Browse By

RIBUT PENYESUAIAN UKT, WR II UNUD: SUDAH SAYA JAWAB KE PRESMA BEM

22205

Perslinimassa, Denpasar-Surat Terbuka yang dilayangkan oleh Komunitas Aspirasi Mahasiswa Unud (KAMU) terkait tuntutan pemenuhan subsidi mahasiswa dalam menghadapi situasi darurat Covid19 pada tanggal 14 April 2020 ditolak oleh rektorat. Pasalnya, rektorat hanya mau melakukan audiensi dengan lembaga eksekutif Unud saja.

“Tidak ada penolakan, cuma, kalau organisasinya tidak berada di bawah BEM Unud, ibu Rektor tidak mau audiensi” kata Wakil Rektor III Unud, Prof. Dr. Ir. I Made Sudarma, M.S, Via Chat WhatssApp dengan jurnalis Linimassa, Jum’at (17/4).

Isi tuntutan dalam surat terbuka KAMU kepada rektorat yaitu, pembiayaan kuota internet mahasiswa selama kuliah daring, pengembalian UKT mahasiswa (50% dari total UKT yang dibayarkan), penerbitan SOP kuliah daring Unud, pemberian jaminan kesehatan bagi seluruh warga Unud, tolak bayar UKT mahal namun tidak ada feedback layak, dan pemenuhan kebutuhan pokok (subsidi logistik) bagi mahasiswa kurang mampu. Tuntutan tersebut merupakan hasil survei jejak pendapat kepada mahasiswa di 13 fakultas Unud yang dilakukan oleh KAMU pada tanggal 2-4 April 2020.

Menindak lanjuti isi tuntutan yang cukup krusial dan urgent bagi mahasiswa Unud, Presma BEM PM Unud, Satya Ranasika, mengatakan akan melakukan pra audiensi dengan WR II Unud, Prof. Dr. I Gusti Bagus Wiksuana, SE.,MS, terkait pembiayaan kuota internet, penyesuaian UKT darurat Covid19, dan subsidi logistik bagi mahasiswa kurang mampu. Tiga poin pokok tuntuntan tersebut merupakan hasil konsolidasi BEM PM dengan BEM 13 fakultas Unud.

“Pembiayaan kuota internet sudah clear, kita tunggu mekanisme aktivasi selanjutnya. WR II sudah mengeluarkan Surat Edaran Penyesuaian UKT, hal ini perlu diklarifikasi lagi, apakah penyesuaian UKT darurat Covid sama dengan mekanisme penyesuaian UKT dalam situasi ekonomi normal melalui Poskow UKT BEM PM, jika sama, maka penurunan UKT bersifat permanen bukan temporal. Untuk subsidi logistik, Kementerian Kebijakan Kampus sudah menghubungi sekretaris Satgas Covid Unud terkait pendataan mahasiswa yang kurang mampu”, ujar Satya melalui telfon WhatssApp, Jum’at (17/4).

Hasil audiensi BEM PM Unud dengan Wakil Rektor II pada tanggal 18 April 2020 yaitu, Teknis pengajuan penyesuaian UKT darurat Covid19 sama dengan mekanisme Poskow UKT BEM PM seperti biasanya (penurunan UKT bersifat permanen hingga lulus); Pemberian keringanan pemunduran pembayaran UKT bagi mahasiswa tingkat akhir (surat permohonan langsung ditujukan ke rektor); Bantuan pulsa dengan alokasi dana sekitar Rp 1 Miliar dan BLT sebesar Rp 500.000 untuk mahasiswa penghuni Asrama dan Rusunawa sebanyak 82 orang (rencana akan diberikan pada tanggal 21 April).

Menurut WR II Unud tidak ada ketentuan berapa jumlah kuota mahasiswa yang akan lolos penyesuaian UKT dikarenakan persetujuan penurunan UKT merupakan hak masing-masing fakultas. Tugas rektorat menerbitkan Surat Keputusan Rektor berdasarkan persetujuan dekan.

“Persyaratan penyesuaian UKT darurat covid sama dengan yang ada di Poskow UKT BEM PM, disetujui oleh dekan fakultas, dan penurunan UKT bersifat permanen”, ujar WR II Unud melalui Chat WhatssApp, Sabtu (18/4) .

Namun yang perlu diperhatikan adalah transparansi penyeleksian administrasi dari penyesuaian UKT tersebut. Apakah indikator yang sudah diterapkan oleh fakultas dalam menyeleksi berkas administrasi mahasiswa yang berkeinginan melakukan penyesuaian UKT sudah sesuaikah dengan kondisi ekonomi dan tepat sasaran. Berdasarkan laporan mahasiswa FPAR Unud, sebut saja R, pengajuan penurunan UKT dikarenakan Bapaknya meninggal tidak diloloskan oleh Dekanat. Ia mendapatkan UKT golongan 4 sebesar Rp 6.000.000. Padahal, R merupakan mahasiswa tergolong kurang/tidak mampu.

“Saya mengajukan penurunan UKT pada tahun 2019 melalui Poskow UKT BEM PM. Persyaratan sudah saya penuhi termasuk lampiran akta kematian ayah saya. Ibu saya sudah lansia dan hanya di rumah, tidak bekerja. Yang membiayai kuliah saya adalah kakak saya, itupun pontang-panting nyari duitnya. Saya tidak lolos penurunan UKT. Kalo memang ada kuota penyesuaian UKT, silahkan transparan, agar saya tidak sia-sia mengajukan berkas”, ujar R Via Chat WhatssApp, Sabtu (18/4).

Mungkin akan ada R selanjutnya yang juga mengalami ketidak adilan yang sama apabila belum ada indikator yang jelas dan transparan perihal penyeleksian berkas administrasi penyesuaian UKT di Unud. Seharusnya, Rektorat sebagai lembaga pusat Kampus memiliki standar khusus indikator seleksi berkas, agar penurunan UKT tepat sasaran kepada mahasiswa yang membutuhkan. Tidak salah jika Dekanat yang memiliki hak otonomi penyeleksian, namun Rektor pula yang mememiliki kewenangan untuk mengeluarkan Surat Keputusan untuk persetujuan penyesuaian UKT perlu memberikan standar indikator kepada seluruh fakultas.

Sesuai instruksi Satgas Covid19 Unud, pendataan mahasiswa yang membutuhkan bantuan akan dilakukan oleh BEM PM. Pada tanggal 18 April 2020, BEM PM telah share link survei kepada mahasiswa Unud. Melalui pendataan ini, mahasiswa akan diseleksi siapa saja yang berhak untuk mendapatkan bantuan logistik dari Unud, utamanya adalah mahasiswa penghuni Asrama dan Rusunawa. Padahal mayoritas mahasiswa Unud tinggal di kos dan biasanya mahasiswa angkatan 2019 saja yang tinggal di Asrama atau Rusunawa. Tidak ada kuota yang jelas pula, berapa mahasiswa non penghuni asrama/rusunawa yang akan mendapatkan subsidi dari Unud. Bahkan belum ada skala indikator dari rektorat siapa saja yang bisa mendapatkan subsidi kebutuhan pokok.

Berdasarkan hasil audiensi DPM PM dengan Rektorat pada tanggal 6 April 2020, Rektorat akan melakukan refocussing anggaran kegiatan dan realokasi anggaran. Namun ketika dihubungi oleh jurnalis Linimassa, berapa total alokasi anggaran keseluruhan untuk subsidi mahasiswa, Wakil Rektor II enggan memberikan tanggapan.

“Sudah ya, saya capek menjawab yang sudah saya jawab ke Presiden BEM”, ujar WR II.

Padahal dalam notulensi hasil audiensi antara WR II dan BEM PM, tidak ada laporan alokasi anggaran untuk subsidi mahasiswa saat darurat Covid19, kecuali dana kuota dan BLT mahasiswa asrama/rusunawa. (AM)

Penulis: Ufiya Amirah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *