Browse By

Prospek Elektoral Partai dan Capres dalam Pemilu 2014

Judul buku                            : Perang Bintang 2014: Konstelasi dan Prediksi Pemilu dan Pilpres

Penulis                                 : Burhanuddin Muhtadi

Tebal                                    : XVI + 341

Penerbit                               : Noura Books (PT Mizan Publika)

Tahun Terbit                          : Februari, 2013

 

Tahun 2013 akan segera berakhir. Sepanjang tahun ini, bangsa Indonesia seperti dijejali beragam wacana politik menjelang Pemilu 2014. Berbagai fenomena partai politik menghiasi jagat perpolitikan tanah air seiring menjamurnya kemunculan lembaga survei dengan hasil yang beragam. Demikian juga badai politik, dari kasus korupsi yang melibatkan kader parpol sampai tegaknya praktik demokrasi transaksional. Di tengah-tengah dinamika catur perpolitikan yang demikian, Burhanuddin Muhtadi melalui buku ini bermaksud memotret dan membedah konstelasi kekuatan elektoral partai, di samping mengupas kontestasi calon presiden jelang Pemilu 2014.

Partai penguasa, Demokrat, tampaknya belum bisa terbebas dari hantaman badai akibat skandal Nazaruddin. Elektabilitasnya merosot drastis. Pada Pemilu 2009, elektabilitas Demokrat mencapai 20,8%, kemudian pada Desember 2011 turun menjadi 14%, hingga pada September 2012 hanya 11,4% (hal. 13). Sementara itu, pada September 2012 empat partai lainnya justru mengalami kenaikan yaitu Golkar 18,4%, PDI Perjuangan 15,8%, NasDem 6,3%, dan Gerindra 5,3%. Namun demikian, Burhanuddin tetap mewanti-wanti mengingat segala kemungkinan bisa berubah dengan cepat. Hal itu disebabkan karena fenomena politik elektoral di Indonesia yang bersifat fluktuatif akibat besarnya proporsi pemilih mengambang (swing voters).

Pada lini lain yang terkait, disamping prospek elektoral partai, figur calon presiden yang akan bertarung dalam Pilpres 2014 masih didominasi wajah-wajah lama. Publik masih dijejali figur-figur lama yang berkompetisi dalam Pilpres sebelumnya. “…Namun, elektabilitas capres-capres populer tidak berbanding lurus dengan popularitas mereka yang sudah mencapai titik maksimum…” (hal 328). Figur-figur lama seperti Prabowo Subianto, Megawati Soekarnoputri, Jusuf Kalla, dan Aburizal Bakrie yang tingkat kedikenalannya tinggi harus berusaha menampilkan dirinya sebagai calon berkualitas. Sebab jika tidak, akan terjadi popularity gap karena kualitasnya dinilai buruk oleh publik sehingga sulit meraup suara pemilih.

Ketimbang Ical dan Wiranto yang sudah mendeklarasikan diri untuk maju dalam Pilpres 2014, tingkat kedipilihan Megawati dan Prabowo pada sepanjang tahun 2012 menempati posisi teratas. Namun demikian, Megawati masih dinilai lemah dalam hal kompetensi dan ketegasan. Sebaliknya, Prabowo memang dianggap unggul dalam soal ketegasan, tetapi ia dinilai kurang berempati dan berintegritas ketimbang Megawati. Prabowo tetap berpeluang tinggi dalam Pilpres 2014 mengingat 72,8% masyarakat tidak tahu rekam jejak masa lalu Prabowo yang dianggap bertanggung jawab atas penculikan aktivis demokrasi menjelang kejatuhan Orde Baru. Terkait dengan itulah, Megawati bersama PDI Perjuangan yang kecipratan popularitas Jokowi mendapat peluang untuk menyusun strategi dan skema Pemilu 2014. Bukan tidak mungkin, bila Jokowi yang selalu menjadi media darling didorong maju sebagai Capres atau Cawapres, tingkat keterpilihannya bisa saja mengalahkan nama-nama yang sudah mendeklarasikan diri sebelumnya.

Bagi pengamat maupun peminat politik nasional, buku yang dibagi dalam 7 bab ini menarik untuk dicermati. Analisis politik Burhannudin sangat enak dibaca. Bahasanya mudah dimengerti. Sayangnya, beberapa tulisan di dalamnya menjadi tidak relevan bila dibaca di kemudian hari karena dinamika politik terus berubah. Hal itu tidaklah terlalu menjadi masalah mengingat analisis Burhannudin yang mendalam dapat  menjadi referensi penting, terutama bagi yang tertarik menganalisis Pemilu dan perilaku politik di Indonesia. (Widyartha Suryawan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *