Browse By

Perjalanan ke Barat

Oleh Bakti Venda Putra

Ilustrasi Oleh Ida Bagus Dharma Wisesa

Di sebuah desa hidup seorang anak muda yang sangat sakti mantra guna lagi kaya raya. Dia orang yang sangat sempurna dan baik hati. Hidupnya sangat berkecukupan namanya termasyhur dimana-mana, siapa yang tak kenal dirinya. Hari-harinya begitu diagungkan bak raja tanpa mahkota. Semua orang menghormatinya dan sekaligus takut pada kesaktinya, tapi entah mengapa dia merasa ada yang kurang dihidupnya itu. Dia hanya bisa merasakanya tapi selalu gagal mengetahui apa yang kurang dari hidupnya, tapi ada.  Suatu sore dia datang ke sebuah goa untuk bertanya, di dalam sana konon hiduplah seorang petapa yang terkenal sangat bijaksana, tapi kau hanya bisa menemuinya jika kau berhati mulia. Dan kau harus bersemedi di sana sebulan penuh tanpa boleh makan dan minum, siapapun yang berhasil menemui petapa itu maka satu keinginanya niscaya akan dikabulkan. Goa itu terletak percis di ujung jalan setapak pedesaan itu, letaknya diapit dua bukit bernama Bukit Api dan Bukit Air. Anak itu sampai di sana dan langsung memasuki goa gelap itu. Setelah bersemedi selama sebulan penuh tanpa makan dan minum akhirnya petapa itu menampakan suaranya.

 “Untuk apa kau kemari anak muda?” seseorang bertanya dalam kegelapan tapi hanya suaranya yang terdengar.

“Aku kemari untuk mendapatkan ibu petapa”

“Kenapa kau menginginikan seorang ibu? tidakkah sudah kau miliki seorang ibu yang begitu menyayangimu nak?”

“Yang ku maksud adalah ibu yang mengajarkanku arti kebijaksanaan” petapa tua itu kemudian menampakan dirinya. Tidak seperti petapa pada umumnya dia tidak terlihat tua seperti yang orang-orang katakan, perawakanya juga sangat bersih berbusana serba putih yang melingkar dengan rapi di tubuhnya. Tubuhnya bersinar bak mutira dalam cangkang kerang, seketika aroma goa itu menjadi harum, sangat harum bak bunga melati yang berguguran di musim penghujan.

Petapa itu menatap anak itu matanya memiliki sorot yang sangat tajam seperti seekor harimau. Kedua bola matanya seakan-akan siap menerkam si petapa dengan begitu dinginya. Jangan lupakan bahwa dia adalah anak yang sakti mantra guna hanya anak ini yang dapat bertahan di goa gelap ini sebulan penuh tanpa makan dan minum. Lalu petapa itu berkata.

“Kau akan menemukan ibumu jika kau terus berjalan lurus ke barat, nanti di balik bukit tinggi kau akan menemukanya” sembari menudingkan jarinya ke arah barat.

“Hanya itu, maka aku bisa mendapatkan seorang ibu setelahnya?”

“Iya kau akan mendapatkanya, dengan satu syarat kau hanya boleh berjalan lurus dan jangan pernah sesekali menengok ke belakang apapun yang terjadi”

“Baik, akan segera kulakukan” anak itu segera keluar dari goa petapa itu.

Maka pergilah anak itu ke arah barat sesuai apa yang dikatakan patapa yang bijak itu. Kakinya begitu kokoh bagai tiang kapal pemecah ombak. Tiada keraguan disorot matanya yang hanya sibuk menyoroti bukit tinggi yang jauh disana. Tanganya dengan tegasnya memotong semak belukar yang bagaikan sayuran di dapur yang dapat dipotong begitu mudahnya. Perintah petapa itu tak memungkinkanya berjalan menyerong maka dipangkasnya setiap apa yang menghalangi perjalanan lurusnya.

Sampai tibalah ia di kaki perbukitan dimana bentangan sungai yang panjang membatasi permukaan, airnya begitu deras, lantas apa yang harus dilakukan anak itu untuk melintasinya. Anak itu begitu tenang dia duduk bersila percis di atas sebuah batu besar yang berada di pinggir sungai itu. Sejenak dia memejamkan mata dan menarik nafas panjang lalu dia merogoh sakunya dan mengambil sebuah perahu kertas. Dilemparkanya perahu kertas itu kedalam sungai tak berapa lama di dasar sungai tanpak air mengelembung ke permukan dan byurr! Sebuah perahu muncul perahu yang begitu besar segera dinaikinya perahu itu. Perahu yang begitu besar tanpa hambatan dapat memecah arus sungai dan berjalan lurus sampai pada kaki bukit diseberangnya. Anak itu lantas segera pergi, sepeninggal anak itu berubahlah kembali perahu besar itu menjadi sebuah perahu kertas kecil yang terbawa derasnya arus sungai.

Dari sini sudah terlihat jelas puncak bukit tinggi itu. tapi terlebih dahulu dia harus melewati ladang rumput apa yang menunggunya di punggung perbukitan. Sesuai namanya ladang rumput api adalah ladang rumput yang terbakar api berwarna hitam yang tak pernah padam. Panasnya bagaikan didihan api neraka dalam dunia nyata. Maka sebab itu perbukitan ini tidak ditempati hewan-hewan apapun yang melintasinya akan langsung hangus terbakar tak tersisa menjadi debu. Tapi anak ini adalah orang paling sakti bermantra guna kali ini dia merogoh lagi sakunya lalu diambinya sehelai daun pila lantas dilumatnya habis, kemudian dia berjalan tanpa ragu ke kobaran api hitam itu, ajaibanya tubunya tidak terbakar, jika sudah begini tidak ada api manapun di dunia maupun di akhirat yang mampu membakar dirinya. Perawakanya tetap tenang dan senantiasa dia berjalan lurus terus sampai tibalah dia di puncak perbukitan itu.

Sedikit lagi maka dia akan bisa melihat ibunya yang berada di balik bukit tinggi itu. Tapi seketika seekor burung merpati kecil menghinggapinya tepat di atas kepalanya dan memberitakan padanya bahwa desanya terancam air bah dari sebuah bendungan yang bocor. Hanya dia seorang yang mampu menghentikan air bah itu, tanpa kebimbangan sedikitpun dia menunggangi merpati itu dan terbang kembali ke desanya. Dia langsung menuju bendungan itu dan menaburkan pasir emas kearah tanggul dari bendungan itu, maka seketika bendungan itu kembali utuh seperti sedia kala. Kali ini jauh lebih kokoh daripada sebelumnya.

Penduduk desa menyajungnya setibanya di desa dengan menunggangi merpati tadi, kali ini bukan karena kesaktianya. Dia seperti mendapat mahkotanya yang selama ini tak berharga walau ditahtakan berlian termahal di dunia ini. Keesokan harinya anak muda itu mendatangi goa petapa itu kembali, tapi sudah sebulan dia bersemedi petapa itu tak kunjung menampakan dirinya seperti pada saat pertama kali dia datang ke goa itu. Anak itu kemudian berjalan lurus lagi ke arah barat mengulangi lagi apa yang dikatakan petapa itu. Kali ini dia sampai ke puncak bukit dan tak mendapati apa-apa melaikan hanya lautan samudra yang luas tak bertepi. Dia hanya tersenyum.

Denpasar, 13 januari 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *