Browse By

THE HOURS : TUTUR VISUAL KEDALAMAN RASA

2

—Siswan Dewi, Mahasiswi Ikom 2013.

Beberapa kisah hidup mampu menjalar dalam ingatan banyak orang. Liku kehidupan yang tidak biasa membuat kisahnya menggema hingga radius yang tak terhingga. Sebagian bahkan menjadi bagian dari prinsip hidup orang-orang yang tidak ada hubungan darah daging dengan para lakonnya. Dari sekian nama mengemuka yang terdengar hingga bilik –bilik jendela dan jalan setapak di sudut-sudut muka bumi, nama Virginia Woolf mungkin diantaranya. Tinta hitamnya masih mampu bersua soal perasaan mendalam tuannya yang jera.

Lembar demi lembar kisah Mrs. Dalloway menjadi narasi kekhawatiran sosok penulis wanita asal Inggris tersebut. Novel tersebut dirampungkan Virginia sebelum ia memutuskan untuk menenggelamkan diri di derasnya sungai Ouse tahun 1941 silam. Barangkali juga menjadi benang merah atas konflik yang menyeruak pada film besutan sutradara Stephen Daldry yang bertajuk THE HOURS. Film ini menautkan kisah tiga perempuan yang sama-sama lekat dengan keberadaan kisah Mrs. Dalloway. Bunga, pesta, cinta, dan konflik batin ialah beberapa kosa kata yang juga turut mengantar kisah tersebut dan mengada secara khusuk dalam kehidupan Virginia Woolf, Laura Brown, dan Clarissa Vaughn.

Laura Brown dikisahkan sebagai seorang istri yang hidup di Kota Los Angeles pada tahun 1949. Ia digambarkan sebagai sosok perempuan yang rapuh. Terdengar dari suaranya yang lirih dan guratan senyum yang kerap ia tunjukkan sebagai tameng kala matanya mulai menunjukkan kekhawatiran. Entah apa yang membuatnya sedemikian gelisah. Mungkin gagasan Mrs. Dalloway yang begitu mendalam yang ia baca sehari-hari, membuat Laura lepas kendali akan perasaannya sendiri. Padahal dalam hidupnya ia dikaruniai bocah laki-laki yang tampan dan penurut yang kerap ia sapa dengan nama Richie. Putra semata wayang Laura tersebut mulai merekam gelagat aneh Ibunya sejak kecil. Richie seolah menjadi saksi bisu nan lugu yang kerap memaafkan kekacauan Ibunya hanya dengan senyum kecil dan tatapan mata yang tulus.

THE HOURS tidak berhenti sampai di situ. Sosok Clarissa Vaughn yang diperankan oleh Meryl Streep hadir sebagai pasangan lesbian yang hidup di Kota New York. Ia kerap disapa dengan panggilan Mrs. Dalloway oleh teman karibnya, Richard, yang tengah menderita AIDS. Clarissa mencurahkan segala perhatian dan kasih sayangnya pada Richard, sosok yang juga mengaku kerap mendengar suara-suara asing di ruang apartemennya. Richard seolah memiliki dunianya sendiri, serta turut kelam digenangi oleh kebimbangannya untuk terus berjuang hidup atau berpihak pada kematian yang bisa saja ia temui lebih awal dari takdirnya sendiri. Perasaannya juga ia rangkum dalam sebuah novel yang membuatnya dihargai dengan penghargaan sastra, momentum yang juga akan dirayakan oleh Clarissa. Tapi nyatanya Richard memilih berpihak pada kematiannya.

Tak ketinggalan, sang penutur asli kedalaman kisah Mrs. Dalloway, yakni Virginia Woolf turut andil diperankan apik dalam film ini. Ia digambarkan sebagai sosok yang serius, pengkhayal, dan mudah gelisah. Gesture-nya yang agak kaku, telapak tangan yang kerap ia masukkan ke saku pakaian, langkah kaki yang terburu-buru atau sorot matanya yang kerap agak menyingsing seturut dengan dahi yang mengkerut, menunjukkan betapa rumit jalan pikiran si Virginia. Gagasan-gagasannya terlahir membumbung tinggi bersama kepulan asap rokok yang memenuhi ruang baca pribadinya. Sesekali ia tampak menerawang, bertimbang soal pikirannya yang mendalam dan ia terlanjur tenggelam.

Terlepas dari kedalaman karakter dan kisahnya, THE HOURS turut menyita perhatian dalam hal sinematografinya. Beberapa adegan dengan gerakan dan tempo yang seragam beberapa kali tampak, sebagai penanda tautan antara tiga perempuan yang dikisahkan. Suara pikiran Virginia Woolf dalam novel Mrs. Dalloway dengan halus pula tergambar pada batin Laura Brown yang diperankan baik oleh Julliane Moore. Gurat-gurat pada wajah Laura berhasil tertangkap mata kamera yang mencoba menjelaskan konflik batin yang dideranya. Atau gerak-gerik canggung Virginia Woolf ketika berhadapan dengan lawan mainnya mencoba menggambarkan bagaimana kalutnya jalan pikiran dan perasaannya kala itu. Sedangkan Clarissa dihadirkan sebagai figur yang seolah pintar menutupi perasaan sedihnya sendiri dengan nada suara yang agak meninggi atau gerakan tubuh yang tampak lebih bebas.

3

Beberapa aktor pendukung lainnya seperti Stephen Dillane yang berperan sebagai Leonard Woolf, suami dari Virginia Woolf, turut menemukan jiwa penokohannya. Teriakannya di stasiun kereta ketika hendak menjemput Virginia yang akan kabur, terdengar sangat rapuh. Tangis bisunya terlihat menyata ketika ia mengalah akan keinginan keras sang istri untuk kembali ke Kota London.  Atau sang pujangga Richard, yang emosional sekaligus ringkih, mampu diperankan oleh Ed Harris dengan apik. Ia seolah begitu mewakili perasaan sejuta umat yang berada pada posisi yang sama dengannya. Hingga pada suatu adegan ketika ia menangis sejadi-jadinya, membuat satu rahasia terkuak, sejumput ingatan masa lalu terlintas di kepalanya, ia adalah sosok Richie kecil yang dulu meragu dengan polah sang Ibu. Konflik mendalam seseorang memang menawarkan tantangannya sendiri ketika hendak disajikan secara visual. Bahkan terkadang hanya mampu digambarkan dalam kesunyian. Hanya sang perasaan yang bertutur dalam diam atau hanya terdengar dari isakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *