Browse By

Trunyan : Rahasia Pemakaman Rakyat Bali

Tengkorak jenazah yang berada di desa Trunyan, Kintamani, Bangli.

Tengkorak jenazah yang berada di desa Trunyan, Kintamani, Bangli.

Membahas wisata magis dan unik yang menjadi salah satu daya tarik pulau Bali. Selain pariwisata yang di dominasi Kabupaten Badung seperti Kuta dan Seminyak, Bali juga memiliki destinasi unik yang terletak di sisi timur Pulau Bali, tepatnya desa Trunyan, Kintamani, Bangli.

Untuk menuju Desa Trunyan, harus menempuh perjalanan kurang lebih 2-3 jam dari Kota Denpasar. Selama perjalanan wisatawan akan disuguhkan pemandangan alam eksotik dari Gunung Batur, salah satu gunung tertinggi yang ada di provinsi Bali. Selanjutnya menempuh perjalanan menggunakan speed boat selama kurang lebih 15-20 menit. Harga sewa speed boat untuk menuju Desa Trunyan dikisaran 700.000/kapal dan termasuk pemandu lokal yang akan mengantar pengunjung berkeliling di Desa Trunyan. Harga sewa spped boat sewaktu-waktu bisa berubah sesuai dengan kebijakan pengelola. Setelah perjalanan panjang dengan dua jenis transpotasi darat dan air, makan akan tiba di depan sebuah gerbang atau gapura yang diberi nama “SemaWayah” atau kuburan yang berada di Desa Trunyan.

Masyarakat Desa Trunyan memiliki prosesi pemakmaan jenazah yang berbeda dari prosesi pemakaman jenazah masyarakat Bali pada umumnya, yang sering dikenal dengan istilah ngaben. Tradisi tersebut yaitu, tradisi mepasah dengan meletakkan jenazah di atas tanah tanpa dikuburkan.

Di tempat ini ada tiga lokasi yang digunakan sebagai tempat penguburan yaitu Sema Nguda, Sema Wayah, dan Sema Bantas. Apabila salah seorang warga Trunyan meninggal secara wajar, mayatnya akan ditutupi kain putih, diupacarai, kemudian diletakkan tanpa dikubur di bawah pohon besar bernama Taru Menyan, di sebuah lokasi bernama Sema Wayah. Namun, apabila penyebab kematiannya tidak wajar, seperti karena kecelakaan, bunuh diri, atau dibunuh orang, mayatnya akan diletakan di lokasi yang bernama Sema Bantas. Sedangkan untuk mengubur bayi dan anak kecil, atau warga yang sudah dewasa tetapi belum menikah, akan diletakan di Sema Muda. (I Wayan Dedi Pranata, 2014)

            Di tengah gempuran modernisasi, Trunyan masih berpengangan dengan tradisi dan menjadi daya tarik yang mendunia. Sampai sekarang tata cara pemakaman yang menarik ini masih dilaksanakan oleh masyarakat Trunyan sendiri dan diwariskan kepada anak cucu secara turun-temurun. (rani)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *