Browse By

Tuwed: Membangun dari Akar

(Sebuah Catatan dari Desa Tuwed, Agustus 2014)

Oleh: Surya Nawaksara*

 

Kantor Perbekel Desa Tuwed.

Pertama kali memasuki Kabupaten Jembrana, yang terlintas dalam pikiran adalah gumi makepung, istilah yang saya dengar semenjak kecil. Terbersit pula kesenian Jegog yang pernah saya saksikan di Denpasar dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) beberapa tahun lalu. Setelah tiga jam lebih dalam perjalanan dari Denpasar (melewati 4 kabupaten yang melelahkan: Denpasar, Badung, Tabanan, baru Jembrana), akhirnya tiba di sebuah desa bernama Tuwed. Dari pusat kota Negara, perlu waktu setengah jam untuk tiba di desa yang terletak di Kecamatan Melaya ini. Memang, lokasinya cukup terpencil. Namun, akses menuju Desa Tuwed masih mudah dijangkau karena melewati jalan utama Denpasar-Gilimanuk.

Sepanjang jalan Desa Tuwed, termasuk jalan-jalan kecil di dalamnya, ternyata apa yang tidak ditemukan di Bali Selatan (Badung, Denpasar) dapat ditemukan di sini. Sebagaimana diketahui, kawasan Bali Selatan sebagai pusat kawasan pariwisata Bali, membuat pembangunan membengkak hanya di kawasan tersebut. Penanaman modal di Kuta Selatan seperti Nusa Dua, Jimbaran, Pecatu, Ungasan, dan Kutuh, misalnya, seolah-olah menunjukkan pembangunan hanya berfokus di sana. Tebing-tebing di pesisir pantai di Kuta Selatan, lahan-lahan pertanian, serta bukit-bukit kapur sudah banyak yang diburu oleh para investor. Mereka sulap tebing-tebing menjadi hotel-villa, lahan-lahan pertanian menjadi beton-beton, bukit-bukit kapur dikeruk dan dipenggal untuk mendatangkan kapital. Syukur, ketika tiba di Desa Tuwed, tidak terasa lagi hiruk pikuk Bali Selatan dengan pembangunan yang tak henti-henti itu.

Desa Tuwed masih cukup asri. Alamnya masih terawat. Kita akan menemukan hamparan nyiur yang hijau di sepanjang desa. Juga sawah-sawah dan lahan perkebunan lainnya yang hilang di kawasan Bali Selatan dapat kita saksikan di desa ini. Beruntung, ketika menginjak desa Tuwed pada 2 Agustus 2014, esoknya kami dapat menyaksikan perlombaan Makepung se-Kabupaten Jembrana yang dibuka langsung oleh Bupati Jembrana, I Putu Artha. Pada waktu yang sama, saya sekaligus dapat menyaksikan lagi pertunjukan Jegog yang berkolaborasi dengan penari joged. Rasanya kami mahasiswa KKN PPM Unud IX seperti mendapat sambutan yang istimewa sebelum melaksanakan kegiatan selama sebulan di Desa Tuwed. Penyambutan yang berkesan.

 

Sekilas Sejarah Desa Tuwed: Dua Peristiwa Pohon

Setiap daerah tentu punya cerita tersendiri. Demikian pula Desa Tuwed. Sayang, buku yang mengupas sejarah lengkap Desa Tuwed yang seharusnya menjadi arsip pemerintah desa tidak ditemukan pasca pembangunan gedung baru Kantor Perbekel Desa Tuwed. Saya pun hanya dapat mengorek informasi via wawancara lisan untuk sekadar tahu sejarah singkat Desa Tuwed. Memang tidak terlalu mendalam, apalagi berpretensi ilmiah ala sejarawan, tetapi tulisan sederhana ini dapatlah kiranya digolongkan sebagai catatan perjalanan.

Menurut Perbekel Desa Tuwed, I Gede C. Mudiana (9 Agustus 2014),  Tuwed dalam bahasa warga sekitar berarti akar pohon atau tonggak. Konon, dahulu terdapat sebuah akar yang muncul di permukaan tanah dan meninggi. Lambat laun, tonggak atau tuwed itu semakin menurun hingga akhirnya menghilang. Cerita kemunculan tuwed itu kemudian melegenda, dan legenda itu diabadikan dengan menamakan daerah itu sebagai Desa Tuwed. Awalnya, Desa Tuwed meliputi wilayah Tukad Aya hingga Candi Kusuma. Karena tergolong luas untuk ukuran sebuah desa, terjadilah pemekaran. Tukad Aya dan Candi Kusuma memisahkan diri dan menjadi desa sendiri-sendiri. Ketika itu, Pura Kawitan Desa dan Puseh letaknya tepat di tengah-tengah Desa Tuwed, sedangkan Pura Dalemnya berada di wilayah Candi Kusuma.

Setelah munculnya tuwed yang melegenda itu, Pak Coblos – demikian I Gede C. Mudiana disapa – juga menuturkan peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di Desa Tuwed. Pernah juga, dahulu (kemungkinan tahun 1970-an karena Pak Coblos hanya ingat ketika itu dirinya masih belasan tahun), sebuah pohon bunut di dekat pura Puseh terbakar. Anehnya, sumber api menjalar dari atas. Saking tingginya, kobaran api bahkan dapat terlihat dari pantai, di sebelah selatan desa.  Yang lebih menakjubkan, kebakaran itu hanya melalap pohon bunut. Sedangkan pelinggih yang ada di bawah pohon sama sekali tidak tersentuh kobaran api.  

Apabila kita perhatikan, Desa Tuwed berangkat dari filosofi pohon secara khusus, dan alam secara lebih luas. Ia lahir dari akar “tuwed” yang vibrasinya menjiwai seluruh kehidupan masyarakat Desa Tuwed. Vibrasi itu tidak hanya disimbolkan dengan akar dalam pengertian sempit, tetapi telah menjadi ruh yang dapat menopang ‘pohon-pohon’ (baca: masyarakat Desa Tuwed) dari kerasnya badai kehidupan. Dua peristiwa pohon: kemunculan akar “tuwed” dan pohon bunut yang berakhir lenyap dalam ketiadaan – yang pertama menghilang dari permukaan tanah dan yang kedua terbakar – tidak berujung pada eksploitasi alam yang menjadi-jadi sebagaimana terjadi di Bali Selatan. Pun dua peristiwa pohon yang menakjubkan itu lebih layak disebut sebagai pesan semesta. Sementara, peran manusia  dalam hal ini hanya berlaku sebagai saksi yang suatu hari memerlukan pemaknaan terhadapnya.

Meskipun dua peristiwa pohon di Desa Tuwed menuju ketiadaan, ternyata masyarakat setempat memaknainya bukan dengan kehilangan spirit pohon yang mengajarkan manusia tentang “cinta yang selalu memberi” (meminjam istilah Gede Prama). Sadar akan ketiadaan pohon yang tersirat dari pesan semesta itu, masyarakat Tuwed memandang perlunya harmonisasi dengan alam. Maka, konservasi lingkungan dilakukan, teknologi pertanian dikembangkan. Lihatlah betapa masih luas lahan pertanian baik basah maupun kering, hamparan pohon kelapa, juga kakao. Belakangan masyarakat Tuwed juga mengembangkan budidaya jamur. Bahkan, sejak tahun 2006, mangrove ditanam dan nantinya akan dikembangkan sebagai tujuan pariwisata.

 

Tuwed Membangun Manusia

Permasalahan terbesar di negara-negara berkembang adalah pembangunan yang hanya terfokus pada infrastruktur dan distribusi kue ekonomi yang tidak merata. Oleh karenanya, ketimpangan sosial menjadi demikian terbuka. Demikian juga kesenjangan antara yang kaya dan miskin semakin menjadi-jadi: yang kaya tambah kaya dan yang miskin semakin miskin atau sengaja dimiskinkan. Hal ini terjadi karena rendahnya perhatian pemerintah terhadap pembangunan manusianya. Pembangunan manusia perlu dilakukan untuk menciptakan manusia-manusia sadar yang pada akhirnya membawa kesejahteraan bangsa secara menyeluruh. Bukanlah kesejahteraan yang hanya dinikmati segelintir elit.

Di sektor pendidikan formal, beberapa warga Desa Tuwed mengaku akan mengusahakan anak-anaknya agar bersekolah setinggi-tingginya. Namun, kendala biaya selalu menghadang. I Made Arsana, warga banjar Puseh, misalnya, baru tahun ini anaknya masuk sekolah dasar. Pak Arsana yang hanya buruh serabutan bekerja ibarat gali lubang tutup lubang. Itupun belum tentu setiap hari mendapat pekerjaan. Ia hanya berharap agar kelak anaknya mendapat beasiswa dari pemerintah. Harapan ini sebenarnya suara-suara yang harus didengar oleh pemerintah untuk kemudian diperjuangkan. Bukankah sebagaimana tertera dalam konstitusi, negara punya fungsi untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara?

Di luar itu, Warga Tuwed sebenarnya juga belajar banyak dari pendidikan non-formal. Pendidikan non-formal di masyarakat menjadi proses membangun solidaritas sosial sebagaimana pernah diulas oleh seorang pakar sosiologi, Emile Durkheim. Pendidikan di masyarakat inilah yang menjadi  media untuk menciptakan keharmonisan agen-agen sosial. Hubungan masyarakat dibangun melalui tradisi-tradisi. Masyarakat Tuwed tidak hanya menjalin hubungan harmonis dengan sesama warga asli Tuwed, tetapi juga dengan etnis-etnis pendatang seperti etnis Jawa, Madura, dan Melayu. Mereka hidup rukun dalam perbedaan. Ini juga bagian dari pendidikan, pembangunan manusia, agar sama-sama menjaga sikap toleransi. Karena dengan begitu, pembangunan manusia telah berlandaskan rasa persatuan dan sikap saling menghargai.

Oleh sebab itu, fokus pembangunan manusia mestilah terus-menerus diperhatikan oleh pemerintah melalui program atau kebijakan-kebijakan yang menyentuh langsung masyarakat di bawah. Setiap daerah, termasuk juga Tuwed, memerlukan sumbangsih pemikiran dari kaum-kaum terdidik untuk membangun rakyatnya ke arah yang mencerahkan. Hanya dengan begitu sebuah bangsa bisa berkembang. Ibaratnya, “pohon besar tidak lupa akarnya” (terima kasih pada iklan rokok di pinggir jalan atas ungkapan ini)! Sebab pada akhirnya, pembangunan manusia tidak lepas dari esensi demokrasi: dari, oleh, dan untuk rakyat itu sendiri.

*Penulis, rakyat kecil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *