Browse By

Tentang Rumahku: Sebuah Fase Penemuan

Dialog Dini Hari- Tentang Rumahku

Tahun 2008 Dialog Dini Hari (DDH) mulai dikenal melalui albumnya, Beranda Taman Hati. Lagu-lagu dalam Beranda Taman Hati sangat kental dengan nuansakesepian yang mencekam, kerinduan, ketakutan, dan kepedihan yang pilu. Sulit untuk menampik itu bila kita menyimak sebagian besar nomor seperti  Pagi, Bumiku Buruk Rupa, Sahabat jadi Hantu, Tak Seperti yang Kau Bayangkan, Lagu Sedih, Senandung Rindu, dan Ku Kan Pulang. Ada kesan keterasingan seorang anak manusia di bumi nun jauh yang membayangkan dirinya mengetuk-ngetuk pintu rumah. Meski dibalut dengan nada yang hangat, sulit rasanya melebarkan senyum mendengar suara bariton Dadang dalam album ini.

Lihatlah nulikan lirik Senandung Rindu dan Ku Kan Pulang berikut:

“…rinduku padanya / mengendap, ikhlas, pagi, siang, malam /… ingatkah aku bila di rumah? / bukalah pintu bila kupulang / nanti, esok, entah… (Senandung Rindu)

“Lamakah aku pergi / hingga tak sadar rambutku makin memutih/ … lamakah aku pergi/ hingga tak sadar beribu kisah ingin kubagi/ … ku kan pulang / pulang ke rumah / berilah waktu / …” (Ku Kan Pulang)

Kedua nukilan itu menyiratkan hasrat anak manusia yang ingin pulang, bersenda gurau dengan senyum hangat keluarga di rumah – sebuah estetika jeda dalam istilah Goenawan Mohamad, penyair mashyur dari Salihara itu. Tapi, apa yang disajikan enam tahun kemudian dalam album Tentang Rumahku adalah jawaban atas ‘keterasingan’ yang mendominasi Beranda Taman Hati.

Keterasingan anak manusia itu sepertinya tak ditemukan lagi dalam album Tentang Rumahku yang dirilis akhir Mei 2014 lalu. Inilah fase penemuan yang menunjukkan kematangan trio folk (Dadang Pranoto, Brozio Orah, dan Denny Surya) dalam bermusik. DDH masih konsisten dengan tema-tema kehidupan sebagai proses penemuan diri. Ada kejujuran, kesederhanaan, eksistensialisme, dan ruang kontemplasi yang dibangun dengan lirik-lirik segar nan puitis. Kabarnya pula, pujangga romantis Sapardi Djoko Damono memuji karya-karya mereka.

Dari 11 lagu yang dimuat dalam album Tentang Rumahku, nomor 360 Batu yang dijadikan menu pembuka terasa sangat kuat dan bersahaja: “…tertawa, tertawalah kawan / basuh basahi diri / luka, biar terluka kawan / karam kering sendiri …” Boleh jadi, lagu pembuka ini adalah yang paling berenergi dalam Tentang Rumahku.

Selanjutnya kita diajak untuk menikmati “rumah mungil dan cerita cinta yang megah” dalam Tentang Rumahku yang juga menjadi judul album. “…sewindu merindu / kembali pulang dengan sebongkah haru/ senyum menyambut / bagai rindu kumbang di taman…” Sangat jelas, lagu ini mewakili pelampiasan mereka akan kerinduan dengan rumah selepas menanggung muram di Beranda Taman Hati.

Sesampainya di rumah, DDH mengajak kita untuk berhenti sejenak, menemukan diri, dan menua bersama waktu. Lagu Temui Diriku mengajak kita melakukan mulat sarira – merenung. Proses penemuan diri juga terasa dalam lagu kedelapan berjudul Gurat Asa yang video klipnya sudah bisa disimak via Youtube. “…kelana jalan panjang dunia/  jubah tlah lama kutanggalkan / riang dan sunyi aku telanjang…” Atau bisa juga pada nomor Aku dan Burung. Mengisahkan tentang keterbatasan gerak yang ternyata sering kita buat sendiri: “…aku tidaklah bebas sepertimu/ terjebak dalam sangkar yang kubangun…”

Setelah puas menikmati rumah dan metafora-metafora seperti sinar bulan tua, bukit tinggi, kumbang merayu, jemari cinta, semayam di hati, nada merajut rindu – dan banyak lagi kata-kata ciamik lainnya– kita akan mudah teringat dengan soundtrack “Into the Wild” pada lagu terakhir dalam album ini, The Road. Mengisahkan tentang perjalanan hidup dalam mencari kebebasan dan menemukan makna cinta yang terdalam. DDH tidak mengarahkan The Road pada cinta cengengesan seperti lagu-lagu pop di layar kaca. The Road adalah sebuah renungan tentang cinta yang bernyawa, yang harus ditemukan, disyukuri, dalam kehidupan yang serba gemerlapan. “…I want to learn to live to love / I want to feel like I am free to be me…”

Tentang Rumahku semakin mantap karena melibatkan beberapa nama seperti Kartika Jahja yang menyumbang suara merdunya pada nomor Lagu Cinta – ini lagu paling romantisyang wajib disimak sambil melihat wajah kekasih di langit-langit menjelang tidur. Ada bunyi suling yang sejuk dari Sa’at pula di nomor ini. Kemudian suara Guna Warma dari “Nostress” leluasa melatari lagu Jalan dalam Diam, juga balutan cello di beberapa lagu oleh Ricky Surya “White Shoes and the Couples Company”.

Album ini seperti kumpulan energi yang mengajak penikmatnya untuk larut dalam renungan-renungan yang termuat dalam lirik-lirik puitis. Dadang, yang menulis lirik-lirik untuk DDH, seperti hendak melakukan relaksasi setelah lama berkiprah di Navicula – sebuah band papan atas Bali yang dijuluki neo green phsycadelic grunge core. Brozio, sang bassis juga dulu sempat bermain bersama The Hidrant, sepuh rockabilly Bali. Demikian pula Deny Surya, drummer band rock Bali yang pernah menggebrak blantika musik lokal di awal tahun 2000-an. Dengan demikian DDH seperti menjadi pesinggahan – tapi bukan tempat kacangan – untuk hening sejenak, menikmati sunyi dini hari dengan pengakuan-pengakuan, bahkan kejujuran yang kian sulit kita temukan. (Widyartha Suryawan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *