Browse By

Tentang Kami

SELAYANG PANDANG LPM LINIMASSA

Kurang lebih empat tahun sudah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Udayana berdiri. Meskipun masih seumuran jagung, fakultas ini telah banyak terlibat dalam agenda berskala lokal, nasional, bahkan  internasional. Keterlibatan FISIP Unud tersebut juga dibarengi dengan peraihan beberapa prestasi akademik dan  non akademik dalam beberapa kompetisi. Peminat yang ingin masuk di fakultas ini setiap tahunnya juga meningkat. Ini membuktikan FISIP Udayana adalah salah satu fakultas yang dapat diperhitungkan di Bali.

Untuk menginventarisasi pencapaian-pencapaian FISIP itu, diperlukan  media yang selain dapat mewartakan perkembangan fakultas, juga menjadi wadah segenap civitas akademika FISIP Unud untuk menuangkan gagasannya. Media inilah yang nantinya dapat menjadi penyambung lidah mahasiswa FISIP Unud dalam hal beraspirasi.  Selain itu, lembaga pers fakultas dapat memberi informasi yang bukan saja penting bagi mahasiswa internal di lingkungan FISIP, tetapi juga bagi semua yang ingin mengenal lebih dekat dinamika di Fakultas Maroon ini.

Bila menengok sejarah perkembangan pers, pers mahasiswa di Indonesia di masa lalu menjadi salah satu basis perjuangan dan pergerakan mahasiswa. Terutama ketika masa Orde Baru. Kita teringat kala itu pergerakan mahasiswa begitu serentak di seluruh pertiwi Indonesia. Mahasiswa menjadi tulang punggung untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah yang represif ketika itu. Banyak mahasiswa yang pada akhirnya terlibat aksi-aksi di jalan untuk menumbangkan rezim Orde Baru yang membungkam  rakyatnya terutama dalam hal kebebasan berpendapat.

Berpredikat sebagai agent of change, mahasiswa tentu tidak bisa hanya diam menyikapi kebijakan-kebijakan represif seperti itu. Begitu pula perjalanan pers mahasiswa ketika masa-masa itu. Idealisme sebagai berlian terakhir yang hanya dimiliki pemuda menjadi ‘alat’ untuk mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah yang melenceng. Berbekal nalar yang kuat dan pola pikir kritis, jeritan-jeritan rakyat yang dimuat dalam media pers kampus ketika itu mampu membuat pemerintah tercengang. Pemerintah yang tidak terima sudah pasti tidak tinggal diam. Pembredelan menjadi pilihan bagi media yang dianggap membahayakan pemerintah. Tercatat beberapa media kampus dan juga media umum yang dibredel pemerintah kala itu.

Puncaknya tahun 1998 ketika mahasiswa menyulut api revolusi untuk menuntut lengsernya rezim represif yang selama tiga puluh dua tahun berkuasa. Jalanan dikuasai mahasiswa di seluruh pelosok pertiwi Indonesia. Maka terjadilah peristiwa Semanggi, Tri Sakti, dengan menduduki gedung MPR. Ratusan nyawa mahasiswa melayang berhadapan dengan aparat yang menjadi kekuatan pemerintah. Revolusi akhirnya dibayar dengan era baru, yaitu era keterbukaan yang disebut sebagai reformasi atau masa transisi.

Media pers mahasiswa di era reformasi memang dipandang telah kehilangan arah. Pers mahasiswa hari ini berbeda dengan masa-masa pergerakan seperti itu. Namun demikian, tidak boleh dipungkiri bahwa kampus atau bahkan negara-bangsa hari ini masih memerlukan pemikiran-pemikiran besar mahasiwa. Soekarno berkata “Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan ku cabut semeru hingga ke akar-akarnya. Tapi beri aku 10 orang pemuda, niscaya kan ku guncang dunia”. Dengan demikian, peran pemuda melalui pers mahasiswa dalam perjalanannya masih cukup relevan dalam kaitannya sebagai media kontrol di kampus maupun pada isu-isu masyarakat.

Keberadaan Lembaga Pers Mahasiswa  (LPM) merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,  secara struktural dibawah naungan institusi FISIP UNUD, namun dalam pelaksanaan kegiatannya bersifat idependen. Melalui suatu sistem pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang baik seperti diklat, seminar dan sharing antar anggota atau antar LPM, maka akan diperoleh SDM yang handal, idealis, kreatif, kritis, berintegritas dan berwawasan luas.

Berangkat dari itulah Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Linimassa hadir di tengah-tengah kerinduan warga FISIP akan media kontrol. Ke depannya, Linimassa diharapkan dapat menjalankan fungsi kontrol di tingkatan fakultas, universitas, bahkan terkait isu-isu skala lokal, nasional, atau internasional sekalipun. Dengan demikian, pembelajaran demokrasi dapat diaplikasikan dalam kehidupan kampus dan lingkungan sekitar. LPM seiring dengan terbentuknya kepengurusan Badan Eksekutif mashasiswa FISIP periode 2013-2014. Hal itu mengantarkan berdirinya lembaga ini pada 10 Januari  2013 dengan nama Lembaga Pers Mahasiswa “Linimassa”.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *