidak memperparah keadaan. Jangan nanti karena gegabah dan sikap yang ngotot malah bikin kita semua jadi celaka.

Hal serupa pun dijelaskan oleh Bella Agustina Gapar yang tengah menjalani kuliah keperawatan yang juga tahun ini dipercaya sebagai sekretaris untuk panitia ogoh-ogoh di banjar Tulangampiang “ memang nyepi tahun ini pasti agak beda rasanya, apalagi ini udah tradisi kita gitu kan, sudah biasa dilakukan, tapi ya karena pembatalan ini untuk kebaikan diri kita dan orang lain kenapa enggak, ”. Terkait yang masih belum bisa menerima keputusan ini Bella hanya memberikan penjelasan bahwa jika tidak mau terkena virus ini maka tunda dulu keinginannya karena tenaga kesehatan berjuang untuk menyembuhkan dengan resiko tertular. “Mungkin tidak semua bisa membantu tenaga kesehatan tapi bantulah dengan sikap menghargai sesama manusia. Saranku tetap dirumah, ikuti aturan sosial distance dan jaga kebersihan” pungkasnya lebih tegas.

Pawai ogoh-ogoh memang suatu budaya atau tradisi yang telah dijalankan bertahun-tahun tanpa absen oleh umat hindu. Tapi jika kali ini mengharuskan ogoh-ogoh untuk absen dari rangkaian nyepi tahun baru saka 1942 maka hal tersebut bukan karena kita semua tidak menginginkan keberadaan pawai ogoh-ogoh. Hingar-bingar, keramaian perayaan itu dan antusiasme dalam arak-arakan tersebut bukan sesuatu yang mudah untuk tidak dilaksanakan. Dengan berbagai pertimbangan yang telah dianalisa terlebih dahulu pemerintah mungkin juga sebenarnya terpaksa membatalkan kegiatan ini. Namun karena situasi mendesak seperti ini sebaiknya memang harus melewati tahun baru caka ini tanpa ogoh-ogoh. Itupun demi kebaikan kita semua dan untuk mencegah penyebaran dari virus ini. Pemerintah Bali juga telah mengupayakan agar pawai dilaksanakan pada perayaan ulang tahun provinsi Bali. Maka dari itu mari kita semua berdiam diri dirumah, lakukan langkah-langkah pencegahan yang telah dianjurkan dan anggap saja kita sedang melakukan salah satu catur brata penyepian di setiap harinya yaitu tidak keluar rumah. (Rst)

Penulis : Eki Rastiti

Editor : Widaraditya

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *