Browse By

Perjalanan Putra Sang Gita

Judul Buku                                : Gandhi The Man

Penulis                                      : Eknath Easwaran

Alih Bahasa                               : Yendhi Amalia dan Hari Mulyana

Penerbit                                     : Bentang Pustaka

Cetakan                                     : I, November 2013

Tebal                                         : xx + 268 halaman

 

God has no religion, kata pria tua berkaca mata bulat asal India. Adalah Mohandas Karamchi Gandhi. Orang karib memanggilnya Mahatma Gandhi. Mahatma berarti jiwa yang agung. Banyak penulis yang sudah membukukan kisah hidupnya. Eknath Easwaran (1910-1999) juga enggan absen dalam hal itu. Biografi karya Easwaran ini sempat membuat saya bergetar beberapa kali membacanya. Bahkan menitikkan air mata, sesekali. Itu jelas karena perjalanan sang tokoh, namun tak lepas  pula oleh jasa Easwaran yang menuturkannya dengan dalam dan menyentuh. Hal itu juga dikarenakan, ia menggunakan sudut pandang orang pertama, yang membuat cerita terasa lebih mengalir.

 Pengalaman Easwaran dalam menulis dan menerjemahkan beberapa kisah spritiual klasik India (The Upanishad, The Bhagawavad Gita, The Dhammapada ) mempengaruhi penulisan buku ini.Ia menuliskannya tidak semata-mata dengan menggunakan referensi literatur saja, namun juga pengalaman pribadi dan spritualnya semasa tumbuh dalam tahun-tahun pergolakan India menuju kemerdekaan. Masa bersejarah saat Gandhi memimpin India melawan Inggris dengan bermodalkan gerakan nirkekerasan. Perang tanpa moncong tank. Kemenangan dengan penghormatan.

Semasa hidupnya Gandhi memang sudah dikeliling tokoh-tokoh besar yang hendak ‘mencuri’ seni hidupnya. Meski begitu, ia sama seperti manusia pada umumnya, memiliki pasang surut dalam kehidupan. Siapa sangka, saat membuka buku ini, kita akan disuguhkan paras Gandhi muda yang tampan dan gagah mengenakan kemeja putih, jas hitam dan dasi. Layaknya para kaum borjuis. Halaman depan buku ini cukup mengundang tanya.

Awal kisah buku ini menceritakan tentang pertumbuhan Gandhi dan masalah rumah tangganya yang carut marut dengan sang istri, Kasturbai. Dari kepergiannya ke London hingga keterasingan pada kehidupan yang ia jalani. Ada pula ilham-ilham yang ia temukan di sepanjang perjalanannya. Misalnya saat ia menjadi pengacara. Baginya pengacara yang sesungguhnya adalah untuk mempersatukan pihak-pihak yang terpecah belah. Bukan sebaliknya.

Berawal dari itu, munculah ilham-ilham lain yang mempertemukannya kembali dengan ‘orang-tua’nya, Bhagawad Gita. Gandhi telah mempelajari berbagai agama, namun Gitalah yang selalu membawanya pada keteduhan. Baginya, Gita adalah ajaran universal dan sumber kekuatan spritualnya. Tempat Gandhi berpaling ketika dirundung masalah. Hingga banyak yang menganggap Gandhi adalah anak dari Gita. Dari Gita pulalah, ia memahami ahimsa dan mencetuskan Satyagraha. Metode perjuangan tanpa kekerasan yang ia gunakan untuk melawan Inggris. Berlandaskan kekuatan spiritual.

“Kehidupan spiritual tidak berarti harus menarik diri ke biara atau gua-gua. Semua itu bisa dikejar di tengah-tengah keluarga, komunitas, dan karier pelayanan tanpa pamrih” (hal. 12)

Ketika orang-orang sibuk membicarakan cinta pada pasangan, Gandhi memilih cinta yang lebih besar. Cinta pada segalanya. Terlampau banyak teladan yang dapat dipetik dalam kehidupan Gandhi melalui buku ini. Karya ini layak menjadi bahan bacaan dan renungan bagi siapa saja. Buku ini bisa menjadi upaya penyegaran jiwa-jiwa yang merasa terasing dan haus akan keyakinan dalam hidup. Insan-insan yang rindu akan Tuhan. “Raga boleh saja rapuh, tetapi jiwa tak mengenal batas”, (Gandhi, 1997). Yes, Gandhi the man! (Dewi Widyastuti)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *