Browse By

Telur Mata Sapi

Oleh Rai Sukmaning

Ilustrasi oleh Eka Dharma

Dia menangkap gelagatku, lalu dengan sigap menyingkirkan sepiring telur dadar dari meja makan. Tanpa menoleh, dia membawa makanan laknat itu menjauh.

Lantas dia berkata, “Maafkan aku sayang.” Aku bertanya, “Ada apa denganmu?”

“Ada apa apanya maksudmu?”

“Telur dadar itu.”

“Maafkan aku. Aku lupa kamu alergi telur,” katanya. “Kenapa bisa?” aku mengejar.

“Tentu saja bisa,” jawabnya sabar. “Waktu terus berjalan.”

Aku diam. Sepertinya istriku juga.

Sebelumnya, istriku tak pernah lupa aku alergi pada telur. Sebab, itu semacam titik lemah diriku—aku bisa enek hanya dengan mencium baunya—dan dia peduli akan hal itu. Walau begitu, aku rasa wajar saja. Mengurus anak bisa mengurangi daya ingat, pikirku.

Dua minggu lalu, istriku menunjukkan buku resep masakan Jepang yang baru dibelinya. Buku itu berjudul: Resep Lengkap Masakan Rumahan ala Jepang. Katanya, dia membeli buku itu hanya untuk bacaan di waktu senggang. Aku pikir, itu bagus untuknya. Namun, apa enaknya membaca buku resep tanpa mempraktikkannya. Jadi, aku bertanya apakah dia akan mencoba resep-resep di buku itu. Dia berkata, “Tidak, itu tak perlu. Aku tak punya cukup mulut untuk memakannya.” Karena merasa tersinggung, aku membanting koran ditanganku, lalu menghilang ke dalam kamar. Saat itu, aku merasa malu pada diriku sendiri.

Dulu, istriku adalah seorang juru masak. Dia begitu berbakat. Di usia muda dia sudah bekerja di sebuah restoran mewah di Ubud. Setelah kami menikah dia terpaksa pulang pergi Ubud-Denpasar setiap harinya. Lima bulan lalu, ketika anak kami lahir, dia memutuskan berhenti. Dia ingin fokus mengurus anak dan menolak saranku untuk menyewa pengasuh anak. Aku setuju saja. Demi anak. Aku hanya sedikit khawatir, sebab memasak bukan cuma pekerjaan, tapi kegemarannya. Dia bilang, tak apa-apa. Aku bertanya dalam hati, apa aku benar-benar telah mengenal perempuan ini?

Kami pacaran lima tahun lebih. Menikah di usia sama-sama dua puluh tiga. Meski kami seumuran, aku selalu merasa dia lebih dewasa dariku. Pernah di satu acara keluarga, setengah mabuk aku berseloroh, “Aku takkan pernah menikah seumur hidupku. Bahkan sampai dunia kiamat.” Melihat raut kecewa—bercampur malu—di wajah sanak keluargaku dia cepat-cepat menimpali, “Pria kecil di sana,” menunjukku, “Mengatakan takkan pernah menikah seumur hidupnya. Dia yakin bahwa aku ini istrinya, bahkan jauh sebelum dia lahir ke dunia.” Tak kusangka, setelah itu, keluargaku dengan polos menyanjungku sebagai pria romantis. Mengatakan bahwa aku ini pria Bali dengan jiwa seorang Perancis.

Ibuku selalu menasehatiku untuk mencari istri lebih muda. Paling tidak beda lima tahun. Itu ideal, katanya. Aku selalu menjawab, watak tak bisa diukur usia. Lalu, dia pun mulai bercerita bagaimana pernikahannya yang kandas dengan ayahku. Ayahku disebutnya “macan tanpa belang,” kekanak-kanakan, dan orang yang menguasai 1001 cara bertindak ceroboh. Aku menaruh simpati pada ibuku. Tapi aku agak kesal, kenapa dia selalu merasa bajunya akan pas untuk setiap orang. Bahwa aku bukan ayahku, sudah jelas.

“Mungkin kita perlu menyewa pengasuh anak,” kataku membuka obrolan.

Istriku yang daritadi sibuk menyiapkan makanan pengganti telur dadar laknat, dengan cepat menjawab, “Kurasa itu tak perlu.”

“Tentu perlu,” aku diam sesaat. “Perlu sekali. Aku tak ingin melihat istriku menopause di usia dua puluh tujuh.”

“Kamu terlalu menganggap remeh istrimu,” katanya santai.

“Tidak, Sayang. Sama sekali tidak,” kataku. “Lalu?” dia balik bertanya.

“Aku hanya ingin kamu punya waktu istirahat lebih. Aku perhatikan akhir-akhir ini wajahmu pucat. Kamu kurang tidur,” jawabku.

“Bagaimana dengan ide menambah jam untuk tiap hari? Tiga puluh jam dalam sehari mungkin akan cukup untukmu,” celetuknya.

Aku menatap wajah istriku lekat-lekat. Sesimpul senyum yang mengesalkan mencuat dari bibirnya.

“Aku rasa sindiran halusmu itu bisa kamu simpan dulu sekarang,” kataku kesal.

Dari arah kamar terdengar suara tangisan. “Kamu dengar itu?”

Istriku bergegas tanpa menjawab. Kompor masih menyala. Sekejap kemudian suara tangisan hilang.

“Yah, beginilah rumah tangga…” dia menyebut namaku, “saat menikah kelak, kamu akan mengerti.”

Untuk sejenak kerongkonganku terasa dijejali pasir gurun. Kata-kata yang selama ini hinggap di kepalaku seakan disedot habis oleh pasir hisap. Kagok. Gugup. Aneh jika perasaan semacam itu muncul dibenak seorang suami. Tapi begitulah kenyataannya.

Aku tak melihat wajah istriku. Tapi, dalam bayanganku, sekarang dia telah berubah jadi Dewi Durga. Aku mesti memperbaiki keadaan, pikirku. Lalu, dengan tergesa-gesa kususun kata-kata yang jadinya seperti ini:

“Sindiranmu terdengar menyakitkan, Sayang. Aku rasa tak tepat dikeluarkan saat jam makan. Apa kamu sudah bosan memasak untukku?”

“Tentu saja tidak. Tak ada alasan aku bosan,” jawabnya begitu sabar. “Apakah aku kehilangan kecepatan?”

“Hampir, Sayang. Sudah hampir setengah jam,” jawabku.

“O, kalau begitu akan kumasakkan telur mata sapi untukmu.”

Kali ini kata-katanya terdengar lamat-lamat, terlingkupi suara telur dimasak. Bau margarin, telur, dan garam meruap menggenjot seantero ruangan. Aku jadi mual. Di depan meja makan, gelas yang telah kosong ragu-ragu untuk kuisi kembali.

 

(Renon, 9-10 Juni 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *