Browse By

Radhar Panca Dahana: Mendamba Pemimpin yang Paham Budaya

Radhar Panca Dahana (dok. / linimassa)

 

Tahun 2013 tampaknya memang pantas menjadi tahunnya pertarungan politik di tanah air. Para politisi mulai memainkan intrik politik demi mendapat simpati dari konstituen yang akan mengusungnya pada Pemilu 2014. Atas kegaduhan politik itu, rakyat Indonesia tentu memerlukan sosok pemimpin yang tidak hanya menerima janji-janji manis ketika kampanye.

Ditengah perdebatan para politisi yang menegaskan garis-garis formalistik, tampaknya perlu sebuah refleksi kebudayaan yang dapat meruntuhkan kegalauan politik formalistik itu. Dari sanalah kemudian dilakukan pengujian kualitas pemimpin dengan memperhatikan track recordnya. Hal ini diungkapkan oleh budayawan Radhar Panca Dahana kepada Linimassa di sela-sela Konferensi Budaya yang diadakan BEM PM Universitas Udayana di Fakultas Kedokteran (6/12/2012).

Radar mengungkapkan, track record buruk seorang pemimpin tidak hanya menyangkut masalah korupsi, tetapi juga dalam hal yang lebih luas. Bahkan, ada keresahan yang tengah dihadapi bangsa Indonesia ketika pemimpin-pemimpinnya menjadi pengkhianat bangsa.

“Kita perlu pemimpin yang bisa mengerti kehidupan bangsanya, yaitu pemimpin yang memahami kebudayaannya,” kata budayawan yang aktif menulis di sejumlah surat kabar ini.

Ia menegaskan, kebudayaan tidak boleh dilepaskan dalam mengukur kualitas pemimpin itu.  Apabila pemimpin tidak bisa memahami kebudayaannya, pemimpin itu akan gagal menjalankan pemerintahannya.

“Sebab, kebudayaanlah yang membentuk sebuah bangsa,” ujarnya lagi.

 

Generasi Digital

Selain berbicara sosok pemimpin yang ideal bagi Indonesia, perbincangan singkat Linimassa dengan pria kelahiran Jakarta, 26 Maret 1965 itu juga sempat menyinggung soal generasi digital. Generasi yang tumbuh di era digital ini perlu bekerja keras mengelola kemampuan yang dimilikinya. Menurutnya, generasi yang demikian memiliki soft ware yang kurang bagus.

“Hal itu disebabkan karena tidak ada kebudayaan dibaliknya.”

Radar menyebut generasi yang tidak memahami tradisi dan kebudayaan akan menjadi robot-robot yang hanya bisa memanfaatkan data-data digital. Berbeda halnya generasi yang memahami kebudayaan. Ia akan mampu menyiasati dunia digital itu dengan baik.

“Saya tidak akan mau masuk ke dalam dunia digital kalau hanya menemukan labirin di dalamnya,” tambah pria berbadan kurus ini.

Di akhir perbincangan, Radhar berpesan agar generasi muda tidak bergantung penuh pada dunia digital. Perlu keseimbangan berpikir dengan menaruh perhatian pada kehidupan yang sebenarnya. Dengan begitu, generasi muda tidak akan terjebak dalam dunia virtual nan maya. Semoga.  (Widyartha Suryawan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *