Browse By

Wisata Spiritual di Pura Goa Giri Putri

Goa Giri Putri, bak istana megah yang barang kali tidak pernah terpikir ketika mengetahui jalan masuk di bibir goa yang amat sempit.

Takjub! Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan pura yang terletak di Nusa Penida, Kabupaten Klungkung ini. Memasuki lubang goa yang sangat sempit  mengharuskan pengunjung untuk merangkak masuk kedalamnya. Setelah beberapa langkah merangkak di bibir goa, akhirnya perlahan kami dapat berdiri karena sudah memasuki perut Goa yang sangat luas. Kira-kira luasnya sekitar satu lapangan sepak bola.

Masih terkagum-kagum akan keindahan wisata rohani dalam goa tersebut, kami melihat ribuan stalagnit-stalagnit menghiasi atap goa yang meneteskan butiran-butiran air yang kemudian ditampung dalam bak penyimpanan. Setelah beberapa langkah berjalan tibalah kami di Pura pertama yang ada di dalam goa. Kami kembali takjub dengan pemandangan yang dapat kami lihat. Sayang, kondisi di dalam goa agak gelap karena sedikit penerangan membuat kami tidak dapat mengambil gambar secara jelas.

Pemasangan batu sikat yang rapi dan kondisi pura yang bersih menemani perjalanan kami kali ini. Seluruh pura yang terdapat di dalam Goa terawat dengan baik, bersih dan tak satupun sampah berserakan disekitar area persembahyangan. O ya, perjalanan kali ini ditempuh selama 1 jam perjalanan dari Padang Bay menuju Nusa Penida dan 30 menit perjalanan dari Padang Bay menuju Pura Goa Giri Putri.

Pemangku Goa Giri Putri, Dewa Aji mengatakan pengelolaan pura disini dilakukan setiap hari. Begitu pula dengan pemangku yang mengiringi upacara setiap pemedek yang tangkil sehingga Pura Goa Giri Putri selalu terlihat bersih, terawat dan indah. Pura ini sangat cocok sebagai tempat wisata spiritual sekaligus sebagai tempat untuk berlibur mengingat kondisi yang sangat terawat dan bersih.

Perjalanan kami lanjutkan hingga menuju ke bagian ujung goa. Sebelum  keluar,  kami menyempatkan diri untuk melakukan persembahyangan di pura peninggalan agama Budha yakni Dewi Kwan Im, Dewa Langit, dan Dewa Bumi. Tempat pemujaan yang terkahir ini dihiasi balutan kain dan pernak pernik sembahyang berwarna merah.

Akhirnya kamipun keluar dengan perasaan tenang dan ingin rasanya kembali mengunjungi tempat menakjubkan ini. Inilah istana, titipan Sang Pencipta yang harus dijaga umat untuk keseimbangan alam makro dan alam mikro menuju sebuah harmoni. (Bagus Subhaga)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *