Browse By

Propaganda dalam Radikalisme

ilustrasi: https://mysteryoftheiniquity.com/2013/08/31/truth-vs-propaganda/

ilustrasi: https://mysteryoftheiniquity.com/2013/08/31/truth-vs-propaganda/

Hangatnya isu radikalisme di Indonesia belakangan ini telah menyita dan menuai berbagai pandangan masyarakat. Isu radikalisme sendiri memang sudah menjadi bagian dari konstelasi politik dunia, terlebih sejak terjadinya peristiwa nine eleven (9/11) dan dicetuskannya program Global War on Terror (GWoT). Realitas politik standar ganda Amerika Serikat dan sekutunya merupakan sumbu pemicu yang menyulut berkembangnya radikalisme Islam. Paradigma radikalisme terus dikembangkan menjadi terorisme agar Islam semakin terpojokkan. Seperti yang diuraikan Huntington, bahwa identitas budaya dan agama seseorang akan menjadi sumber konflik utama dunia pasca Perang Dingin. Hal ini disebut dengan benturan peradaban (The Clash of Civilizations). Huntington mengidentifikasi 9 peradaban besar, yaitu Barat, Ortodoks, Islam, Afrika, Amerika Latin, Konfusius, Hindu, Budha, dan Jepang. Dari seluruh peradaban tersebut Islam paling potensial mengancam peradaban Barat yang hegemon.

Sejarah tentang radikalisme kerap membawa nama agama. Agama dipahami memiliki kekuatan dahsyat yang melebihi kekuatan politik, sosial, dan budaya. Radikalisme yang berkembang saat ini ialah sebuah konstruksi pemikiran yang dibangun oleh Barat kepada dunia internasional dengan memanfaatkan norma dan pola perilaku masyarakat dunia. Radikalisme tidak jauh dari permainan perangkat kekuasaan negara, baik itu terhadap negara sendiri maupun tindakan suatu negara terhadap negara lain. Untuk dapat mengangkat isu radikalisme yang dikembangkan menjadi isu terorisme, AS dan bantuan sekutu menciptakan peristiwa besar yang akan terus dikenang dalam sejarah, yaitu peristiwa nine eleven (9/11). Peristiwa ini merupakan serangan gedung World Trade Center (WTC) di New York pada tanggal 11 September 2001, disusul dengan berbagai aksi pengeboman atau penyerangan di negara lainnya termasuk Indonesia yang merenggut banyak korban jiwa.

Amerika Serikat menghukum tertuduh pengeboman WTC tanpa bukti, yakni jaringan Al-Qaeda serta rezim Taliban Afganistan. Lebih dari itu, AS juga melakukan GWoT yang meluas ke banyak kelompok Islam di negara lain, juga di Indonesia. Begitu kuatnya AS melakukan GwoT atas dasar radikalisme. Ada delik hukum untuk membumihanguskan negara-negara Islam yang kuat dan militansinya tidak diragukan, sehingga diperlukan sekutu-sekutu dalam merealisasikan ambisi kekuasaan atas negara lain. Rekayasa politiknya menuding bahwa terorisme itu berbahaya bagi keamanan dan perdamaian dunia sehingga harus dimusnahkan, namun sesungguhnya tindakan AS dan sekutulah yang telah melampaui perilaku teroris yang dituduhkan. Perlu ditegaskan AS adalah penyebab dan pelaku utama radikalisme atas power-nya di PBB.

Sejatinya radikalisme merupakan fenomena yang bisa muncul pada agama manapun. Namun akibat konstruksi pemikiran yang dibangun oleh Barat, masyarakat secara serampangan mengartikan wacana radikalisme. Barat berhasil melakukan propagandanya. Pandangan stereotip negatif tentang Islam semakin meningkat dikarenakan isu radikalisme dan menyemarakkan gelombang Islamofobia, baik dalam hal agama, budaya, maupun politik. Ajaran Islam nyatanya sama sekali tidak membenarkan perbuatan radikalisme atau terorisme seperti yang selalu dikemukakan. Dampak yang terjadi adalah banyaknya kasus kekerasan yang menimpa umat Islam di dunia terutama di negara-negara Barat.

Ketakutan Barat akan bersatunya peradaban Islam memengaruhi kondisi sosial politik Indonesia. Indonesia sebagai negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam menjadi rawan konflik akibat terus diangkatnya isu radikalisme. Tak hanya Barat, golongan lain selain Islam di Indonesia pun turut khawatir.V. Fitzgerald mengatakan Islam bukan hanya semata-mata agama (religion), namun juga merupakan sebuah sistem politik. Meskipun akhir-akhir ini sudah ba

nyak kalangan dari umat Islam yang mengklaim sebagai kalangan modernis berusaha memisahkan kedua sisi itu, padahal seluruh pemikiran Islam dibangun atas fondasi kedua sisi yang saling bergandengan dengan selaras dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Sebaliknya, infiltrasi sekularisme ke dalam lembaga-lembaga hukum dan pendidikan semakin mantap di Indonesia sehingga umat Islam dan seluruh masyarakat Indonesia terpecah-belah akibat paham tersebut. (Zurriy)

 

Sumber bacaan

Ritaudin, M. Sidi. 2014.RADIKALISME NEGARA DAN KEKUASAAN PERSPEKTIF POLITIK GLOBAL. Kalam: Jurnal Studi  Agama dan Pemikiran IslamVol. 8 No. 2 Desember.

Huntington, Samuel P. 1996.The Clash of Civilizationsand The Remaking of World Order, New York: Simon &Schuster.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *