Browse By

Pita Suara

Oleh Rai Sukmaning

Ilustrasi Oleh Eka Dharma

Aku sedang membaca rubrik olahraga di koran ketika Gabit masuk dengan tergesa-gesa dari pintu samping. Sepatu pantopel yang dia kenakan berdebam pada lantai keramik putih. Semua orang di perpustakaan itu secara serentak menoleh. Wajahnya memerah.

Dengan senyum minta maaf kikuk, yang ditingkahi anggukan kepala berat dan kaku, dia melewati o

rang-orang itu, lantas buru-buru duduk di sampingku. Napasnya tertinggal entah dimana.

“Kamu percaya tidak…” dia berkata setengah berbisik. Aku mendongakkan kepala di antara halaman koran. Matanya menyelidik ke berbagai arah, seolah sedang membawa pesan rahasia dari selingkuhanku. “Yogis menangis di kantin. Dia menjerit kayak orang kesurupan,” katanya kemudian.

“Memang kamu apakan dia?”

“Aku cuma mengatakan yang sebenarnya.”

“Maksudmu?”

Dia tersenyum. Senyum puas seseorang yang merasa berhasil mendapatkan perhatian. “Oo. Kamu mesti tahu bagaimana awalnya. Ini lucu.”

“Ya, kalau begitu ceritakan!”

“Hari ini Aku dan Yogis tepat lima tahun pacaran. Kalau dipikir-pikir, lucu juga bagaimana kami bisa bertahan selama itu. Kamu tahu ‘kan bagaimana si Yogis?!! Dia orang yang senang merayakan segala sesuatu dengan meriah. Sedangkan aku boro-boro begitu, ingat saja sudah untung.”

Aku mengangguk, menyetujui.

“Dia menganggap lima tahun itu sebagai masa dimana kami mesti membeli seekor German Shepherd. Padahal sebelumnya dia enggak pernah tertarik pada anjing. Kalau dekat anjing saja dia kadang-kadang kagok. Tapi yang paling mengesalkan,” dia menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya, “Dia baru saja selesai membaca novel tentang sepasang kekasih yang memelihara sebuah pohon sebagai tanda keabadian cinta mereka. Dan tidak ada kemungkinan lain lagi, dia mau hubungan kami seperti cerita dalam novel itu. Cuma dengan bentuk yang lebih meriah. Apa kamu mendengarkanku?”

“Ya,” aku membuka halaman berikutnya.

“Baiklah. Kemudian dia menunjukkan foto anak anjing dari ponselnya. Anak anjing itu memang benar-benar lucu. Jujur, aku pun sempat luluh. Tapi aku sadar, itu hanya jebakan.”

“Jebakan?”

“Ya, jebakan. Dia ingin aku membelikannya anak anjing hanya dia pamerkan pada teman-temannya. Aku tahu itu. Seminggu lalu dia mengirimkan foto teman-temannya lari sore sambil membawa anjing mereka masing-masing. Dia juga ingin seperti itu, dan hanya seperti itulah yang dia inginkan. Dikiranya aku enggak sadar.”

Gabit mempermainkan jari tangannya di atas meja, seolah-olah tak sabar menunggu keterkejutanku mendengar lanjutan ceritanya. Sebagai seorang pria berbadan jangkung dan kekar, hari itu dia mengenakan kemeja yang terlalu ketat dan mencolok. Rambutnya yang cepak dan kelimis membuatnya lebih mirip polisi yang sedang menyamar daripada seorang mahasiswa.

“Dan kamu tahu apa yang kukatakan untuk lepas dari jebakannya itu?”

Aku menggelengkan kepala.

“Aku bilang padanya kalau aku suka makan daging anjing.”

Aku melipat koran, menyampirkannya di senderan kursi. Kali ini dia benar-benar mendapat perhatianku.

“Dan enggak cuma itu,” katanya bersemangat, seolah-olah baru menemukan tambang emas di belakang rumahnya. “Aku juga katakan padanya kalau di antara semua jenis anjing, daging German Shepherd adalah yang paling maknyus. Nah, disitulah dia mulai mewek.”

“Separah itu? Apa kamu tidak khawatir?”

“Ya, pada awalnya.”

“Pada awalnya?”

Aku merasakan gelagat aneh mulai muncul pada wajahnya. Pipinya yang tirus tampak kembang-kempis. Lalu, tanpa sebab yang jelas Gabit memukul-mukul meja dan terpingkal-pingkal. Dia tertawa oleh sesuatu yang belum keluar dari mulutnya. Dia tak peduli pada kenyataan bahwa belum lewat setengah jam sebelumnya dia berjalan dengan kepala tertunduk, meminta maaf atas sikapnya yang ceroboh dan tak tahu diri.

“Kamu tahu, semua orang di kantin menoleh ke arahku. Aku tentu saja coba menenangkan Yogis. Aku duduk disampingnya dan mengelus rambutnya. Waktu itu aku langsung sadar kalau dia baru memotong rambut. Dia memotongnya hingga sebahu. Aku selalu suka perempuan dengan rambut sebahu. Aku katakan padanya bahwa potongan baru itu cocok untuknya. Dan aku bilang juga kalau sebelumnya aku bercanda. Aku sama sekali tidak pernah makan anjing dan aku tak tahu daging anjing mana yang paling enak.”

“Apa itu berhasil?”

“Tentu saja. Perempuan mana yang enggak senang potongan rambutnya dibilang bagus?”

“Benar. Lalu apa yang membuatnya menjerit?”

Gabit mengangkat bahu. Matanya menerawang. “Aku cuma bilang padanya kalau perempuan menggunakan air mata mereka untuk mengelabui semua orang.”

“Jangan bercanda…” kataku hampir menjerit. Mungkin keterkejutan itu telah menajamkan inderaku. Sebab, tiba-tiba saja aku mencium bau parfum Gabit. Bau yang merobek hidung. Membuatku bersin-bersin.  

Aku pikir wajar saja kalau perempuan malang itu menjerit. Bahkan, walau aku teman mereka berdua, aku tak bakal kaget kalau mendengar berita Yogis membacok Gabit.

Gabit mengeluarkan sebungkus Gudang Garam dan korek gas. Menyelipkan sebatang di sela-sela bibirnya. Dia pasti menyulutnya andai saja aku tak mengingatkannya kalau dia sedang berada di perpustakaan.

Seorang perempuan lewat di samping kami. Show Your Tongue karangan Günter Grass terkepit di bawah ketiaknya, sedangkan kedua tangannya disibukkan oleh laptop dan ensiklopedia. Aku mengetahui buku itu dari sampulnya yang mencolok: sesosok manusia dengan lidah melet, berjongkok sedemikian rupa sehingga tampak seperti kodok. Aku sering meminjam buku itu hanya untuk mengagumi sampulnya saja.

Aku mendengar Gabit berulang kali mendengus seperti seekor kerbau marah. Kepalanya yang tampak terlalu besar untuknya terus menggeleng, heran. Dia mengatakan kalau semuanya menjadi benar-benar rumit antara dia dan Yogis. Wajar saja, pikirku.

“Aku heran kenapa dia bisa berlebihan seperti itu. Kamu tahu, aku memperhatikan dengan sungguh-sungguh bagaimana dia menangis. Aku perhatikan sampai dia berhenti. Dan itulah yang bikin aku teringat pada film Rashomon. Film yang sangat indah. Kamu setuju, ‘kan?”

“He-eh. Tapi aku tak melihat kaitan antara ceritamu dan Rashomon,” sahutku.

“Tentu ada. Yang aku katakan pada Yogis itu aku kutip dari Rashomon: ‘Perempuan menggunakan air matanya untuk mengelabui semua orang’. Film itu benar-benar indah dan sangat cocok untuknya. Aku hanya heran kenapa dia menjerit. Bukankah film itu karya Akira Kurosawa—sutradara yang brilian?”

“Iya. Tapi…” pita suaraku berhenti bergetar. Aku ragu pada apa yang akan kukatakan.

Gabit menghembuskan napas panjang, matanya memicing. “Tapi Yogis enggak mengerti. Dasar perempuan—”

 

(Tampaksiring, 9 Oktober 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *