Browse By

Review Film “Soekarno”: Sosok Pahlawan yang Dicintai Rakyat

Kisahnya diawali dengan masa kecil Soekarno yang bernama Koesno. Namun, karena sering sakit-sakitan nama Koesno diganti oleh ayahnya menjadi Soekarno, dengan harapan nantinya ia bisa menjadi ksatria. Pergantian nama itu dilaksanakan dalam ritual adat Jawa. Bersama Mohamad Hatta, Soekarno yang telah matang ketika beranjak dewasa akhirnya tampil sebagai proklamator kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Ia menjadi sosok yang dikagumi rakyatnya!

Sebuah film garapan sutradara Hanung Bramantyo berjudul “Soekarno” telah berhasil mengangkat cerita mengenai kehidupan Soekarno sebagai tokoh penting dalam kemerdekaan Indonesia.  Sejak muda, Soekarno dicintai oleh rakyat Indonesia. Ke mana pun dia pergi, massa rakyat menghormatinya. Sejak muda, Soekarno telah berhasil memikat hati rakyat. Rakyat percaya bahwa Soekarno adalah sosok yang akan membebaskan Indonesia dari belenggu penjajah.

Film berdurasi 137 menit ini diceritakan dengan alur yang mudah dipahami. Tidak hanya kisah pengorbanan Soekarno untuk bangsa saja yang divisualisasikan, tetapi perjuangannya dalam hal percintaan pun ditampilkan menawan dalam film ini. Beberapa adegan Soekarno berpacaran ditampilkan dengan jenaka, seperti ketika dia berpacaran dengan Fatmawati di pantai, kepala Seokarno terkena bola.

Film ini didukung oleh bintang-bintang berbakat. Ario Bayu misalnya bermain maksimal memerankan sosok Soekarno. Dua istri Soekarno, Inggit dan Fatmawati diperankan masing-masing oleh Maudy Koesnaedi dan Tika Bravani.Keduanya bermain dengan sangat baik dan menawan. Ayah Soekarno, Raden Soekemi, dimainkan oleh dalang kondang Sudjiwo Tedjo yang sering muncul memainkan wayang di televisi.

Film ini mampu mengajak penonton menikmati dan menghayati Indonesia tempo doeloe. Namun demikian, ada beberapa bagian cerita yang kurang jelas karena kaitannya terlalu longgar, terutama bagi penonton yang kurang memahami sejarah. Misalnya, adegan Jepang yang menghadiahkan kemerdekaan bagi Indonesia, tampak tidak dilukiskan dengan sebab-akibat yang berurutan erat. Kelemahan lain, film ini terlalu banyak menonjolkan mengenai kehidupan keluarga Soekarno yang seharusnya dapat diminimalisir dengan lebih menonjolkan tentang Soekarno sebagai pejuang atau pahlawan bangsa.

Ada beberapa adegan kekerasan bahkan sampai aksi pertumpahan darah ditampilkan di dalamnya. Hal itu dilukiskan ketika penjajah (Belanda dan Jepang) yang kejam dan tidak segan-segan menyiksa, menyakiti, bahkan membunuh rakyat Indonesia. Bagi beberapa penonton yang tidak suka melihat darah dan kekerasan, film ini menjadi kurang menarik.

Secara keseluruhan film ini dapat menjadi referensi sejarah bangsa Indonesia yang sebagaimana kita ketahui memiliki banyak versi. Generasi muda Indonesia dapat belajar banyak dari Soekarno, Hatta, Syahrir, dan tokoh lainnya yang tidak kenal menyerah berjuang demi nusa dan bangsa. Bukankah Bung kita ini pernah bilang “Barang siapa ingin mutiara harus berani terjun di lautan yang dalam”? Terlepas dari kontroversi yang ditujukan pada film ini, kita tetap dapat mengapresiasinya secara saksama. Sebab, mau tidak mau kita harus mengakui bahwa sejarah bangsa kita ini multitafsir. (Prasiwi Bestari)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *